Jam dinding berdetak menguncahkan hati, membuat hati tak
tenang. Pikiran hanya tertuju pada suara angin dari kipas angin dan suara
ketikan keyboard yang sedang dimainkan oleh Bowo. Perasaanku malam ini sungguh
tak tenang. Keringat dingin yang menyelimuti tubuhku perlahan-lahan melumasi
semua bagian tubuh dari atas sampai kaki. Sore ini aku belum mandi karena air
yang sudah susah akibat kemarau panjang di kota. Tenaga yang sudah sangat lemas
karena segudang aktifitas yang telah dijalani akhir-akhir ini. Perut yang mulai
berbunyi seperti irama drum punk yang sangat anarki dan keras pertanda aku
sangat lapar. Lupa akan makan. Bukan karena hanya alasan kesibukanku yang tak
ada waktu untuk makan melainkan juga alasan aku sudah tak mempunyai uang
sepeserpun malam ini.
Aku mahasiswa perantauan yang tidak banyak memiliki bekal
kekayaan untuk hidup mewah sebagai mahasiswa. Hidup yang terkadang sangat susah
untuk mendapatkan kebutuhan premier. Mahasiswa yang jarang dikasih uang oleh
orangtua, pekerjaan yang tidak begitu menjanjikan sebagai seorang mahasiswa
yang hanya mengandalkan usaha clothing
dan dagang nasi kucing, hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan
kuliah yang terkadang kurang karena tak selalu tiap hari mendapatkan uang yang
cukup, membuat diriku berpikir keras dan menguras banyak tenaga untuk mencari
uang.
Malam ini aku hanya ditemani laptop usangku dan segelas air
putih yang menemaniku untuk menuliskan sebuah ungkapan hati didalam sebuah
tulisan. Sebuah ungkapan hati yang ingin aku luapkan sendiri agar aku bisa
berbagi masalah dan membuat hati sedikit lega melampiaskan semuanya ke dalam
tulisan. Karena aku tak banyak punya teman yang selalu ada untukku dan kekasih
yang menemaniku setiap hari. Hanya tulisanlah yang selama ini menemaniku satu
tahun sudah setia dengan ocehan, keluhan, amarahku kepada dunia.
Malam ini aku ingin menuliskan sebuah ungkapan bahwa aku
sangat lapar dan entah aku harus bagaimana lagi untuk menahannya karena sudah
hampir dua hari aku tak memegang sepeserpun uang. Uangku sudah habis terkuras
karena kebutuhanku yang super banyak dari kemarin. Membeli buku, iuran ini,
itu, membeli perlengkapan sehari-hari, jalan-jalan, dan sebagainya. Uang yang
sangat sulit aku hemat membuatku membeli celengan keramik yang aku beli bersama
temanku saat perjalanan pulang. Aku membeli celengan berbahan keramik karena
aku tidak ingin tergoda dengan sebuah keadaan disaar aku benar-benar tak punya
uang. Aku tak bisa mengambilnya. Celengan yang selalu aku tabung untuk masa
depanku sendiri harus bisa aku tahan untuk tidak memecahkannya karena celengan
yang baru satu minggu aku beli.
Malam ini aku benar-benar sangat lemas, badanku yang panas
karena tenagaku yang sudah terkuras habis untuk kegiatan kemarin yang
bertubi-tubi bertemu dengan orang dan latian yang beruntun membuatku kurang
istirahat. Lengkap sudah malam ini apa yang aku rasakan karena ditambah dengan
hatiku yang sudah sangat kacau akibat seseuatu. Perasaan yang terus ditekan
dengan diamnya seseorang dan yang telah berkali-kali menyakitiku sampai kini
tak pernah mendengarkan keresahan hatiku yang telah diremukkannya. Tak ada
ucapan balasan atau kabar yang datang darinya. Hanyalah sebuah sepi yang aku
rasakan malam ini. Sungguh dalam hati ingin aku hancurkan semuanya yang ada
didekatku, ingin aku amukan semua agar hatiku benar-benar lega telah
melampiaskan segala kekacauan malam ini.
Aku sudah sangat lelah, aku sudah sangat capek, aku sudah
sangat tegang, aku sudah sangat gila, aku sudah sangat lapar, dan aku sudah tak
tahan lagi dengan keadaan malam ini. Mataku sudah sangat merah dan sayu karena
kurang tidur dan air mata yang terus menetes sejak kemarin malam. Sebuah hati
yang dikecewakan berulang kali, sebuah perjuangan yang telah kukorbankan
semuanya sampai aku hampir terjatuh lelah. Semuanya dibayar dengan sebuah diam
dan kekecewaan. Tak ada ending kebahagiaan dan ketenangan yang aku rasakan.
Tiba-tiba hp ku berbunyi diantara jam dinding yang berdetak
dan suara kipas angin yang berputar. Berharap itu bunyi pesan dari seseorang
yang aku tunggu, untuk menolongku dari ketidaktenangan malam, melepaskan
kesedihan malam ini, dan membuat secercah senyuman dari mulutku.
Ternyata itu dari ibu. Ibu hanya menuliskan pesan. “Maaf nak
ibu masih belum bisa mengirim uang untukmu, karena dagangan ibu sedang sepi
sebulan ini, dirumah juga hanya makan nasi sama kerupuk karena hari ini Cuma
mendapatkan uang 2 ribu. bersabarlah nak, kamu pinjam lagi dulu temanmu untuk
makan satu minggu ini ya? Malam ini udah makan belum nak?”.
Seketika aku menangis membaca pesan itu. Entah sebuah
perasaan kesal, marah, atau kasihan dengan ibuku yang jelas aku tak bisa marah
dan kesal karena aku sudah dewasa. Tak harus selalu mengandalkan uang dari
orangtua, tapi aku pun juga bersedih ketika aku mengingat dari kemarin aku bisa
makan enak, mengisi pulsa berkali-kali dan jalan-jalan, tapi aku masih mengeluh
aku tak bisa makan dua hari ini. Sedangkan dirumahpun sedang prihatin. Aku
bersedih dan meneteskan air mata bukan karena aku tak bisa makan malam ini dan
besok. Tapi aku sedih karena aku masih belum bisa bersyukur dan masih mempunyai
rasa kesal kepada ibuku saat ibuku diam tak memberikan kabar untukku. Aku hanya
memikirkan perutku saja, aku hanya memikirkan membahagiaan orang yang aku
cintai saja, tetapi aku lupa untuk membahagiakan ibuku yang disana.
Aku selalu berusaha menjaga perasaan wanita yang aku
sayangi, aku selalu menjaga perasaan teman-temanku, tapi aku lupa untuk menjaga
perasaan ibuku yang sudah berjuang mati-matian untuk menyekolahkanku sampai aku
bisa kuliah. Aku malas untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, aku jarang
berangkat kuliah hanya karena capekku yang tak seberapa.
Dan malam ini pun aku mempunyai ketidak tenangan selain
kabar dari ibuku. Sebuah hati yang merasa hancur berkeping-keping oleh
masalaluku yang terus menghantuiku dan datang hanya untuk menghiburnya saja,
setelah itu hanya diam yang dia balas untukku. Malam ini aku benar-benar capek,
aku ingin lepas dari semua belenggu malam ini, sakit hati, kesedihan, air mata,
tekanan, lapar, amarah, ingin aku buang semuanya. Ingin aku luapkan dengan
penuh. Imajinasiku mulai liar berpikir ingin ku hancurkan semua yang ada
disekitarku agar aku puas meluapkan semuanya. Tapi seketika aku berpikir, pasti
semua teman ksoku akan bingung. Akhirnya hanya tulisan inilahyang dapat aku
luapkan, entah setelah ini aku akan lega atau tidak, dan entah apa yang setelah
ini akan aku lakukan. Yang jelas aku hanya ingin sendiri menikmati semua ini.
Aku ingin istirahat dengan sangat tenang dan aku ingin melepaskan semuanya dan
jika Tuhan menghendaki aku ingin melepaskan roh ini dari raga yang sudah sangat
lelah menjalani ini. Aku hanya pria yang hampir putus asa dengan keadaan yang
terus kembali terulang seperti ini. Aku benar-benar sangat lelah menahan semua
sakit ini. Baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.
02 Oct 2015, 23.12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar