Rabu, 30 Januari 2019

Lara (part 1)

Malam ini ku dengarkan lirih suara dalam laptopku "Ketika senja datang ku merasakan setengah diriku menghilang, bagaikan tak berdosa kau hancurkan rasa yang selama ini kutanam. Saat semuanya tlah pergi, bayangmu kembali mengisi, entah apa yang kau mau ku tak berhak lagi tuk mengungkit lagi. Menghapus luka yang pernah kau lukis di kanvas hatiku, merobek semua bayangan yang tampak direlung sukmaku........"
Sebuah lagu dari Dialog senja berjudul Lara. Lagu yang mengalun tanpa sengaja saat laman youtube yang aku buka memutar acak setelah menyetel lagu dari Figur Renata. Sesaat tanpa sengaja ku menyesapi setiap lirik dalam lagu tersebut, sambil memandang ke arah jendela tepat sang awan sedang menangis membasahi malam ini.
Ada sebuah bait-bait ingatan yang masuk dalam pikiranku malam ini, sebuah rasa ketika sedang mengalami jatuh hati lalu terluka, mengingat pernah memiliki bahagia dan canda dari orang yang aku sayangi kala itu. Renyah terdengar senyuman dan tawa yang selalu menggiringku dalam setiap keceriaan senja kala itu di Semarang.
Senja kala itu di sebuah pantai Semarang, meskipun sampah membanjiri setiap pinggir pantai, aku tetap menikmati senja itu bersama hal yang bisa disebut bahagiaku.
Dalam pikiranku berbicara, terkadang kita perlu jatuh hati pun perlu patah hati hati, karena dengan begitu kita punya cerita dalam setiap tawa dan duka diwaktu tertentu, dan bisa menjadi nostalgia saat kita sedang kesepian ataupun bosan dengan kejenuhan hidup yang aku pikir sumpek untuk dirasakan dalam hati. Dengan merenung sejenak menikmati malam beserta hujan yang jatuh pada malam kedua tahun baru ini. Merebahkan segala penat dalam tubuh serta pikiran yang gusar akan masadepan.
Mengingat masa-masa dimana dulu, aku pernah sangat menikmati hidup bersama hati. Ya, kala itu aku memiliki hati dan hatipun dimiliki olehku. Bahagiaku, cahayaku, semangatku yang membuatku menikmati setiap proses belajar di kota orang. 
Di dalam hening yang menangis terlalu dalam ini, aku menyesapi segala rinduku akan segala kesalahan yang pernah aku rasakan. Pertikaian antar dua manusia yang saling jatuh cinta, terbuai ego hingga saling posesif dan merasa sebuah cinta adalah segalanya yang bisa membuat hidup bahagia serta menghancurkan dunia. Melakukan segala kesalahan-kesalahan kecil saat usia memang sedang labil-labilnya sebagai insan yang menikmati merah jambu. 
Cerita itu sungguh melukiskan kanvas hatiku yang terbaik dan diwaktu yang selalu beriringan dengan apa yang sedang aku ingin aku tulis dalam kanvas tersebut. Sebuah perasaan kasih yang aku rasa itu benar nyata apa adanya tanpa ada hal-hal semacam alasan karena kecantikan wanita, keramahan seorang perempuan, ataupun kebaikan yang dimiliki suatu insan. Perasaan itu sungguh murni meski sedikit dikotori dengan noda-noda gombal yang selalu tercetus saat bersama. Tidak ada alasan bisa memiliki perasaan tersebut, alasanku untuk tersenyum karena hadirnya dia dalam kehidupanku. Setiap hela nafasku selalu terasa nyaman.
Setiap keceriaan pasti pula sering terjadi kesedihan. Kesedihan akan perasaan yang terlampau besar sehingga mengakibatkan rasa tidak rela jika sebuah perasaan untukku harus dibagi. Sebuah sakit hati karena ada fase dimana rasa bosan itu terjadi disalah satu insan yang saling menjalin kisah cinta.
Fana memang yang terjadi saat itu sudah tidak akan bisa kembali lagi, namun masih selalu ada memori yang terkadang terbuka diwaktu yang tidak kita tentukan juga. Sebuah kisah dimana aku bisa menikmati fase dalam kehidupan.
Kini pun saat aku merasakan perasaan itu hadir dalam ingatan, aku hanya bisa tersenyum lalu menundukan kepala seraya mendoakan hal yang sudah pergi. Dan malam ini aku menikmati kesunyian ini. Dengan segala nostalgia dalam pikiranku. Sedikit melupakan penat hidup yang sekarang sudah sangat berbeda tak sesantai dulu. Kehidupan semakin lama semakin menjadi hal yang tidak bisa dinikmati lagi. Hingga tiba mataku mulai berat dan merobohkan tubuhku dalam kasur dekat jendela kamarku. 
Lagu dalam youtube yang masih memutar secara acak, mulai memutarkan sebuah lagu yang mengantarkanku untuk tidur. Lagu yang sedang diputar dari Payung Teduh berjudul Tidurlah mengakhiri cerita malam ini bersama pejaman mataku yang mulai terlelap.


Bersambung.....

Senin, 21 Januari 2019

Kosong (Hidup segan, mati pun belum)

Ada kisah yang harus dilupakan. Ada cinta yang harus diikhlaskan. Ada kamu yang harus ku hapuskan.

Kadang hidup ini tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, bahkan kita hanya bisa mengkhayal untuk mengabulkan apa yang kita inginkan tapi tidak pernah kita dapatkan. Seperti halnya sebuah cerita hati. Tidak ada kasmaran yang lepas dari terluka. Tidak ada kebahagiaan yang lepas dari kesedihan. Semua itu bersatu dan tak pernah terpisahkan. Jika yang didapati hanyalah salah satu diantara mereka, berarti itu tidak nyata. Perlu kau pertanyakan dengan hidupmu yang palsu.
Hidup memang selalu mengalami dua fase, bisa dikatakan fase ples dan fase minus. Anggap saja seperti itu, intinya hidup yang ideal adalah hidup yang balance. Kita akan selalu mengalami kedua fase tersebut.
Kali ini, aku benar-benar tidak tahu berada pada fase apa, yang jelas aku merasa tidak punya keinginan apapun, seakan-akan hidup segan mati tak mau. Aku mengalami kebosanan dalam menjalani hidup. Aku bosan untuk tidur, aku bosan untuk duduk, dan aku bosan untuk berdiri. Entah mungkin aku ingin terbang, karena hal tersebut yang belum pernah aku lakukan selama hidup. Lagi-lagi imajinasilah yang bermain dengan hatiku. Karena satu-satunya yang dapat menjawab semuanya hanya imajinasiku. Tak akan ada orang yang bisa mengerti dan kompromi untuk berbagi cerita.
Saat ini aku sedang merasakan, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, aku tidak punya tujuan hidup setelahnya akan apa. Seperti dulu saat masih mengerjakan skripsi. Saat skripsi, aku selalu mengejar waktu dan mempunyai target harus selesai tepat pada waktu yang saya tentukan sendiri, hingga pada akhirnya aku mencapai hal tersebut dan bisa menunggu saat-saat sidang. Saat sidang aku pun menanti dan memikirkan setelah ini aku harus menyiapkan berkas persiapan wisuda. Dan hal tersebutpun sudah ditargetkan dan dibayangkan harus bagaimana selanjutnya, hingga setelah wisuda datang aku bmasih berpikir setelah ini aku harus apa. 
Dari urutan tersebut hidupku masih mempunyai target kedepan, ada hal yang ingin dinantikan dan ditunggu-tunggu, hingga pada akhirnya setahun kemudian tepatnya saat ini aku benar-benar merasakan buntu. Entah apa yang akan kulakukan selanjutnya, aku tidak peduli lagi dengan waktu yang terus berputar dan tanggalan yang selalu berganti hari demi hari kulewati tanpa memiliki tujuan arah yang jelas. Entah saat ini aku tidak memikirkan hal-hal untuk masadepan lagi. Serasa hidupku kacau, tapi bukan kacau karena tertekan banyaknya masalah maupun datang ujian hidup yang memberatkan. Namun, ini lebih berat lagi karena ketika kita sedang memiliki masalah dan merasa kacau dengan hidup pasti kita masih memikirkan bagaimana untuk lepas dari masalah tersebut untuk kedepannya. Namun, ini seperti aku tidak punya masalah aku pun tidak punya kebahagiaan. Hidup berasa hampa, seakan-akan untuk apa hidup selanjutnya. Dan aku memahami segalanya yang sedang terjadi. Semua itu karena aku tak lagi memiliki tujuan hidup dan tak punya harapan apapun. Seperti manusia yang tidak mempunyai hati dan perasaan. Aku sangat sadar ternyata sebuah perasaan sangat berpengaruh kepada hidup yang flat.
Ketika kita merasa jatuh cinta bahkan sedang cinta-cintanya dengan sesuatu, pasti kita mempunyai tujuan untuk mendapatkannya dan berharap kebahagiaan, pun sama ketika kita sedang merasa terluka karena patah hati, karena apa yang kita inginkan mengecewakan, kita pasti memiliki tujuan untuk melupakan, punya keinginan untuk berharap luka itu mengering dan kembali bahagia. Semua itu jelas mewarnai kehidupan yang seimbang. Dan saat ini aku tidak merasakan apapun itu. Hidupku hampa dan tidak punya tujuan apapun lagi untuk hidup. Aku tidak punya alasan apapun lagi untuk meneruskan hidup. Aku tidak punya keinginan, aku tidak punya tujuan, aku tidak punya semangat, aku tidak punya beban dan luka, aku tidak punya target, dan aku tidak punya kenangan yang tertinggal. Seakan-akan semuanya terlupakan. Kisah cinta, luka dan bahagia. Kisah perjalanan hidup dari sekolah sampai berkuliah ke luar kota. Kisah persahabatan dengan orang-orang dekat. Bahkan aku merasa tidak memiliki siapa-siapa, bahkan sosial media pun sudah jarang aku pakai untuk bermain, stalking, bahkan untuk berkomunikasi dengan semua orang. Aku menjadi over introvert didalam kamar. Dianggap gila, aku masih waras, dianggap mati aku masih bernafas, dianggap kerasukan jin aku masih sadar untuk beribadah. 
Mungkin semuanya kembali pada parangraf pertama diatas. Semua sudah kulupakan. Bahkan aku sempat mempunyai tujuan hidup untuk menghapuskan yang sudah terjadi, sampai dengan apa yang sudah aku rasakan. Aku pernah memiliki kekasih yang mati, aku sudah melupakan hingga aku mencintai seseorang yang sempat menjadi adik bagiku pun sudah ku lupakan. Hingga kini aku seperti memori card yang terformat bersih tanpa isi dan tergeletak tak lagi terpakai namun tidak rusak. Kosong dan tak dibutuhkan, namun masih berfungsi.

Selasa, 01 Januari 2019

Harapan

Kembali dipertemukan dengan 1 Januari. Kali ini sama hanya berganti tahunnya saja. Tiap tahun aku enggan untuk melihat keramaian secara langsung, hanya ingin menyendiri menikmati malam sambil melihat teman-teman asik dengan dunianya lewat media sosial. Terkadang ada sahabat yang mengajakku untuk pergi bersama saja sudah sangat senang meski selalu aku tolak. Karena mungkin hanya basa-basi saja menawarkan ia masih menganggapku sebagai orang yang penting buatnya. Entah penting karena untuk di bully, atau sekadar menghibur bawa gitar dan bernyanyi, atau dikatain "ga ad lo ga rame", rindu, bahkan ingin bersamaku. 
Daridulu memang entah sahabat, kekasih, ataupun tetangga ketika mengajakku untuk pergi menikmati pergantian tahun, aku selalu menolak dan memilih menyendiri dikesunyian sepi berharap esok pagi tidak telat untuk menunaikan ibadah, karena untuk mengawali tahun baru, aku ingin dengan merenung apa yang telah dilakukan tahun lalu. Sering menolak ajakan pergi saat pergantian tahun bukan berarti tak pernah. Namun, justru karena daridulu saat masih di bangku SMA, sering sekali pergi sampai terakhir tahun 2014 menikmati tahun baru, aku justru selalu melalaikan untuk subuh. Aku selalu terbangun saat matahari sudah menampakkan wajahnya. Tiap awal tahun harus ku awali dengan subuh yang telat dan itu sangat menjadi penyesalan yang selalu aku ingat. Bahwa untuk menyambut tahun baru aku harus menjadi lebih baik lagi. Dan sudah dua tahun yang lalu aku menikmati pergantian tahun baru di kota Semarang, tepatnya sendirian dalam indekos karena semuanya pada mudik. Saat pertama ku nikmati kesendirianku di kos, aku jusru merasakan kedamaian dan keheningan membuatku tenang dari masalah yang telah terjadi.
Daridulu aku memang selalu gila akan mencari teman. Aku selalu ingin mempunyai sahabat yang benar-benar sahabat, namun sangat jarang aku merasakannya. Aku selalu menganggap mereka sahabat, namun mungkin seperti cinta, semua bertepuk sebelah tangan. 
Aku selalu mencari mereka, selalu mengusulkan pendapat, selalu silaturahim mendatangi ke rumah-rumah mereka sampai yang tidak tahu aku harus tahu. Karena itulah dari zaman SMP, SMA, aku hampir tahu semua rumah teman satu kelas. Hingga aku sering dikatakan spesialis pengantar undangan saat teman-temanku menikah sampai kadang aku tidak diundang pun aku tetap datang. 
Kadang aku selalu bertanya-tanya, aku selalu ingin menghargai mereka sebagai sahabatku, sebagai teman untuk berbagi kebahagiaan, makanya aku selalu mencari teman dan terus mencari teman untuk diakrabi semua, sampai kadang aku sering dianggap php lah, dianggap modus, dianggap penjahat cinta, karena kebanyakan memang aku sering dekat dengan perempuan saat di SMA, bukannya aku modus, namun pergaulan teman lelaki sekelas yang tidak bisa aku ikuti, karena terbagi menjadi dua, kelompok satu mereka suka merokok dikantin dan membahas hal-hal yang kurang enak didengar, kemudian kelompok satunya selalu dikelas dengan pembahasan pelajaran. Ahhh terkadang memuakkan semua. Namun, kadang aku sering mengikutinya, meski aku tak paham pembahasan yang dibahas.
Sampai aku menjadi mahasiswa, yang tiap tahun selalu berganti-ganti kos, berganti-ganti pula teman satu kos. Aku selalu berkunjung kekosan lama untuk sekadar menemui teman-teman lama, teman satu organisasi menikah, aku mendatanginya, meski jauh sekalipun dan terkadang tidak punya ongkos untuk kesana, aku selalu berusaha ada untuk mereka, bahkan sampai aku mempunyai seseorang yang sangat dekat denganku dan menganggap aku sebagai kakaknya. Aku senang sekali jika ada orang yang mau bersamaku, menikmati waktu, aku selalu berusaha membuat mereka terus nyaman bersamaku, aku selalu ada buat mereka.
Namun, mungkin karena overnya aku yang selalu ingin mempunyai teman sejati, sahabat yang saling peduli satusama lain, aku justru tak pernah menemukannya sampai sekarang. Kadang aku ingin sesekali mereka mau datang ke rumahku yang ala kadarnya, kadang aku ingin sekali ada orang yang menyambangi dan mampir ke rumahku saat lewat, bahkan saat lebaran ada yang mengucapkan duluan kepadaku saja sudah sangat senang. Tapi, aku jarang sekali merasakan hal tersebut, kadang aku merasa, kenapa semua yang ku anggap sahabatku dia tak pernah mau menyambangi rumahku untuk sekadar main, atau mungkin aku terlalu memuakkan untuk dijadikan sahabat.
Kadang tiap pergantian tahun aku menyendiri, selalu merenung, ternyata apa yang aku inginkan terkadang tak pernah aku dapatkan, yaitu sahabat dan orang yang ada bersamaku, bahkan pernah aku mempunyai kekasihpun, ternyata tidak bisa menyembuhkanku dari kesepian.
Banyak orang menganggap aku adalah orang yang lucu, humoris, selalu ceria tanpa punya beban hidup, sesungguhnya aku pun mempunyai permasalahan sendiri dengan kesepian. Aku selalu takut kehilangan, aku selalu takut sendirian. Sampai ada orang yang benar-benar ada untukku. Aku mendapatkan orang yang sangat peduli denganku, selalu mencari saat aku tak ada kabar, sampai aku sakit ia cari sampai kemanapun. Dia pun akhirnya pergi meninggalkanku selamanya menghadap pencipta. Satu-satunya orang yang sangat menganggapku ada didepannya. Satu-satu orang dalam sejarah hidupku selalu mencari dan menemaniku saat kesepian. 
Dan tahun ini aku merasakan kembali orang-orang yang aku anggap mereka dekat denganku, aku anggap sebagai adik, aku anggap sebagai orang yang paling aku sayang. Saat aku seperti sekarang, mereka tak ada. Aku melihat mereka sedang bahagia masing-masing menikmati petgantian tahun. Aku tahu mereka mengetahui keadaanku, namun mungkin hanya untuk bertanya menanyakan kabar ataupun mau menjenguk itu adalah hal yang mustahil. Kadang merasakan ada orang yang sangat spesial buatku, orang yang pertama menganggapku kakak pula, sekarang ia acuh, bahkan sampai menyembunyikan statusnya dariku, samapi segitunya ia tidak ingin melihatku dan dilihat oleh aku. Ternyata itu yang sangat menyakitkan selain cinta bertepuk sebelah tangan. Mengetahui teman terdekat yang sudah berdamai saja menghindari status sosmedku dan mengecualikan saja sudah sangat menyakitkan. Ternyata selalu ini aku tak pernah berarti dimatanya. Aku tak pernah dianggap ada. Bahkan dia mengetahui keadaanku pun belum sempat sekalipun ia mau menjengukku atau sekadar menanyakan kabar.
Hal yang oaling menyakitkan adalah ketika kita menyayangi seseorang, tanpa diketahui, namun kita justru dihindari kabarnya dan dihindari mengetahui keberadaannya, padahal kita tidak melakukan apa-apa dan hanya melihatnya lewat sebuah sosial media. Perasaan sakit itu terus menjadi candu hingga kita terus berusaha mencarinya dan memikirkannya pada akhirnya hati kita kaca balau. Terkadang rasa sayang itu tak terkendali, padahal kita tak melakukan apapun kepadanya bahkan mencoba datang mengganggunya pun tidak. Itu hal yang selalu aku alami untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda, dan itu sungguh menyita hati yang mengacaukan segalanya.
Kadang aku selalu merasa menyedihkan. Selalu saja aku tak pernah mendapatkan orang yang menganggapku ada. Hanya kesenangan semata atau butuhnya saja mereka baru mencariku. 
Teruntuk sahabatku semuanya yang pernah ada dalam hidupku, terimakasih atas pertemuannya, termiakasih atas segalanya, maaf jika aku tak pernah menjadi orang yang berarti untuk kalian bahkan jauh dari kata baik. Harapanku untuk kalian semua semoga kalian selalu bahagia, melihat dari sosial media saja kalian bahagia sudah sangat cukup, asal tak perlu kalian menyembunyikannya dariku. Aku cukup melihatnya tiap saat status kalian sudah sangat cukup mendengar kabar kalian baik-baik saja.
Harapan, semoga kelak jika aku pergi, kalian mau menemaniku hingga akhir dibumi. Meski semasa hidupku kalian disibukkan dengan kesibukan masing-masing, semoga kelak benar-benar ada yang menemani dan mendoakanku. Aamiin.