Minggu, 21 Februari 2016

Hanya Ingin Berbagi Cerita



Namaku antonio, hujan dimimpi mengawali ceritaku kali ini. Tepat dibulan kedua ditanggal muda. Aku menyaksikan jutaan kebahagiaan dimimpi, angan-angan yang tergambar begitu indah tentang kehidupan bahagia, punya banyak teman yang ada untukku, bahkan orang yang sangat ku sayangi semuanya hadir disetiap mimpi-mimpiku. Waktu itu adalah awal liburan kuliahku dikampung halaman dengan orangtua setelah sekian lama tak berjumpa dengan mereka. Rasa asing sangat terasa ketika awal aku menjajaki kaki dirumah tercinta, mungkin karena kebiasaan dikota aku menikmati semua kenyamanan tempat yang sangat berbeda dengan rumah. Walaupun begitu, kebahagiaan bisa saling berkumpul setiap senja mulai menguning dan menuju gelap, setelah semuanya sudah selesai dengan urusannya masing-masing. Aku yang sudah dirumah, adik-adikku sudah pulang bermain, bapak yang duduk menikmati kopi dan rokoknya, dan ibu yang pulang dari kios kita berkumpul disebuah ruang 3x3 ruang tamu yang kecil dan belum ada keramik bahkan tembok yang utuh. Hanya beralaskan kursi yang sudah kumuh dan udara segar yang kita hidup bersama sudah sangat membahagiakanku menikmati setiap nafas bercanda dan berbagi cerita bersama mereka.
Hari kedua, tak ada kegiatan yang dapat kulakukan. Rasa capek kemarin belum menghilang dan rasa males masih terasa sangat kuat ketika gravitasi kasurku yang hanya beralaskan kasur keras dan ranjang yang rapuh dengan selimut background yang sangat tipis. Tak ada yang dapat kukerjakan saat dirumah hingga aku harus kembali tertidur melanjutkan mimpi indahku. Hingga pada hari-hari selanjutnya aku hanya menghabiskan waktu yang banyak dikasur dan gadget yang selalu melihat sesuatu di media sosial. Kepalaku semakin berat dan makanpun enggan. Sampai pada akhirnya mulutku tak bisa mengunyah akibat sariawan yang datang. Bertambah sudah rasa enggan memasukan makanan kedalam mulut. Rasa stres mulai melanda dan hampir gila karena setiap saat hanya terpikir masalalu yang buruk hingga berakhir hubungan yang putus.
Musim itu memang sedang musimnya orang sakit, hingga bapakku sakit dan tak bisa berangkat kerja. Bahkan dilanjut dengan ibuku. Aku tak bisa apa-apa karena akupun menjadi sakit karena sebuah tekanan dalam diri. Semuanya mendorongku untuk mengerjakan pekerjaan mereka. Simbahku dan adikku SMA yang merawat kedua orangtuaku disaat sakit hingga ibuku sembuh. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah dari bersih-bersih rumah sampai memasak setiap pagi dan sore, bahkan aku harus membuka kiosku untuk terus mendapatkan penghasilan untuk kehidupan sehari-hari.
Mungkin rasa kurang syukurku dan hanya mengeluh karena merasa akulah yang paling menderita dan paling merana dalam hidup sehingga aku diberikan cobaan yang sangat luar biasa hingga aku tak bisa apa-apa hanya bisa dipikir dan terkadang pikiran jadi kosong melamun hal yang tak penting. Walaupun aku berada dalam keluarga yang sederhana tapi aku sangat bersyukur apa yang aku inginkan selalu cepat terkabul. Bahkan sampai aku bisa kuliah dengan jalanku sendiri.
Kata ibuku walaupun aku selalu menjadi bahan guyon karena sifatku yang lucu dan mereka anggap aku orang yang selalu kasian. Aku termasuk orang yang sangat beruntung karena aku bisa dianggap mendapatkan surga didunia. Kata ibu aku adalah orang yang gampang mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dari mulai aku bisa bekerja mendapatkan penghasilan setelah lulus SMA dan dapat berkuliah dengan rasa pesimis orangtua yang tak sanggup me-kuliahkanku hingga aku dapat kuliah dengan uangku sendiri sampai mendapatkan beasiswa, aku dapat membeli laptop disaat aku benar-benar membutuhkan, bahkan ketika aku sangat membutuhkan kendaraan pribadi, aku dapat membeli motor dengan kerja keras dan rasa optimisku dengan cepat semua itu bisa kudapatkan.
Tapi dibalik itu akupun cepat dan mudah mendapat azab ketika aku melakukan kesalahan seperti berbohong, mencari perhatian dengan melebih-lebihkan keadaan, hingga aku merasakan kehilangan.
Aku kurang bersyukur dan tidak memanfaatkan laptopku dengan baik, hanya untuk menyetel musik tiap hari, hingga aku kehilangan laptop. Aku kehilangan handphone, kehilangan uang koperasi yang aku simpan disaat aku menghambur-hamburkan uang terlalu boros berbelanja. Aku kehilangan wanita yang aku sayangi karena aku terlalu menyayanginya hingga gila, sampai mendapatkan balasan ketika aku kembali dekat dengan masalalu, dan tak menghargai orang yang baru dekat denganku, aku pun dibalas demikian dengan cepat.
Begitu hebatnya azab yang Allah berikan ketika aku selalu dengan cepat diperingatkan ketika melakukan kesalahan. Sampai aku menyadari setiap kesalahanku hingga kini aku merasa kosong dan tertekan dengan penuh keadaan. Mungkin akulah manusia yang sangat kurang bersyukur.
Sekarang aku benar-benar merasakan bingung, entah apa yang harus kurasakan, hanya bisa dipikir dan sedikitpun tak mau bergerak. Tepat hari itu adalah pengisian matakuliah untuk melanjutkan kesemester depan dan akupun harus bersegera kembali kekota karena banyak amanah yang aku pegang saat ini. Harus bisa bertanggungjawab dan lebih dewasa dengan apa yang sudah diamanahkan.
Ketika kubuka dan mulai mengisi bertuliskan “anda belum melakukan registrasi” sontak aku pun gugup dan bingung, karena selama ini aku mendapatkan beasaiswa. Beasiswa kemarinpun aku masih dibekukan dan belum bisa cair. Untangku banyak ketika aku harus menghidupi kehidupanku sendiri yang kurang terpenuhi oleh beasiswa. Usahaku mandeg dan seret karena aku harus fokus diakademikku dulu setelah dahulu sempat dihancurkan karena cerita masalalu. Aku selalu mengutamakan kepentingan oranglain sehingga dirikupun harus dihancurkan sendiri oleh sikapku, hingga justru tak mendapatkan hal yang baik justru aku kehilangan semuanya karena rasa yang kurang ikhlas itu datang ketika aku harus kecewa dengan balasan yang menyakitkan, hingga aku selalu mengungkit-ungkitnya hingga menyalahkan padahal aku sendiri yang harusnya bisa lebih baik untuk menerima balasan apa yang sudah dilakukan hingga tak menjadi kecewa.
Kesalahanku itulah yang membuatku hancur sendiri, kini orang-orang yang datang ketika membutuhkanku, disaat aku membutuhkan sekadar meminjam uang sebentar, atau membantu menenangkan pikiran, bahkan cuma menghibur. Menghilang. Entah apa yang sudah kukatakan bahkan kulakukan hingga aku dibuang setelah tak lagi membutuhkan, tak ada teman yang bisa membantu untuk saat ini. Beasiswaku tak ada kepastian, aku belum mengisi matakuliah, aku masih mempunyai utang yang cukup besar ketika dahulu ku menolong seseorang dan berkorban untuk seseorang hingga aku terjatuh sakit memaksakan keadaan hingga aku dibuang begitu saja sebuah tekanan yang cukup luar biasa dikejadian dahulu, membuatku menelan kepahitan saat ini. Harus menanggung kehancuran sendiri, dan entah kemana orang yang sudah meninggalkanku disaat kesusahan. Disitu ku merasakan tak ada orang yang sejati bersamaku, dan teman sejati disaat bahagia dan sedih, saling membutuhkan. Semuanya hilang karena sudah menikmati kebahagiaan masing-masing. Hanya berjalan sendiri dengan menopang seluruh akibat kesalahanku dahulu, begitu bodohnya aku yang harus mengorbankan diriku sendiri sehingga semuanya menjadi unek-unek dihati yang kurang ikhlas disaat yang dikorbankan membuang begitu saja waktu itu hingga sekarangpun memutuskan kontak demi kebahagiaan pribadi.
Mungkin memang benar ketika ingin membantu harus pentingkan diri sendiri terlebih dahulu sehingga ketika membantu seseorang tak menjadi rasa yang kurang ikhlas ketika dikecewakan, memang ujian ikhlas sangatlah sulit didapatkan seperti aku yang sangat jauh dari baik ini.
Kini aku harus menyelesaikan sendiri dengan kepala dingin dan tenang. Tapi masih saja sulit untukku melepas beban yang sedang dialami. Ketika aku harus melunasi semua utangku, aku lupa bahwa akupun mempunyai uang yang ku tabung, walau tak seberapa tapi bisa untuk sedikit menutup semua untangku, tapi mungkin tak bisa sekaligus dengan membayar uang kuliah jika beasiswaku memang tak lagi ada dan pembekuan uangku dibank masih belum bisa cair.
Aku harus bekerja membantu orangtua dirumah, aku tak bisa kemana-mana dan tak bisa meminta bantuan kepada siapa-siapa untuk mengurus perkuliahanku disana karena ini masih musim liburan, tak ada teman yang ada disana kecuali orang yang mondok atau semester tua. Bapakku masih sakit dan adikku yang kecil sakit parah hingga opnam, hingga tabunganku pun harus kurelakan semuanya yang ingin kubelikan laptop baru dan membangun usaha baru kembali setelah bisa melunasi semua utang-utangku dan cicilan motorku.
Saat itu aku sudah sangat bingung dengan keadaanku yang masih kurang sehat juga untuk pergi jauh. Hingga aku harus kekota dan mengurus uangku dibank. Dan saat kutanyakan semua pembekuan uang itu. Ternyata isi tabunganku tertulis aku sudah mengambil semua uang ditabunganku pada tahun lalu, bukan pembekuan melainkan kebobolan yang kupikirkan saat itu. 30jt terbobol ditabungan sudah lama. Gila darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu ditabungan dan seketika juga bobol hilang semua isi ditabungan.
Aku merasa lemas seketika itu, kini aku hanya bisa melunasi uang teman dan sebagian sisa uang koperasi yang kusimpan dibank menjadi sebuah utang semua saat ini dengan utang dahulu. Kembali kuhubungi orang yang bisa membantuku dikota, tapi kembali lagi, tak ada respon semuanya tak punya pulsa atau kuota, entahlah. Yang jelas mungkin menhindar dariku yang mungkin tahu aku sedang mencari mereka karena membutuhkan, begitu hinanya ku saat ini. Aku datang kepada semua teman hanya karena aku membutuhkan saja. Kini aku merasakan sendiri akibat dahulu apa kulakukan mungkin kurang ikhlasnya diriku menjadi sebab kini semua orang tak ada disaat ku membutuhkan.
Kini kusadar dari semua kesalahanku dahulu. Kini aku harus selalu bersyukur apa yang aku nikmati dan dapatkan. Semuanya pasti kan ada hikmah dan jalannya. Walaupun saat ini aku harus terpuruk tertekan hingga jatuh sakit kembali dengan sakit dahulu yang kembali kurasakan. Walaupun semuanya meninggalkanku dan mungkin jalanku harus menanggalkan status mahasiswaku untuk fokus membantu dirumah, disaat amanahku yang sangat banyak itulah jalan yang terbaik. Tak ada teman sejati yang dapat berjalan bersama disini. Hanya dapat berjalan sendiri dan aku masih mempunyai Allah yang akan selalu membantuku suatu saat nanti.
Tepat dibulan ini, bulan yang spesial bagiku aku menuliskan tulisan ini untuk saling berbagi cerita tentang kehidupan. Betapa pentingnya membantu oranglain dan mengutamakan yang membutuhkan tetapi ingat dengan kemampuan diri. Hingga tak berujung kecewa, dan belajar rasa ikhlas dari dalam hati menerima semuanya kenyataan dengan bersyukur hari ini bisa menghirup udara segar saja dan sesuap nasi sudah sangat bersyukur. Betapa indahnya hidup dengan syukur tak perlu muluk-muluk untuk melupakan semua nikmat-Nya.
Walaupun kini akupun sendiri belum mendapatkan pencerahan, inilah ujianku. Bagaimana cara mengembalikan keceriaanku? Bagaimana menghapus semua beban yang ada dipikiran? Entah saat ini aku belum menemukannya. Yang jelas saat ini dipenghujung akhir bulan kedua tahun kera api. Aku masih menghirup nafas dengan berbagai tekanan dan pikiran yang entah kemana langkah ini harus diambil. Sakit ini hanya sebuah ujian sabarku, walaupun sakitku yang dahulu ketika muncul karena sebuah pengorbanan kembali datang karena sebuah sakit hati dan umbaran yang menambah tekanan dipikiran masalaluku yang buruk hingga tak dihargai. Mungkin sakitku ini akan menjadi pengobat kesalahanku itu untuk memurnikan pengorbanan. Kini hanya bisa menerima yang sudah terjadi dan berusaha menikmati hidup dengan percaya, hidup itu akan indah pada saatnya.
Yang aku inginkan saat ini hanya mengembalikan kebahagiaan semua orang yang pernah kusakiti karena kejahatanku.

21 Feb 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar