Namaku antonio, hujan
dimimpi mengawali ceritaku kali ini. Tepat dibulan kedua ditanggal muda. Aku
menyaksikan jutaan kebahagiaan dimimpi, angan-angan yang tergambar begitu indah
tentang kehidupan bahagia, punya banyak teman yang ada untukku, bahkan orang
yang sangat ku sayangi semuanya hadir disetiap mimpi-mimpiku. Waktu itu adalah
awal liburan kuliahku dikampung halaman dengan orangtua setelah sekian lama tak
berjumpa dengan mereka. Rasa asing sangat terasa ketika awal aku menjajaki kaki
dirumah tercinta, mungkin karena kebiasaan dikota aku menikmati semua
kenyamanan tempat yang sangat berbeda dengan rumah. Walaupun begitu, kebahagiaan
bisa saling berkumpul setiap senja mulai menguning dan menuju gelap, setelah
semuanya sudah selesai dengan urusannya masing-masing. Aku yang sudah dirumah,
adik-adikku sudah pulang bermain, bapak yang duduk menikmati kopi dan rokoknya,
dan ibu yang pulang dari kios kita berkumpul disebuah ruang 3x3 ruang tamu yang
kecil dan belum ada keramik bahkan tembok yang utuh. Hanya beralaskan kursi
yang sudah kumuh dan udara segar yang kita hidup bersama sudah sangat
membahagiakanku menikmati setiap nafas bercanda dan berbagi cerita bersama
mereka.
Hari kedua, tak ada kegiatan
yang dapat kulakukan. Rasa capek kemarin belum menghilang dan rasa males masih
terasa sangat kuat ketika gravitasi kasurku yang hanya beralaskan kasur keras
dan ranjang yang rapuh dengan selimut background yang sangat tipis. Tak
ada yang dapat kukerjakan saat dirumah hingga aku harus kembali tertidur
melanjutkan mimpi indahku. Hingga pada hari-hari selanjutnya aku hanya
menghabiskan waktu yang banyak dikasur dan gadget yang selalu melihat
sesuatu di media sosial. Kepalaku semakin berat dan makanpun enggan. Sampai
pada akhirnya mulutku tak bisa mengunyah akibat sariawan yang datang. Bertambah
sudah rasa enggan memasukan makanan kedalam mulut. Rasa stres mulai melanda dan
hampir gila karena setiap saat hanya terpikir masalalu yang buruk hingga
berakhir hubungan yang putus.
Musim itu memang sedang
musimnya orang sakit, hingga bapakku sakit dan tak bisa berangkat kerja. Bahkan
dilanjut dengan ibuku. Aku tak bisa apa-apa karena akupun menjadi sakit karena
sebuah tekanan dalam diri. Semuanya mendorongku untuk mengerjakan pekerjaan mereka.
Simbahku dan adikku SMA yang merawat kedua orangtuaku disaat sakit hingga ibuku
sembuh. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah dari bersih-bersih rumah sampai
memasak setiap pagi dan sore, bahkan aku harus membuka kiosku untuk terus
mendapatkan penghasilan untuk kehidupan sehari-hari.
Mungkin rasa kurang syukurku
dan hanya mengeluh karena merasa akulah yang paling menderita dan paling merana
dalam hidup sehingga aku diberikan cobaan yang sangat luar biasa hingga aku tak
bisa apa-apa hanya bisa dipikir dan terkadang pikiran jadi kosong melamun hal
yang tak penting. Walaupun aku berada dalam keluarga yang sederhana tapi aku
sangat bersyukur apa yang aku inginkan selalu cepat terkabul. Bahkan sampai aku
bisa kuliah dengan jalanku sendiri.
Kata ibuku walaupun aku
selalu menjadi bahan guyon karena sifatku yang lucu dan mereka anggap aku orang
yang selalu kasian. Aku termasuk orang yang sangat beruntung karena aku bisa
dianggap mendapatkan surga didunia. Kata ibu aku adalah orang yang gampang
mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dari mulai aku bisa bekerja mendapatkan
penghasilan setelah lulus SMA dan dapat berkuliah dengan rasa pesimis orangtua
yang tak sanggup me-kuliahkanku hingga aku dapat kuliah dengan uangku sendiri
sampai mendapatkan beasiswa, aku dapat membeli laptop disaat aku benar-benar
membutuhkan, bahkan ketika aku sangat membutuhkan kendaraan pribadi, aku dapat
membeli motor dengan kerja keras dan rasa optimisku dengan cepat semua itu bisa
kudapatkan.
Tapi dibalik itu akupun
cepat dan mudah mendapat azab ketika aku melakukan kesalahan seperti berbohong,
mencari perhatian dengan melebih-lebihkan keadaan, hingga aku merasakan
kehilangan.
Aku kurang bersyukur
dan tidak memanfaatkan laptopku dengan baik, hanya untuk menyetel musik tiap
hari, hingga aku kehilangan laptop. Aku kehilangan handphone, kehilangan uang
koperasi yang aku simpan disaat aku menghambur-hamburkan uang terlalu boros
berbelanja. Aku kehilangan wanita yang aku sayangi karena aku terlalu
menyayanginya hingga gila, sampai mendapatkan balasan ketika aku kembali dekat
dengan masalalu, dan tak menghargai orang yang baru dekat denganku, aku pun
dibalas demikian dengan cepat.
Begitu hebatnya azab
yang Allah berikan ketika aku selalu dengan cepat diperingatkan ketika
melakukan kesalahan. Sampai aku menyadari setiap kesalahanku hingga kini aku
merasa kosong dan tertekan dengan penuh keadaan. Mungkin akulah manusia yang
sangat kurang bersyukur.
Sekarang aku
benar-benar merasakan bingung, entah apa yang harus kurasakan, hanya bisa
dipikir dan sedikitpun tak mau bergerak. Tepat hari itu adalah pengisian
matakuliah untuk melanjutkan kesemester depan dan akupun harus bersegera
kembali kekota karena banyak amanah yang aku pegang saat ini. Harus bisa
bertanggungjawab dan lebih dewasa dengan apa yang sudah diamanahkan.
Ketika kubuka dan mulai
mengisi bertuliskan “anda belum melakukan registrasi” sontak aku pun gugup dan
bingung, karena selama ini aku mendapatkan beasaiswa. Beasiswa kemarinpun aku
masih dibekukan dan belum bisa cair. Untangku banyak ketika aku harus
menghidupi kehidupanku sendiri yang kurang terpenuhi oleh beasiswa. Usahaku
mandeg dan seret karena aku harus fokus diakademikku dulu setelah dahulu sempat
dihancurkan karena cerita masalalu. Aku selalu mengutamakan kepentingan
oranglain sehingga dirikupun harus dihancurkan sendiri oleh sikapku, hingga
justru tak mendapatkan hal yang baik justru aku kehilangan semuanya karena rasa
yang kurang ikhlas itu datang ketika aku harus kecewa dengan balasan yang
menyakitkan, hingga aku selalu mengungkit-ungkitnya hingga menyalahkan padahal
aku sendiri yang harusnya bisa lebih baik untuk menerima balasan apa yang sudah
dilakukan hingga tak menjadi kecewa.
Kesalahanku itulah yang
membuatku hancur sendiri, kini orang-orang yang datang ketika membutuhkanku,
disaat aku membutuhkan sekadar meminjam uang sebentar, atau membantu
menenangkan pikiran, bahkan cuma menghibur. Menghilang. Entah apa yang sudah
kukatakan bahkan kulakukan hingga aku dibuang setelah tak lagi membutuhkan, tak
ada teman yang bisa membantu untuk saat ini. Beasiswaku tak ada kepastian, aku
belum mengisi matakuliah, aku masih mempunyai utang yang cukup besar ketika
dahulu ku menolong seseorang dan berkorban untuk seseorang hingga aku terjatuh
sakit memaksakan keadaan hingga aku dibuang begitu saja sebuah tekanan yang
cukup luar biasa dikejadian dahulu, membuatku menelan kepahitan saat ini. Harus
menanggung kehancuran sendiri, dan entah kemana orang yang sudah meninggalkanku
disaat kesusahan. Disitu ku merasakan tak ada orang yang sejati bersamaku, dan
teman sejati disaat bahagia dan sedih, saling membutuhkan. Semuanya hilang
karena sudah menikmati kebahagiaan masing-masing. Hanya berjalan sendiri dengan
menopang seluruh akibat kesalahanku dahulu, begitu bodohnya aku yang harus
mengorbankan diriku sendiri sehingga semuanya menjadi unek-unek dihati yang
kurang ikhlas disaat yang dikorbankan membuang begitu saja waktu itu hingga
sekarangpun memutuskan kontak demi kebahagiaan pribadi.
Mungkin memang benar
ketika ingin membantu harus pentingkan diri sendiri terlebih dahulu sehingga
ketika membantu seseorang tak menjadi rasa yang kurang ikhlas ketika
dikecewakan, memang ujian ikhlas sangatlah sulit didapatkan seperti aku yang
sangat jauh dari baik ini.
Kini aku harus
menyelesaikan sendiri dengan kepala dingin dan tenang. Tapi masih saja sulit
untukku melepas beban yang sedang dialami. Ketika aku harus melunasi semua
utangku, aku lupa bahwa akupun mempunyai uang yang ku tabung, walau tak
seberapa tapi bisa untuk sedikit menutup semua untangku, tapi mungkin tak bisa sekaligus
dengan membayar uang kuliah jika beasiswaku memang tak lagi ada dan pembekuan
uangku dibank masih belum bisa cair.
Aku harus bekerja
membantu orangtua dirumah, aku tak bisa kemana-mana dan tak bisa meminta
bantuan kepada siapa-siapa untuk mengurus perkuliahanku disana karena ini masih
musim liburan, tak ada teman yang ada disana kecuali orang yang mondok atau
semester tua. Bapakku masih sakit dan adikku yang kecil sakit parah hingga
opnam, hingga tabunganku pun harus kurelakan semuanya yang ingin kubelikan
laptop baru dan membangun usaha baru kembali setelah bisa melunasi semua
utang-utangku dan cicilan motorku.
Saat itu aku sudah
sangat bingung dengan keadaanku yang masih kurang sehat juga untuk pergi jauh.
Hingga aku harus kekota dan mengurus uangku dibank. Dan saat kutanyakan semua
pembekuan uang itu. Ternyata isi tabunganku tertulis aku sudah mengambil semua
uang ditabunganku pada tahun lalu, bukan pembekuan melainkan kebobolan yang
kupikirkan saat itu. 30jt terbobol ditabungan sudah lama. Gila darimana aku
mendapatkan uang sebanyak itu ditabungan dan seketika juga bobol hilang semua
isi ditabungan.
Aku merasa lemas
seketika itu, kini aku hanya bisa melunasi uang teman dan sebagian sisa uang
koperasi yang kusimpan dibank menjadi sebuah utang semua saat ini dengan utang
dahulu. Kembali kuhubungi orang yang bisa membantuku dikota, tapi kembali lagi,
tak ada respon semuanya tak punya pulsa atau kuota, entahlah. Yang jelas
mungkin menhindar dariku yang mungkin tahu aku sedang mencari mereka karena membutuhkan,
begitu hinanya ku saat ini. Aku datang kepada semua teman hanya karena aku
membutuhkan saja. Kini aku merasakan sendiri akibat dahulu apa kulakukan
mungkin kurang ikhlasnya diriku menjadi sebab kini semua orang tak ada disaat
ku membutuhkan.
Kini kusadar dari semua
kesalahanku dahulu. Kini aku harus selalu bersyukur apa yang aku nikmati dan
dapatkan. Semuanya pasti kan ada hikmah dan jalannya. Walaupun saat ini aku
harus terpuruk tertekan hingga jatuh sakit kembali dengan sakit dahulu yang kembali
kurasakan. Walaupun semuanya meninggalkanku dan mungkin jalanku harus
menanggalkan status mahasiswaku untuk fokus membantu dirumah, disaat amanahku
yang sangat banyak itulah jalan yang terbaik. Tak ada teman sejati yang dapat
berjalan bersama disini. Hanya dapat berjalan sendiri dan aku masih mempunyai
Allah yang akan selalu membantuku suatu saat nanti.
Tepat dibulan ini,
bulan yang spesial bagiku aku menuliskan tulisan ini untuk saling berbagi
cerita tentang kehidupan. Betapa pentingnya membantu oranglain dan mengutamakan
yang membutuhkan tetapi ingat dengan kemampuan diri. Hingga tak berujung
kecewa, dan belajar rasa ikhlas dari dalam hati menerima semuanya kenyataan
dengan bersyukur hari ini bisa menghirup udara segar saja dan sesuap nasi sudah
sangat bersyukur. Betapa indahnya hidup dengan syukur tak perlu muluk-muluk
untuk melupakan semua nikmat-Nya.
Walaupun kini akupun
sendiri belum mendapatkan pencerahan, inilah ujianku. Bagaimana cara
mengembalikan keceriaanku? Bagaimana menghapus semua beban yang ada dipikiran?
Entah saat ini aku belum menemukannya. Yang jelas saat ini dipenghujung akhir
bulan kedua tahun kera api. Aku masih menghirup nafas dengan berbagai tekanan
dan pikiran yang entah kemana langkah ini harus diambil. Sakit ini hanya sebuah
ujian sabarku, walaupun sakitku yang dahulu ketika muncul karena sebuah
pengorbanan kembali datang karena sebuah sakit hati dan umbaran yang menambah
tekanan dipikiran masalaluku yang buruk hingga tak dihargai. Mungkin sakitku
ini akan menjadi pengobat kesalahanku itu untuk memurnikan pengorbanan. Kini
hanya bisa menerima yang sudah terjadi dan berusaha menikmati hidup dengan
percaya, hidup itu akan indah pada saatnya.
Yang aku inginkan saat
ini hanya mengembalikan kebahagiaan semua orang yang pernah kusakiti karena
kejahatanku.
21 Feb 2016