Jumat, 02 Oktober 2015

Menuju Ketenangan, untuk melepas lelah

Jam dinding berdetak menguncahkan hati, membuat hati tak tenang. Pikiran hanya tertuju pada suara angin dari kipas angin dan suara ketikan keyboard yang sedang dimainkan oleh Bowo. Perasaanku malam ini sungguh tak tenang. Keringat dingin yang menyelimuti tubuhku perlahan-lahan melumasi semua bagian tubuh dari atas sampai kaki. Sore ini aku belum mandi karena air yang sudah susah akibat kemarau panjang di kota. Tenaga yang sudah sangat lemas karena segudang aktifitas yang telah dijalani akhir-akhir ini. Perut yang mulai berbunyi seperti irama drum punk yang sangat anarki dan keras pertanda aku sangat lapar. Lupa akan makan. Bukan karena hanya alasan kesibukanku yang tak ada waktu untuk makan melainkan juga alasan aku sudah tak mempunyai uang sepeserpun malam ini.
Aku mahasiswa perantauan yang tidak banyak memiliki bekal kekayaan untuk hidup mewah sebagai mahasiswa. Hidup yang terkadang sangat susah untuk mendapatkan kebutuhan premier. Mahasiswa yang jarang dikasih uang oleh orangtua, pekerjaan yang tidak begitu menjanjikan sebagai seorang mahasiswa yang hanya mengandalkan usaha clothing dan dagang nasi kucing, hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kuliah yang terkadang kurang karena tak selalu tiap hari mendapatkan uang yang cukup, membuat diriku berpikir keras dan menguras banyak tenaga untuk mencari uang.
Malam ini aku hanya ditemani laptop usangku dan segelas air putih yang menemaniku untuk menuliskan sebuah ungkapan hati didalam sebuah tulisan. Sebuah ungkapan hati yang ingin aku luapkan sendiri agar aku bisa berbagi masalah dan membuat hati sedikit lega melampiaskan semuanya ke dalam tulisan. Karena aku tak banyak punya teman yang selalu ada untukku dan kekasih yang menemaniku setiap hari. Hanya tulisanlah yang selama ini menemaniku satu tahun sudah setia dengan ocehan, keluhan, amarahku kepada dunia.
Malam ini aku ingin menuliskan sebuah ungkapan bahwa aku sangat lapar dan entah aku harus bagaimana lagi untuk menahannya karena sudah hampir dua hari aku tak memegang sepeserpun uang. Uangku sudah habis terkuras karena kebutuhanku yang super banyak dari kemarin. Membeli buku, iuran ini, itu, membeli perlengkapan sehari-hari, jalan-jalan, dan sebagainya. Uang yang sangat sulit aku hemat membuatku membeli celengan keramik yang aku beli bersama temanku saat perjalanan pulang. Aku membeli celengan berbahan keramik karena aku tidak ingin tergoda dengan sebuah keadaan disaar aku benar-benar tak punya uang. Aku tak bisa mengambilnya. Celengan yang selalu aku tabung untuk masa depanku sendiri harus bisa aku tahan untuk tidak memecahkannya karena celengan yang baru satu minggu aku beli.
Malam ini aku benar-benar sangat lemas, badanku yang panas karena tenagaku yang sudah terkuras habis untuk kegiatan kemarin yang bertubi-tubi bertemu dengan orang dan latian yang beruntun membuatku kurang istirahat. Lengkap sudah malam ini apa yang aku rasakan karena ditambah dengan hatiku yang sudah sangat kacau akibat seseuatu. Perasaan yang terus ditekan dengan diamnya seseorang dan yang telah berkali-kali menyakitiku sampai kini tak pernah mendengarkan keresahan hatiku yang telah diremukkannya. Tak ada ucapan balasan atau kabar yang datang darinya. Hanyalah sebuah sepi yang aku rasakan malam ini. Sungguh dalam hati ingin aku hancurkan semuanya yang ada didekatku, ingin aku amukan semua agar hatiku benar-benar lega telah melampiaskan segala kekacauan malam ini.
Aku sudah sangat lelah, aku sudah sangat capek, aku sudah sangat tegang, aku sudah sangat gila, aku sudah sangat lapar, dan aku sudah tak tahan lagi dengan keadaan malam ini. Mataku sudah sangat merah dan sayu karena kurang tidur dan air mata yang terus menetes sejak kemarin malam. Sebuah hati yang dikecewakan berulang kali, sebuah perjuangan yang telah kukorbankan semuanya sampai aku hampir terjatuh lelah. Semuanya dibayar dengan sebuah diam dan kekecewaan. Tak ada ending kebahagiaan dan ketenangan yang aku rasakan.
Tiba-tiba hp ku berbunyi diantara jam dinding yang berdetak dan suara kipas angin yang berputar. Berharap itu bunyi pesan dari seseorang yang aku tunggu, untuk menolongku dari ketidaktenangan malam, melepaskan kesedihan malam ini, dan membuat secercah senyuman dari mulutku.
Ternyata itu dari ibu. Ibu hanya menuliskan pesan. “Maaf nak ibu masih belum bisa mengirim uang untukmu, karena dagangan ibu sedang sepi sebulan ini, dirumah juga hanya makan nasi sama kerupuk karena hari ini Cuma mendapatkan uang 2 ribu. bersabarlah nak, kamu pinjam lagi dulu temanmu untuk makan satu minggu ini ya? Malam ini udah makan belum nak?”.
Seketika aku menangis membaca pesan itu. Entah sebuah perasaan kesal, marah, atau kasihan dengan ibuku yang jelas aku tak bisa marah dan kesal karena aku sudah dewasa. Tak harus selalu mengandalkan uang dari orangtua, tapi aku pun juga bersedih ketika aku mengingat dari kemarin aku bisa makan enak, mengisi pulsa berkali-kali dan jalan-jalan, tapi aku masih mengeluh aku tak bisa makan dua hari ini. Sedangkan dirumahpun sedang prihatin. Aku bersedih dan meneteskan air mata bukan karena aku tak bisa makan malam ini dan besok. Tapi aku sedih karena aku masih belum bisa bersyukur dan masih mempunyai rasa kesal kepada ibuku saat ibuku diam tak memberikan kabar untukku. Aku hanya memikirkan perutku saja, aku hanya memikirkan membahagiaan orang yang aku cintai saja, tetapi aku lupa untuk membahagiakan ibuku yang disana.
Aku selalu berusaha menjaga perasaan wanita yang aku sayangi, aku selalu menjaga perasaan teman-temanku, tapi aku lupa untuk menjaga perasaan ibuku yang sudah berjuang mati-matian untuk menyekolahkanku sampai aku bisa kuliah. Aku malas untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, aku jarang berangkat kuliah hanya karena capekku yang tak seberapa.

Dan malam ini pun aku mempunyai ketidak tenangan selain kabar dari ibuku. Sebuah hati yang merasa hancur berkeping-keping oleh masalaluku yang terus menghantuiku dan datang hanya untuk menghiburnya saja, setelah itu hanya diam yang dia balas untukku. Malam ini aku benar-benar capek, aku ingin lepas dari semua belenggu malam ini, sakit hati, kesedihan, air mata, tekanan, lapar, amarah, ingin aku buang semuanya. Ingin aku luapkan dengan penuh. Imajinasiku mulai liar berpikir ingin ku hancurkan semua yang ada disekitarku agar aku puas meluapkan semuanya. Tapi seketika aku berpikir, pasti semua teman ksoku akan bingung. Akhirnya hanya tulisan inilahyang dapat aku luapkan, entah setelah ini aku akan lega atau tidak, dan entah apa yang setelah ini akan aku lakukan. Yang jelas aku hanya ingin sendiri menikmati semua ini. Aku ingin istirahat dengan sangat tenang dan aku ingin melepaskan semuanya dan jika Tuhan menghendaki aku ingin melepaskan roh ini dari raga yang sudah sangat lelah menjalani ini. Aku hanya pria yang hampir putus asa dengan keadaan yang terus kembali terulang seperti ini. Aku benar-benar sangat lelah menahan semua sakit ini. Baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

02 Oct 2015, 23.12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar