| Naskah Drama Topeng Kayu by Kuntowijoyo |
Setelah sekian lama aku tak bertemu dengan teman-temanku dan semua orang yang ingin aku temui, kini harus kumulai kembali dengan senyuman pasi yang terasa asing karena lama tak berbaur dengan mereka. Sebuah perasaan yang kurang baik. Kuawali pagi hari ini dengan bermimpi. Entah mimpiku kembali mengingat pada masalaluku.
"Sempat berpikir aku sudah bisa melupakannya. Wanita yang pernah menjadi penyemangat hidupku dan sebuah anugerah terindah pernah bersama. Mungkin karena keadaan yang memang bisa membantu setelah dia mengulangi kesalahannya untuk memutus kontak. Entah apa yang dia pikirkan pada akhirnya dia selalu mengulangi kesalahannya yang begitu fatal karena memutus kontak hanya demi cinta. Memutus tali silaturahmi yang pernah ia akui salah, kini harus ia lakukan lagi demi membahagiaan orang yang ia cintai, mengorbankan segalanya untuk cinta bahkan karena kebutaan cintanya.
Sempat ku berpikir mungkin inilah awal yang baik untuknya, ketika aku kembali ia buang dan putuskan kontak. Semua akan menjadi kebahagiaan yang telak baginya. Jika aku sebagai orang yang tulus menyintai dia, pasti apa yang ia putuskan adalah putusan yang baik pula untukku demi kebahagiaanya. Ketika sekarang memutus kontak. Tanpaku ia akan jauh lebih bahagia tanpa gangguan ancaman hubungan yang rusak karena adannya diriku, ia jauh lebih nyaman menjalani cintanya tanpa kedatanganku yang selalu merusak keadaan dan menyakitinya. Ia lebih bahagia dengan orang yang ada untuknya dan sangat menyayanginya, membuatnya selalu bahagia dan tertawa, tak ada lagi kesedihan dan rasa bersalah lagi untuknya, ia lebih baik lagi karena ada orang yang jauh lebih sempurna dariku yang bisa membimbingnya lebih dewasa, lebih mandiri, lebih bisa menjaga emosi, bahkan menuntunya menuju kebaian ketimbang saat aku masih ada dihidupnya. Ia lebih salehah karena ia memiliki orang yang terus membawanya pada jalan yang benar, tanpa maksiat lagi, bisa menjaga dirinya lagi, bahkan tak menodai dan merusaknya lagi untuk direndahkan karena sebuah pacaran dan cinta ketimbang saat bersamaku, aku adalah orang yang paling jahat. Ia akan selalu bahagia dan tersenyum karena tak ada lagi aku yang selalu membuatnya menangis dan kecewa.
Mungkin semua itu adalah keputusan yang sangat baik untuknya jika memutus kontak denganku adalah hal yang paling baik untuk kebhagiaannya, walaupun sempat ku merasakan kecewa bahkan sampai benar-benar membencinya ketika ia kembali datang saat membutuhkanku lalu ia kembali memutuskan hubungan bahkan saat aku membutuhkannya dia abaikan begitu saja dan tak peduli dengan orang yang membutuhkannya karena kebahagiaanya sendiri. Sempat aku merasa kecewa karena sampai sosmedku pun ia blok semua dan benar-benar memutuskan tali silaturahmi kembali demi menjaga hubungan cintanya.
Sebuah kesalahan yang kembali ia lakukan kembali saat semuanya akan ia rasakan sendiri nantinya. Karena ketika ia memutuskan hubungan dan tali silaturahmi maka ia akan terkena sebuah kehilangan. Satu silaturahmi ia putuskan, dan bahkan sempat ia mengakui kesalahan tapi pada akhirnya kembali ia lakukan tanpa bisa belajar dari pengalaman sebelumnya. ia sudah memutuskan satu tali pintu rezekinya sendiri hanya demi laki-laki, ia putuskan satu ketenangan hidup yang akan ia dapatkan kelak karena memutuskan tali silaturahmi demi cinta pula, bahkan ia mengorbankan orang dan menyakiti satu insan demi mempertahankan mati-matian hubungan cintanya. Satu hal yang aku takutkan ketika ia melakukan itu lagi padaku yang dahulu sempat berjanji untuk memperbaikinya, adalah aku menjadi orang yang jahat dan mengumpat padanya dan menyumpahinya karena kemarahanku yang besar diawal cerita ia putuskan hubungan kembali. Ia akan mendapatkan balasannya sendiri suatu saat nanti dan belum sempat ia meminta maaf kepada orang yang ia sakiti, pada akhirnya dibawa mati. Hal itulah yang kupikirkan saat itu. Disaat mungkin aku yang sebagi orang yang diputus dan disakitinya karena memutuskan tali silaturahmi demi cinta, sedang mengalami musibah yang menjadikan keputus asaan, tetapi aku masih belum berpikir jernih dan menganggap semua itu adalah kebutaanya pada cinta sehingga ia lakukan kesalahannya kembali.
Dan kini aku sadar, semua itu adalah bentuk alasan untuk membahagiaannya, karena ketika masih adanya aku dihidupnya, ia tak akan pernah bahagia. Itulah pilihan yang terbaik untuknya sehingga ia dapat hidup dengan bahagia terlepas dari aku orang yang paling jahat yang pernah ia kenal. Bodohnya aku baru menyadari semua itu, karena aku hanya selalu dikuasai oleh amarah yang membuat keputusan ini menyakitiku adalah keburukan. Kini aku sudah menyadarinya dan jika ini adalah jalan yang terbaik untuknya memutuskan hubungan denganku selamanya dan mengulangi kejadian dahulu. Aku akan memaafkan semuanya walaupun cari ini salah, entah ia akan kembali datang untuk meminta maaf atau bahkan tak akan pernah kembali untuk meminta maafpun sudah kumaafkan semuanya, semoga apa yang ia putuskan benar-benar akan membuatnya bahagia. Tak ada lagi bayang-bayang dariku lagi dan rasa bersalah lagi. Tak ada lagi teringat aku yang jahat ini, tak ada lagi kegelisahan dan penyesalan ketika akupun mungkin tak bisa ditemui lagi bahkan tak ada lagi didunia, sudah kumaafkan semua. Aku tahu itu semua adalah cara yang terbaik untuk kebaikanmu.
teruntukku pun juga."
Tepat dihari awal ku mulai masuk kuliah ini, kembalilah perasaanku kembali, entah kenapa aku kembaliu merindukannya, dan ingin mengetahui kabarnya, tapi aku sadar dengan semua penjelasanku tadi, memutuskan hubungan dan lepas dari hidupku adalah kebahagiaanya. Kini entah kenapa perasaanku kembali padanya dan sangat merindukannya. Ada pikiran dalam benak aku tak akan bisa lupa ia telah membuangku kembali dan memutuskan kontak selamanya yang membuatku benci padanya, semua pikiran itu agar aku bisa benar-benar melupakannya dan tak memiliki perasaan sedikitpun, tapi kenapa semua itu harus dihadirkan kembali dalam mimpiku yang sempat bisa lepas dari bayangnya. Rinduku ini tak pernah bertepi dan selalu kembali hadir. Takdir apa yang harus aku rasakan saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar