Senin, 21 Januari 2019

Kosong (Hidup segan, mati pun belum)

Ada kisah yang harus dilupakan. Ada cinta yang harus diikhlaskan. Ada kamu yang harus ku hapuskan.

Kadang hidup ini tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, bahkan kita hanya bisa mengkhayal untuk mengabulkan apa yang kita inginkan tapi tidak pernah kita dapatkan. Seperti halnya sebuah cerita hati. Tidak ada kasmaran yang lepas dari terluka. Tidak ada kebahagiaan yang lepas dari kesedihan. Semua itu bersatu dan tak pernah terpisahkan. Jika yang didapati hanyalah salah satu diantara mereka, berarti itu tidak nyata. Perlu kau pertanyakan dengan hidupmu yang palsu.
Hidup memang selalu mengalami dua fase, bisa dikatakan fase ples dan fase minus. Anggap saja seperti itu, intinya hidup yang ideal adalah hidup yang balance. Kita akan selalu mengalami kedua fase tersebut.
Kali ini, aku benar-benar tidak tahu berada pada fase apa, yang jelas aku merasa tidak punya keinginan apapun, seakan-akan hidup segan mati tak mau. Aku mengalami kebosanan dalam menjalani hidup. Aku bosan untuk tidur, aku bosan untuk duduk, dan aku bosan untuk berdiri. Entah mungkin aku ingin terbang, karena hal tersebut yang belum pernah aku lakukan selama hidup. Lagi-lagi imajinasilah yang bermain dengan hatiku. Karena satu-satunya yang dapat menjawab semuanya hanya imajinasiku. Tak akan ada orang yang bisa mengerti dan kompromi untuk berbagi cerita.
Saat ini aku sedang merasakan, apa yang harus aku lakukan selanjutnya, aku tidak punya tujuan hidup setelahnya akan apa. Seperti dulu saat masih mengerjakan skripsi. Saat skripsi, aku selalu mengejar waktu dan mempunyai target harus selesai tepat pada waktu yang saya tentukan sendiri, hingga pada akhirnya aku mencapai hal tersebut dan bisa menunggu saat-saat sidang. Saat sidang aku pun menanti dan memikirkan setelah ini aku harus menyiapkan berkas persiapan wisuda. Dan hal tersebutpun sudah ditargetkan dan dibayangkan harus bagaimana selanjutnya, hingga setelah wisuda datang aku bmasih berpikir setelah ini aku harus apa. 
Dari urutan tersebut hidupku masih mempunyai target kedepan, ada hal yang ingin dinantikan dan ditunggu-tunggu, hingga pada akhirnya setahun kemudian tepatnya saat ini aku benar-benar merasakan buntu. Entah apa yang akan kulakukan selanjutnya, aku tidak peduli lagi dengan waktu yang terus berputar dan tanggalan yang selalu berganti hari demi hari kulewati tanpa memiliki tujuan arah yang jelas. Entah saat ini aku tidak memikirkan hal-hal untuk masadepan lagi. Serasa hidupku kacau, tapi bukan kacau karena tertekan banyaknya masalah maupun datang ujian hidup yang memberatkan. Namun, ini lebih berat lagi karena ketika kita sedang memiliki masalah dan merasa kacau dengan hidup pasti kita masih memikirkan bagaimana untuk lepas dari masalah tersebut untuk kedepannya. Namun, ini seperti aku tidak punya masalah aku pun tidak punya kebahagiaan. Hidup berasa hampa, seakan-akan untuk apa hidup selanjutnya. Dan aku memahami segalanya yang sedang terjadi. Semua itu karena aku tak lagi memiliki tujuan hidup dan tak punya harapan apapun. Seperti manusia yang tidak mempunyai hati dan perasaan. Aku sangat sadar ternyata sebuah perasaan sangat berpengaruh kepada hidup yang flat.
Ketika kita merasa jatuh cinta bahkan sedang cinta-cintanya dengan sesuatu, pasti kita mempunyai tujuan untuk mendapatkannya dan berharap kebahagiaan, pun sama ketika kita sedang merasa terluka karena patah hati, karena apa yang kita inginkan mengecewakan, kita pasti memiliki tujuan untuk melupakan, punya keinginan untuk berharap luka itu mengering dan kembali bahagia. Semua itu jelas mewarnai kehidupan yang seimbang. Dan saat ini aku tidak merasakan apapun itu. Hidupku hampa dan tidak punya tujuan apapun lagi untuk hidup. Aku tidak punya alasan apapun lagi untuk meneruskan hidup. Aku tidak punya keinginan, aku tidak punya tujuan, aku tidak punya semangat, aku tidak punya beban dan luka, aku tidak punya target, dan aku tidak punya kenangan yang tertinggal. Seakan-akan semuanya terlupakan. Kisah cinta, luka dan bahagia. Kisah perjalanan hidup dari sekolah sampai berkuliah ke luar kota. Kisah persahabatan dengan orang-orang dekat. Bahkan aku merasa tidak memiliki siapa-siapa, bahkan sosial media pun sudah jarang aku pakai untuk bermain, stalking, bahkan untuk berkomunikasi dengan semua orang. Aku menjadi over introvert didalam kamar. Dianggap gila, aku masih waras, dianggap mati aku masih bernafas, dianggap kerasukan jin aku masih sadar untuk beribadah. 
Mungkin semuanya kembali pada parangraf pertama diatas. Semua sudah kulupakan. Bahkan aku sempat mempunyai tujuan hidup untuk menghapuskan yang sudah terjadi, sampai dengan apa yang sudah aku rasakan. Aku pernah memiliki kekasih yang mati, aku sudah melupakan hingga aku mencintai seseorang yang sempat menjadi adik bagiku pun sudah ku lupakan. Hingga kini aku seperti memori card yang terformat bersih tanpa isi dan tergeletak tak lagi terpakai namun tidak rusak. Kosong dan tak dibutuhkan, namun masih berfungsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar