Aku
seperti terbangun dari tidur yang lelap. Segalanya serba memberat.
Kepala berat. Otak berat. Hati. Tubuh berat. Ku gerakkan tangan,
kaki, lirikan mata ke kanan dan ke kiri, semuanya terasa semu. Detak
jantung penuh debaran yang kurasa sesak dalam tiap helaan napas yang
terengah-engah.
Telingaku
menangkap suara riuh angin yang sedang berpesta di alam raya.
Sepertinya mereka sudah lelah dengan kejemuan karena terabaikan. Ada
pula suara isak sendu terdengar dengan lirih, perlahan-lahan mengoyak
hati yang semakin mendebarkan. Segalanya ini seperti membangunkanku
dari sebuah kelelapan tidur yang sangat lama di negeri dongeng sana.
Kubuka
mataku perlahan-lahan, seakan kabut masih menggumpal dalam lensa
mataku, menggayut berat, dari remang-remang perlahan sepenuhnya mulai
jelas. Kutangkap denyar pagi dari kisi-kisi pondok pesanggrahan Pak
Diman, nyiur melambai burung-burung yang bernyanyi riang dalam gubug
sawah. Pertanda pagi sudah kembali