Buat apa belajar agama
jika saling menghina dan mencela satu sama lain. antar sesama saudara saling
membandingkan yang terbaik dan menyalahkan salah satu dari yang lainya.
Dahulu nabi Muhammad
berusaha keras dan berjuang untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan
mengajak lewat kebenaran-kebenaran. Tapi sekarang orang sudah banyak yang masuk
islam dan beragama malah manusia sendiri yang mengkafirkan seseorang yang sudah
masuk islam. Dibilang ini bid’ah lah,dibilang ini salah lah, dibilang ini
menambanh-nambahin sunnah. Semua saling mengkafirkan oranglain. Sesungguhnya
yang berhak berkata kafir adalah Allah bukan manusia. Kita hidup beragama dan
beragam budaya. Umat non muslim memang bukan orang muslim sesuai yang diajarkan
oleh nabi Muhammad. Tetapi sebagai manusia kita pun tak berkak langsung
mengucapkan bahwa ora itu kafir. Kita tak berkah berkata kasar seperti itu
walaupun kita mengetahui ilmu agama lebih dalam dan dianggap sebagai kiai
sekalipun. Mulutmu harimaumu. Buat apa belajar agama islam jika akhlak seperti
itu?
Katanya muslim, tapi
kenapa engkau masih bisa tersenyum ketika salat kamu tinggalkan?
Banyak orang belajar
agama secara dalam dan mendalami banyak ilmu yang didapat, tetapi akhlak tak
kunjung berubah. Hampir seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Buat apa
belajar agama islam?
hidup di Indonesia sekarang sudah menjadi hal wajib jika ditanya diantara dua golongan ini. Keduanya memang berbeda cara pengajarannya tetapi keduanya pun mengamalkan ilmu secara baik, tapi kenapa justru saling menghina dan menyalahkan. Qunut dibilang salah menambah-nambah gerakan salat, yasinan dianggap bid’ah, ziarah kubur dianggap musrik, buat apa belajar agama islam jika kita pun masih saling mencela, mengkafir-kafirkan golongan lainnya sesama saudara.
hidup di Indonesia sekarang sudah menjadi hal wajib jika ditanya diantara dua golongan ini. Keduanya memang berbeda cara pengajarannya tetapi keduanya pun mengamalkan ilmu secara baik, tapi kenapa justru saling menghina dan menyalahkan. Qunut dibilang salah menambah-nambah gerakan salat, yasinan dianggap bid’ah, ziarah kubur dianggap musrik, buat apa belajar agama islam jika kita pun masih saling mencela, mengkafir-kafirkan golongan lainnya sesama saudara.
Saya dilahirkan dari
keluarga yang jauh dari ilmu agama. Jadi keluarga kami memang tak pernah harus
mengikuti si biru atau sihijau. Karena keluargaku hanya mengikuti apa yang
menurutnya baik diikuti dan yang menurut itu kurang pas buat kami untuk
beribadahpun tidak dilakukan, tidak saling mendebat salah satu diantaranya
bagus yang mana, tapi kenapa orang-orang yang jauh lebih pintar yang fanatik
justru saling mencela, dan menyalahkan salah satu diantaranya? Kenapa juga
harus memilih salah satu diantaranya, jika memang tidak diantara keduanya
kenapa? Apakah kami juga bisa disebut orang yang plinplan sehingga dianggap
kafir? Begitu?
Buat apa belajar agama
islma jika kita masih saling memperdebatkan hal yang tidak didebat oleh
pendahulu kita, tapi kita jsutru saling membuatnya menjadi ribet dan kacau?
Buat apa belajar agama
sampai dipondok dan sampai mengikhlaskan segalanya demi Allah, kalau akhlak
kita pun masih belum diperbaiki, secara ilmu pintar tetapi tak diamalakn bahkan
saling menyakiti antar sesama, berkata semuanya hanya untuk Allah dan
meninggalkan urusan duniawinya istri dan anak ditelantarkan. Buat apa belajar
agama islam jika kita masih belum bisa hidup bersosial?
Banyak orang yang belajar
hadits-hadits sampai mereka lupa Alquran. Dan justru mengutamakan dan saling
mendebat hadits-hadits mana yang sahih dan mana yang qata, tetapi lupa belajar
mengartikan makna dari Alquran itu sendiri dan hanya berpatok pada hadits saja
yang belum tentu yang mereka debatkan benar.
Banyak orang yang rajin
menjalankan sunnah-sunnahnya seperti tahajud, dhuha, puasa senin kamis, tetapi
kewajibanya sendiri dilupakan bahkan sampai lupa ditinggalkan. Seperti salah
tahajud dan berdoa dari jam 2 pagi sampai jam 4, tetapi subuh justru pukul 6,
kita terlena oleh shalawatan sampai lupa adzan isya dilalaikan dan tidak
didahulukan, kita puasa senin kamis demi meminta sesuatu tapi puasa wajib
ramadan tak sempurna.
Banyak orang yang munafik
seperti saya contohnya. Belajar agama hanya untuk memenuhi keingina orangtua
karena dituntut, karena ada orang yang kita sukai jadi terlihat rajin, sok tahu
tentnag agama tapi penerapannya kosong, bahkan ada yang mengakui ustad tetapi
saling menyalahkan oranglain dan akhlak sendiri kacau. Buat apa belajar agama
islam jika sepeeti itu?
Apakah hidup didunia ini
perlu hanya mempelajari tanpa mengamalkan?
Apakah agama islam hanya
dijadikan sebuah identitas saja?
Apakah islam mengajarkan
kita saling mencela dan mengkafirkan orang lain?
Sebaiknya kita sebagai
umat islam saling menguatkan dan membentuk pertahanan keimanan kita sehingga
kita bisa melawan kerasnya dunia sekarang. Dunia yang penuh dengan kehancuran
umat islam.
Saya sering kurang
percaya dengan orang-orang yang mengaku dia ustad, kiai, bahkan mengaku habib.
Karena pengalaman saya mempercayai ucapan orang yang mengaku pintar tersebut.
Saya mengamalkan dengan polosnya karena kurangnya ilmu agama yang saya
pelajari, tak tahu mana yang baik dan tak tahu mana yang salah. Hingga saya
terjeremus pada aliran yang kurang begitu pas untuk islam. Mengutamakan sunnah
dan melalaikan kewajiban. Mengajarkan untuk saling menyalahkan golongan lain
dan menganggap golongan sendiri adalah yang paling benar. Bahkan menjadi orang
yang jarkoni, memerintahkan yang baik untuk kita dan sampai menyalahkan gerakan
aliran lain, justru dia sendiri lebih buruk dari orang awam seperti saya.
seperti orang yang mengaku pintar berkata salat yang benar adalah saling
berdempet kakinya, karena jika tidak akan didekati setan, jika kita diajarkan
untuk tidak seperti itu oleh golongan tertentu berarti golongan itu salah. Tapi
nyatanya dia sendiri yang berkata seperti itu tidak melakukannya dan tak sadar,
padahal ucapan dia sampai menyalahkan golongan lainnya dan bilang ini yang
paling sahih dan yakin paling benar.
Saya pernah bertemu
dengan orang yang agamanya hebat menjabat sebagai ketua dari aliansi tertentu
yang bersifat islam, dia rajin ke masijd dan salat berjamaah, hafalannya joss,
dan mengaji one day one juz, tapi justru dia melupakan hal yang sepele dan hal
yang sangat kecil. Katanya hebat dan sering ke masjid, tetapi dia sampai lupa
masuk masjid memakai kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. Hal sepele saja
dia melupakan berarti dia tidak sadar dia masuk ke masjid lilahhita’ala.
Salat berdua dan tak
berani mengimami siperempuan yang bukan mukhrimnya dianggap tak berani menjadi
imam, apakah sesepele itu islam? Saya mengakui saya pernah pacaran dan pernah
melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dari hal terkecil sampai besar. Tetapi jika
dalam urusan beribadah saya tidak ingin diikutcampurkan dalam dosaku. Biar saja
dianggap tak berani menjadi imamnya dan saya lebih takut jika itu urusannya
dengan ibadah.
Saya sangat bingung
dengan semuanya, dan saya sampai sekarang sangat bingung untuk belajar agama
islam. Jika saya belajar agama islam terlalu dalam, saya masih takut untuk
terjerumus pada kesalahan jika guru yang saya ikuti ternyata salah, tapi jika
tidak ada niatan untuk memperdalam agama dan tidak ingin belajar agama islam,
saya termasuk orang yang bodoh dan kosong hanya menyembah tanpa tahu. Terus
jika seperti kapan saya bisa maju?
Saya sungguh bingung
dengan semuanya. Itulah mengapa saya masih awan belajar agama islam secara baik
dan cetek ilmu agama. Tolong ajarkanlah saya. ajarkanlah saya agar mendapat
guru yang baik dan menghilangkan perasaan suudzon terhadap seseorang dan rasa
ketidakpercayaan terhadap ajaran-ajaran manusia yang belum begitu saya yakini
benar. Tuntunlah jalan hamba-Mu ini ya Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar