Selasa, 01 Januari 2019

Harapan

Kembali dipertemukan dengan 1 Januari. Kali ini sama hanya berganti tahunnya saja. Tiap tahun aku enggan untuk melihat keramaian secara langsung, hanya ingin menyendiri menikmati malam sambil melihat teman-teman asik dengan dunianya lewat media sosial. Terkadang ada sahabat yang mengajakku untuk pergi bersama saja sudah sangat senang meski selalu aku tolak. Karena mungkin hanya basa-basi saja menawarkan ia masih menganggapku sebagai orang yang penting buatnya. Entah penting karena untuk di bully, atau sekadar menghibur bawa gitar dan bernyanyi, atau dikatain "ga ad lo ga rame", rindu, bahkan ingin bersamaku. 
Daridulu memang entah sahabat, kekasih, ataupun tetangga ketika mengajakku untuk pergi menikmati pergantian tahun, aku selalu menolak dan memilih menyendiri dikesunyian sepi berharap esok pagi tidak telat untuk menunaikan ibadah, karena untuk mengawali tahun baru, aku ingin dengan merenung apa yang telah dilakukan tahun lalu. Sering menolak ajakan pergi saat pergantian tahun bukan berarti tak pernah. Namun, justru karena daridulu saat masih di bangku SMA, sering sekali pergi sampai terakhir tahun 2014 menikmati tahun baru, aku justru selalu melalaikan untuk subuh. Aku selalu terbangun saat matahari sudah menampakkan wajahnya. Tiap awal tahun harus ku awali dengan subuh yang telat dan itu sangat menjadi penyesalan yang selalu aku ingat. Bahwa untuk menyambut tahun baru aku harus menjadi lebih baik lagi. Dan sudah dua tahun yang lalu aku menikmati pergantian tahun baru di kota Semarang, tepatnya sendirian dalam indekos karena semuanya pada mudik. Saat pertama ku nikmati kesendirianku di kos, aku jusru merasakan kedamaian dan keheningan membuatku tenang dari masalah yang telah terjadi.
Daridulu aku memang selalu gila akan mencari teman. Aku selalu ingin mempunyai sahabat yang benar-benar sahabat, namun sangat jarang aku merasakannya. Aku selalu menganggap mereka sahabat, namun mungkin seperti cinta, semua bertepuk sebelah tangan. 
Aku selalu mencari mereka, selalu mengusulkan pendapat, selalu silaturahim mendatangi ke rumah-rumah mereka sampai yang tidak tahu aku harus tahu. Karena itulah dari zaman SMP, SMA, aku hampir tahu semua rumah teman satu kelas. Hingga aku sering dikatakan spesialis pengantar undangan saat teman-temanku menikah sampai kadang aku tidak diundang pun aku tetap datang. 
Kadang aku selalu bertanya-tanya, aku selalu ingin menghargai mereka sebagai sahabatku, sebagai teman untuk berbagi kebahagiaan, makanya aku selalu mencari teman dan terus mencari teman untuk diakrabi semua, sampai kadang aku sering dianggap php lah, dianggap modus, dianggap penjahat cinta, karena kebanyakan memang aku sering dekat dengan perempuan saat di SMA, bukannya aku modus, namun pergaulan teman lelaki sekelas yang tidak bisa aku ikuti, karena terbagi menjadi dua, kelompok satu mereka suka merokok dikantin dan membahas hal-hal yang kurang enak didengar, kemudian kelompok satunya selalu dikelas dengan pembahasan pelajaran. Ahhh terkadang memuakkan semua. Namun, kadang aku sering mengikutinya, meski aku tak paham pembahasan yang dibahas.
Sampai aku menjadi mahasiswa, yang tiap tahun selalu berganti-ganti kos, berganti-ganti pula teman satu kos. Aku selalu berkunjung kekosan lama untuk sekadar menemui teman-teman lama, teman satu organisasi menikah, aku mendatanginya, meski jauh sekalipun dan terkadang tidak punya ongkos untuk kesana, aku selalu berusaha ada untuk mereka, bahkan sampai aku mempunyai seseorang yang sangat dekat denganku dan menganggap aku sebagai kakaknya. Aku senang sekali jika ada orang yang mau bersamaku, menikmati waktu, aku selalu berusaha membuat mereka terus nyaman bersamaku, aku selalu ada buat mereka.
Namun, mungkin karena overnya aku yang selalu ingin mempunyai teman sejati, sahabat yang saling peduli satusama lain, aku justru tak pernah menemukannya sampai sekarang. Kadang aku ingin sesekali mereka mau datang ke rumahku yang ala kadarnya, kadang aku ingin sekali ada orang yang menyambangi dan mampir ke rumahku saat lewat, bahkan saat lebaran ada yang mengucapkan duluan kepadaku saja sudah sangat senang. Tapi, aku jarang sekali merasakan hal tersebut, kadang aku merasa, kenapa semua yang ku anggap sahabatku dia tak pernah mau menyambangi rumahku untuk sekadar main, atau mungkin aku terlalu memuakkan untuk dijadikan sahabat.
Kadang tiap pergantian tahun aku menyendiri, selalu merenung, ternyata apa yang aku inginkan terkadang tak pernah aku dapatkan, yaitu sahabat dan orang yang ada bersamaku, bahkan pernah aku mempunyai kekasihpun, ternyata tidak bisa menyembuhkanku dari kesepian.
Banyak orang menganggap aku adalah orang yang lucu, humoris, selalu ceria tanpa punya beban hidup, sesungguhnya aku pun mempunyai permasalahan sendiri dengan kesepian. Aku selalu takut kehilangan, aku selalu takut sendirian. Sampai ada orang yang benar-benar ada untukku. Aku mendapatkan orang yang sangat peduli denganku, selalu mencari saat aku tak ada kabar, sampai aku sakit ia cari sampai kemanapun. Dia pun akhirnya pergi meninggalkanku selamanya menghadap pencipta. Satu-satunya orang yang sangat menganggapku ada didepannya. Satu-satu orang dalam sejarah hidupku selalu mencari dan menemaniku saat kesepian. 
Dan tahun ini aku merasakan kembali orang-orang yang aku anggap mereka dekat denganku, aku anggap sebagai adik, aku anggap sebagai orang yang paling aku sayang. Saat aku seperti sekarang, mereka tak ada. Aku melihat mereka sedang bahagia masing-masing menikmati petgantian tahun. Aku tahu mereka mengetahui keadaanku, namun mungkin hanya untuk bertanya menanyakan kabar ataupun mau menjenguk itu adalah hal yang mustahil. Kadang merasakan ada orang yang sangat spesial buatku, orang yang pertama menganggapku kakak pula, sekarang ia acuh, bahkan sampai menyembunyikan statusnya dariku, samapi segitunya ia tidak ingin melihatku dan dilihat oleh aku. Ternyata itu yang sangat menyakitkan selain cinta bertepuk sebelah tangan. Mengetahui teman terdekat yang sudah berdamai saja menghindari status sosmedku dan mengecualikan saja sudah sangat menyakitkan. Ternyata selalu ini aku tak pernah berarti dimatanya. Aku tak pernah dianggap ada. Bahkan dia mengetahui keadaanku pun belum sempat sekalipun ia mau menjengukku atau sekadar menanyakan kabar.
Hal yang oaling menyakitkan adalah ketika kita menyayangi seseorang, tanpa diketahui, namun kita justru dihindari kabarnya dan dihindari mengetahui keberadaannya, padahal kita tidak melakukan apa-apa dan hanya melihatnya lewat sebuah sosial media. Perasaan sakit itu terus menjadi candu hingga kita terus berusaha mencarinya dan memikirkannya pada akhirnya hati kita kaca balau. Terkadang rasa sayang itu tak terkendali, padahal kita tak melakukan apapun kepadanya bahkan mencoba datang mengganggunya pun tidak. Itu hal yang selalu aku alami untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda, dan itu sungguh menyita hati yang mengacaukan segalanya.
Kadang aku selalu merasa menyedihkan. Selalu saja aku tak pernah mendapatkan orang yang menganggapku ada. Hanya kesenangan semata atau butuhnya saja mereka baru mencariku. 
Teruntuk sahabatku semuanya yang pernah ada dalam hidupku, terimakasih atas pertemuannya, termiakasih atas segalanya, maaf jika aku tak pernah menjadi orang yang berarti untuk kalian bahkan jauh dari kata baik. Harapanku untuk kalian semua semoga kalian selalu bahagia, melihat dari sosial media saja kalian bahagia sudah sangat cukup, asal tak perlu kalian menyembunyikannya dariku. Aku cukup melihatnya tiap saat status kalian sudah sangat cukup mendengar kabar kalian baik-baik saja.
Harapan, semoga kelak jika aku pergi, kalian mau menemaniku hingga akhir dibumi. Meski semasa hidupku kalian disibukkan dengan kesibukan masing-masing, semoga kelak benar-benar ada yang menemani dan mendoakanku. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar