Rabu, 07 November 2018

cerpen belum selesai

Aku seperti terbangun dari tidur yang lelap. Segalanya serba memberat. Kepala berat. Otak berat. Hati. Tubuh berat. Ku gerakkan tangan, kaki, lirikan mata ke kanan dan ke kiri, semuanya terasa semu. Detak jantung penuh debaran yang kurasa sesak dalam tiap helaan napas yang terengah-engah.
Telingaku menangkap suara riuh angin yang sedang berpesta di alam raya. Sepertinya mereka sudah lelah dengan kejemuan karena terabaikan. Ada pula suara isak sendu terdengar dengan lirih, perlahan-lahan mengoyak hati yang semakin mendebarkan. Segalanya ini seperti membangunkanku dari sebuah kelelapan tidur yang sangat lama di negeri dongeng sana.
Kubuka mataku perlahan-lahan, seakan kabut masih menggumpal dalam lensa mataku, menggayut berat, dari remang-remang perlahan sepenuhnya mulai jelas. Kutangkap denyar pagi dari kisi-kisi pondok pesanggrahan Pak Diman, nyiur melambai burung-burung yang bernyanyi riang dalam gubug sawah. Pertanda pagi sudah kembali