Senin, 31 Desember 2018

Fatamorgana, Sesaat Sebelum Pergi

Hari ini adalah kemo keduaku, setelah dua minggu lalu kemo yang pertama berhasil dengan sukses. Hanya keadaan yang sedikit drop setelah kemo itu, namun bersyukur ketahanan tubuhku masih kuat dan kini sudah siap untuk menjalani kemo yang kedua. 
Rambutku perlahan rontok satu persatu, membotaklah rambut bagian tengah. Hingga kakiku pun mulai melemah, hanya dibantu dengan kursi roda. Pagi ini pun aku kembali menikmati masa sebelum dimulai kemo. Aku duduk sendiri menikmati udara di taman. Kembali berandai dan berimajinasi sesuka hati untuk membuat bahagia. Karena aku sadar bahagiaku adalah aku sendiri yang membuatnya.
Serambi menikmati udara pagi hari, ditemani musik yang aku setel dari gawaiku. Memutar lagu,  "The best thing about tonight"s that we're not fighting it couldn't be that we have been this way before i know you don't think that i am trying i know you're wearing thin down to the core...."
Alunan lagu Fall For You dari Secondhand Serenade mengantarkanku pada cerita kala itu. Saat pertengkaranku dengan seseorang yang mengakibatkan luka yang mendalam untuk menggunakan aplikasi yang termodifikasi.
Kala itu pertengkaran dimulai karena orang yang sangat dekat denganku dan sudah menganggap aku adalah orang terdekatnya menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak pernah mempermasalahkannya sebelumnya karena awal hubungan kita baik-baik saja, hingga pada akhirnya permasalahan dimulai karena hal sepele, disembunyikan status sosial media untukku, tepatnya di sebuah Whatsapp aplikasi android yang sekarang digunakan untuk berkomunikasi, hingga menjadi sebuah permasalahan hanya karena cerita disembunyikan dan dikhususkan. Di saat aku pun menggunakan WA MOD, aplikasi WA yang sudah dimodifikasi untuk mengetahui seseorang mengkhususkan atau mengecualikan untuk kita. Meskipun tidak akurat untuk melihat status apa yang disembunyikan, namun bisa mencatat status dikecualikan oleh orang yang menyimpan nomor kontak. Aku memasang aplikasi tersebut sudah dimulai saat aku bertengkar dengan teman satu organisasi yang ternyata sering mengeluhkan dan mencelaku lewat status namun disembunyikan, hingga aku mengetahui hal tersebut dari teman satu organisasi pula yang memberiku aplikasi WA MOD.
Awal berpikir, semua akan baik-baik saja menggunakan aplikasi ini, hingga tanpa sadar ternyata ada seseorang yang sangat dekat denganku pun mulai bermain denganku, aku tak tahu apa masalahnya, tapi jika sudah membahas soal urusan hati, tidak semudah itu menganggap itu biasa. Semuanya tak akan biasa, karena aku sendiri menyimpan perasaanku padanya, namun aku sendiri tak pernah ingin mengungkapkannya, namun seolah-olah dia mengetahui dan mencoba menghindariku untuk berkata "Aku tak ingin menyakiti orang yang menyukai ku, aku ingin menghindari patah hati kepadaku, aku ga pengen melihat dia terluka dengan statusku." Aku sangat menghindari ada perkataan tersebut di dikatakan oleh orang yang aku sukai. Kadang seseorang hanya ingin menyukai seseorang itu karena kenyamanan saat bersama, karena paras, karena sifat, bahkan karena seseorang itu selalu ada bersama kita. Tak serta merta rasa suka itu akan dilanjutkan dengan perasaan ingin memiliki, karena kita masing-masing bisa memperkirakan hal-hal yang akan menyakiti hati kita sendiri bahkan menyakiti seseorang tersebut. 
Kadang memang lucu, hanya karena menyembunyikan status dari kita saja itu dipermasalahkan. Tapi, memang sengaja dilakukan pasti pula ada alasannya. Dan alasan terbesar jika tidak menyimpannya karena malu untuk dibeberkan kepada seseorang itu ya berarti menghindari karena membenci seseorang itu. Dan disitulah alasan aku mempertanyakannya "apakah dia juga memiliki perasaan yang sama atau bahkan membenciku?" pikiran itu terus membayangi hingga baper pun dibawa-bawa dalam permasalahanku, yang awalnya perasaanku bisa aku kontrol sekarang porak-poranda karena hal tersebut. Mungkin katanya ia menganggap aku ribet dan menyebalkan hanya karena hal tersebut. Tapi, ibarat dia bukan orang yang dekat denganku, dia bukan menyembunyikan karena ada sesuatu dariku aku tak akan mempermasalahkannya, karena pada intinya ketahuan dia mempunyai sebuah problema denganku, dan kita sebenarnya teman akrab yang saling terbuka, saling sharing satu samalain, namun justru ternyata dia mempunyai unek-unek dibelakangku yang hanya dituliskan pada sebuah status yang kadang jika ketahuan akan merasa kesindir dan bertanya-tanya. Tapi, semua itu hal wajar, dia merasa hal itu baik-baik saja karena dia sendiri mungkin tidak menganggap diriku orang terdekatnya, dan tak penting sedikitpun. Kebaperanku pun dilanjut, ternyata selama ini, dia tidak pernah menganggap aku didepannya sebagai orang yang berpengaruh dalam hidupnya, hanya sebuah udara yang hanya lewat begitu saja. Tak berarti apa-apa bahkan untuk mengatakan pada dunia pun malu jika dekat dengan seseorang bernama "Aku".
Ingatanku terus mengulik kejadian kala itu, hingga tanpa sadar, sudah dua jam aku berada di taman dalam rumahsakit ini, sendirian, tanpa ada orang yang mendatangiku hingga kadang aku berimajinasi, andaikan dia mau datang menemaniku disini, atau sekadar menyemangati, atau bahkan hanya sekadar menengok atau menanyakan kabar tentangku saja aku sudah sangat senang.
Terkadang aku selalu jaim dan mengatakan muak jika orang yang aku sayang datang menanyakan kabar dan mengkhawatirkanku, aku selalu marah dan mengatakan tidak usah, tak perlu, namun sesungguhnya dalam hati aku sangat senang dan hatiku terasa bahagia sekali ternyata dia mengkhawatirkanku, meskipun sering aku jaim untuk tidak usah mengetahui keadaanku, aku malu mengungkapkan itu semua, namun memang dalam hatiku ada rasa yang sangat senang dan ingin. 
Namun, kini aku sadar semua itu hanya imajinasi saja, dia takkan peduli denganku, yang ada dipikirannya hanya enggan berhubungan denganku, enggan untuk mengetahui kabarku hingga semua statusku pun sudah dia kendalikan untuk tidak ingin melihatnya, tidak ingin diganggu oleh pemandangan kehadiran bernama "Aku". Aku tahu semenjak masalah kala itu selesai, dan berdamai tahu satu samalain, kini ia kembali melakukannya, masih bermain dengan hatiku, untuk kembali menyembunyikan statusnya yang kadang aku sendiri juga demikian, karena aku sendiri mempunyai perasaan dengannya, aku tidak mau keadaanku disini dia mengetahui lewat statusku. Namun, aku pun tahu, dia sebenarnya tahu keberadaanku, selama aku sakit, dia tidak pernah ingin menengokku dan belum satu pun dia ingin kesini. Aku sadar, aku si siapa hanya menjadi pengganggu hidupnya. Tak seharusnya aku berharap seperti itu, hanya datang menanyakan kabar lewat pesan saja sudah sangat menggembirakan meskipun mungkin tidak akan aku balas, takut berlanjut menjadi patah hati lagi.
Kini, aku hanya berimajinasi saja, dia datang didepanku, menemaniku pagi ini lalu tersenyum dan bercanda bersama sebelum kemo kedua pun dimulai. Sebelum semuanya memang benar-benar pergi. Sebelum aku tak lagi bisa menikmati senyumnya dan candannya kembali. Tapi, aku tersadar semua itu hanya lah semu, bahkan aku tahu dia mengetahui namun sedikitpun tidak ingin peduli, justru berpikir mungkin aku terlalu menyedihkan.
Dibalik imajinasiku, aku mengetahui mungkin dengan dia kembali menghindari statusku dia jauh lebih bahagia, dia pun terlihat sudah sangat bahagia bersama kehidupannya, bersama orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Aku hanya berharap jaga diri baik-baik, bahagialah selalu, maaf jika selama kenal denganku tidak pernah bisa membahagiakannya hanya merepotkan dan menjadi beban hidupnya saja.
Melihat waktu, sudah menunjukan pukul 11.00 saatnya kontrol dan harus kembali ke ruangan. Khawatir keluarga menungguku terlalu lama, dan kembali menanti dokter spesialis menyuntikan serumnya yang mungkin untuk menahanku untuk bahagia sehari lagi. Berasa seperti kecanduan yang luar biasa, aku seperti sekarat dalam obat. Hidupku bergantung dari obat katanya. Tapi, aku berpikir hidupku tidak bergantung pada obat, semua itu hanya perantara dari Tuhan, dan semua pun bergantung pada kebahagiaanku. Hidup itu hanya untuk mencari kebahagiaan. Selain itu hanya fatamorgana.


Sesaat sebelum ditutupnya tahun 2018 yang membosankan.

Kamis, 20 Desember 2018

Putri Lilia

Bunga itu layu tadi malam,
Bunga itu mekar tadi malam,
Bunga itu hilang tadi malam,
Aku mengetuk mataku,
Aku mengetuk pintu hatiku,
Aku mengetuk ingatanku,
Aku membuka imajinasiku,
Aku melihat bunga bernama Lilia itu didepan pekarangan rumah,
bunga itu dibawa oleh seorang wanita yang berduka pada malam hari,
lalu bunga itu ditaruhlah kedalam sebuah gundukan tanah disebelah rumah,
sepuluh menit kemudian aku mendengar suara toa masjid mengumandangkan
'Innalillahiwainalillahi rojiun'
Sontak aku berlari mengejar wanita tersebut, ternyata dibawanya aku pada sebuah rumah duka.
Malam itu, aku melihat kematianmu diseberang jalan sebelah rumah.
Selamat jalan wahai tetangga, kau ku sebut Putri Lilia malam ini.

Pukul 22.00

Pagi ini, adalah pagi dimana aku harus memulai kemo yang pertama kali di rumahsakit tempat akupun kehilangan orang yang disayang. Dimana dua tahun yang lalu aku diseret oleh ketakutan terbesar yaitu mengetahui bahwa orang yang aku sayangi meninggal karena kemo pertamanya gagal. Kondisinya menurun drastis setelah mengalami satu minggu masa pemulihan untuk memulai kemo. Di hari itu nampak kondisinya sudah lumayan membaik dan demamnya sudah mulai turun satu celcius. Di mulainya kemo pertama dia saat aku mencoba menembus ke dalam ruangan yang seharusnya aku tidak diperbolehkan datang, karena itu permintaan dia. Dia tidak ingin melihat aku dalam keadaan menyedihkan. Aku memaksanya untuk masuk dan melihat dia sudah masuk ruang kemo dan keluarganya pun berkata "semua kan baik-baik saja" karena kondisinya sudah mulai membaik. Aku pikir aku hanya menitipkan sebuah karya ucapan selamat berjuang dan ucapan semangat agar dia tahu bahwa masih banyak orang yang ada disampingnya meski ia tolak sekalipun kehadirannya. Aku berharap dengan terus memberikan dukungan dan semangat membuat dia tak padam semangatnya dan terus berjuang melawan sakitnya bersama-sama, karena disitu akupun sudah mengerahkan sahabat-sahabat dekatnya, mantan kekasihnya, sampai orang-orang yang berpotensi bisa membahagiakan dia untuk ikut andil dalam rencana yang aku lakukan, sampai pada akhirnya tersisa aku sendirian yang masih terus ada bersamanya. Namun, setelah apa yang aku lihat, dan aku tak berani terlihat olehnya, setidaknya aku lega mendengar kabar bahwa dia baik-baik saja, dan aku pun pulang dengan perasaan sedikit tenang. Namun, semua itu pudar setelah seminggu kemudian aku mendengar ternyata setelah kemo pertama itu kondisinya terus menurun hingga dia sudah mulai dililit selang diseluruh tubuhnya untuk membantunya terus bertahan hidup. Selama seminggu itu aku dibohongi keluarganya, mereka menutupi semua kejadian itu karena itu adalah permintaan dari dia langsung. Aku selalu diberi kabar bagus lewat saudaranya yang kebetulan masih satu lingkup kuliah di Kota yang sama. Aku dihilangkan kabar bahwa dia sudah mulai tidak baik. Hingga pada akhirnya selang seminggu kemonya, aku memaksa datang ke rumahsakit bersama sahabatnya, dan tiba diluar ibunya langsung menangis memelukku seraya berkata "Ikhlaskanlah semua kesalahannya, mohon jika ada salah dimaafkan". Sontak aku menengok dalam jendela pintu masuk, dia sudah tak berdaya dan menghembuskan nafas terakhirnya tepat dua jam setelah kepulanganku dari rumahsakit.

Dari kejadian flashback itu, aku menganggap, aku sekarang berada diposisi yang sama dengannya. Betapa, rasa ketakutan itu terus dihantui, rasa bersalah, rasa penyesalan yang sangat kacau. Tiap malam sebelum tidur aku harus selalu merasa kamu datang diruangan kamarku, dan berkata "semua kan baik-baik saja, aku menunggumu". 
Tiap hari harus mencari semangat untuk diri sendiri. Ternyata aku bersyukur meskipun dahulu aku bukan orang yang diharapkannya, aku selalu dihindari untuk bertemu, tapi setidaknya aku mendengar dari kerabatnya jika kedatanganku, ucapan-ucapan yang selalu datang untuk menyemangatinya selalu membuat dia tersenyum dan sedikit membuatnya semangat. Meskipun dulu aku harus berkorban perasaan, merasa diri serendah mungkin memohon kepada orang-orang yang sempat menjadi musuhku, bahkan rela malu untuk membuatnya tersenyum. Aku merasakan apa yang pernah aku lakukan dulu bisa menjadi semangatku sendiri. Meskipun tidak ada orang yang pedulu denganku saat ini karena aku sengaja menghindari kabar kurang baik dari diriku sendiri. Aku pun berpikiran sama berharap tidak ada yang mengetahui keberadaan dan mengetahui jika aku terkapar lemas merasa lemah. Aku merasakan saat aku mengalami kehilangan yang sangat dalam, hingga mungkin saat ini aku berharap tidak orang yang perlu sengaja peduli denganku. Biarkan semua berjalan dengan normal saja, selayaknya biasanya, tidak perlu ada yang dihebohkan dengan segala macam keadaan yang sedang dialami. Aku tidak mengemis berharap dikasihani dan dipedulikan hanya karena aku sakit. Aku lemah, bukan berarti aku tidak bisa bangkit, aku pun berharap ada orang yang benar-benar peduli denganku bukan sekadar saat aku terjatuh baru mereka datang berpura-pura peduli, padahal saat sedang bersama selalu dicampakkan bahkan diabaikan begitu saja. 
Mungkin, karena pikiran itulah aku selalu berharap jika aku terus sakit agar semua orang terus peduli terhadapku. Akibat pemikiranku itu akhirnya aku mendapatkan imbasnya saat ini.
Pagi ini, didepan taman Kariadi aku melamun dan melantur perkataan sedemikian rupa, ingatanku terus mengulik masalalu ditempat ini, imajinasiku terus berputar mengandaikan orang yang aku sayang datang menemaniku didetik-detik sebelum kemo pertamaku dimulai. 
Tetiba lamunanku buyar seketika ketika ada orang yang mengetuk pundakku. Aku sedang duduk sendiri ditaman dengan bantuan kursi roda yang nampaknya aku masih bisa menggenjot sendiri. 
Ternyata orang yang menepuk pundakku adalah teman-teman dari sebuah organisasi yang datang ramai-ramai menjengukku, sontak aku kaget tahu darimana mereka soal aku disini?. Nampaknya, saudara saya punya teman dekat dengan teman-teman organisasi saya hingga perlahan bocor. Aku berharap tidak ada yang tahu keadaanku disini, namun aku sangat senang mereka datang disini menyemangatiku.
Ada salah seorang teman yang dulu pernah aku taksir mengucapkan sebuah kalimat "Hey, kamu dari kapan disini, jahat banget ga ngabarin, aku hubungi juga ga pernah ngejawab ternyata kamu sakit. jahat kamu" dalam hati aku merasa senang ternyata dia mempedulikanku sejauh itu, dan saat dia mengirimkan pesan dalam hatiku pun merasa senang, tapi aku tak kuasa melanjutkan terus menatap layar hp yang kemungkinan mataku pun sudah mulai terserang radiasi. Proses tahap kemo juga perlu mengurangi radiasi dari layar hp, televisi, bahkan laptop yang tiap saat aku gunakan untuk menulis sebenarnya sudah dilarang. Tapi, nampaknya diera sekarang sangat sulit melepaskan itu semua. Pada nyatanya aku hanya bisa mengurangi, bukan menghindari. Setidaknya mataku pun mulai kehilangan pandangannya saat ini. Aku sudah mulai merasa semuanya sudah sampai mengenai seluruh organ hingga aku harus bertahan disini sementara waktu sampai entah waktu yang ditentukan.
Hampir setengah hari mereka mau rela disini menemaniku untuk menghibur sebelum kemo pertama besok dimulai. Mereka datang dan pulang silih bergantian, menghiburku dan tidak sama sekali menghardik soal penyakitku, karena aku tahu mereka menjaga perasaanku. Hingga akhirnya senja pun mengakhiri pertemuan kita.
Tiba kembali disuatu malam, aku selalu menantikan dan menunggu pukul 22.00 keatas. Diruangan yang mulai sepi dan keluargaku pun sudah mulai terlelap semua, orang-orang kesakitan lainnya sudah pulas tertidur. Aku kembali merasakan hawa-hawa yang mulai membuat bulu kudu merinding namun selalu aku nantikan malam itu. Dimana mulai ada sesuatu yang aneh disetiap lorong kamar yang aku tempati, ada suara jeritan-jeritan tak jelas dan samar-samar sering terdengar bahkan suara anak kecil yang merengek-rengek bahkan tertawa. Tiap pukul 22.00 aku mulai merasakan kehadiranmu yang lama tlah menghilang dari kehidupanku. Aku merasakan kedatanganku dengan membawa pesan yang sama, "kamu akan baik-baik saja, aku menunggumu" dengan dittutup dengan senyuman yang tetiba menghilang dari sayub-sayub kegelapan. Entah apa yang selalu aku lihat tiap malam, halusinasiku selalu membuyarkanku pada tetesan air mata yang tetiba terbangun. Aku menyadari apa yang sedang aku nikmati sekarang bukannya ketakutan untuk mati, tapi berharap berakhir dengan senyuman. Aku selalu berharap apa yang aku alami sekarang selalu menjadi kebahagiaan dan menikmati semua proses, meskipun aku selalu berharap datangnya orang yang bisa membuatku bahagia. Aku selalu salah menilai bahwa aku bahagia karena ada orang yang bisa membahagiaanku, padahal kebahagiaan datang dengan cara bagaimana kita bisa membuatnya menjadi bahagia.
Singkat cerita, aku tidak membutuhkan apapun selain kebahagiaan.
Aku mencintai seseorang dengan diam pun berharap aku selalu bahagia dengan tidak diketahui agar tidak merasakan pahitnya kenyataan dengan patah hati.
Setidaknya cara mencintaiku tidak membuatnya terluka, dan berharap bisa selalu bersama menikmati tawa itupun sudah cukup.
Tak perlu dengan datang mengatakan bahwa aku butuh bantuanmu untuk menghibur, dan berharap peduli dengan mengetahui keadaanku sekarang.
Setidaknya dengan bicara keadaan selalu baik-baik saja bisa membuat orang yang saya sayangi tidak terbebani rasa apapun denganku. Selalu bisa membuatnya bahagia pun itu sudah sangat cukup buatku.
Aku belajar mencintai dan dicintai semua karena pengalamanku dengan orang yang selalu menghantui datang tiap malam. Aku belajar banyak tentang ruangan ini. Aku belajar banyak tentang sakit ini, aku belajar banyak tentang kehidupan yang penuh dengan luka. Dan aku ingin menikmatinya dengan bahagia dan bersyukur.

Dan pagi ini, aku tinggal menanti kedatanganmu dan malam pukul 22.00 lagi untuk terakhir kalinya sebelum dipindahkan ke ruang kemotheraphy selama seminggu.

selesai....

Selasa, 11 Desember 2018

Bagian Akhir, dan Ini Adalah Awal

Nafasku terhela tak beraturan. Semakin lama, semakin memelan dan mulai tersendat. Jantung berdebar hebat pagi ini. Rutinitas setiap pagi yang terjadi belakangan ini. Setiap kali terbangun dari tidur lelap. Pikiranku selalu tertuju pada kejadian yang sudah berlalu. Kenyataan yang masih belum bisa aku terima dengan baik dalam hati. Perlahan aku mencoba mengikhlaskan dan melupakan yang sudah terjadi, namun pikiran manusia saat terbangun adalah alamiah. Apalagi setelah melakukan perjalanan mimpi yang indah, dan terbangun ternyata kenyataan tak sesuai yang dimimpikan. Perlahan aku pun mengatur ritme pernafasanku untuk tenang. Ada sedikit trauma yang mendalam tentang kejadian yang sedang dialami. Tentunya hal ini pernah aku rasakan, dan itu sungguh pengalaman yang menyakitkan hingga sampai saat ini perasaan takut dan gelisah pun selalu muncul tatkala membuka mata.
Aku mulai dari menggerakan kepala mencari petunjuk arah jarum jam dan menengok ke jendela. Ternyata cahaya sudah mulai masuk menerobos celah ventilasi kamar kos. Hari ini aku berada di sebuah kota yang ku sebut Kota Kenangan. Aku kembali berada di kota ini untuk sebuah kenangan dan urusan yang mendesak. Mendesak tidak mendesak ya anggap saja itu sebuah desakan karena mumpung lewat dari perjalanan jauhku. Dan cerita semalam mengantarkanku pada kelelahan yang luar biasa.
Aku memang masih membutuhkan istirahat, setelah perjalanan jauhku yang sangat menguras tenaga, aku harus kembali menuju kota ini untuk melanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan jauhku adalah perjalanan menghapus luka. Mungkin dengan hobiku yang suka keliling Indonesia, menjajali beraneka kehidupan di luar sana, mencari tantangan baru, dan mencari kehidupan baru untuk mendapatkan banyak pengalaman dan cerita semasa hidup. Dengan melakukan perjalanan menghapus luka, setidaknya aku tidak melarikan diri dari sebuah masalah, namun mencari kejernihan hati dan otak untuk kembali menghadapi setiap permasalahan yang sedang di hadapi. Aku memang orang yang sangat peduli dengan kesehatan namun aku suka dengan tantangan. 
Setelah menyelesaikan perjalanan jauhku, ada hal yang memang mungkin harus aku tuntaskan juga setelah itu, aku menyelesaikan semua urusan yang masih mengganjal dalam hati hingga pada akhirnya aku memaksakan untuk terus beraktivitas.
Namun, rencana tak selalu mulus, aku pikir aku bisa menyelesaikannya dengan damai dan dengan waktu yang singkat agar aku pun bisa menghela nafas lebih lama dan beristirahat sejenak. Namun, alam memaksaku harus menyelesaikan masalah hingga larut malam dan hujan pun membantu memberikan anugerahnya hingga aku masih tertahan dengan helaan nafas yang sebenarnya mulai kacau karena kelelahan. 
Sebenarnya ada rasa kantuk dan lelah disana, namun hujan membawaku untuk tidak melanjutkan untuk mengakhiri malam itu, karena aku membawa seseorang yang mungkin akan basah dan kehujanan. Aku tak ingin membuat sakit seseorang, biar aku sendiri yang sakit, jangan buat orang sakit, karena waktu yang sudah diberikan untukku sampai larut malam. Namun, keadaan memaksaku untuk menerobos pulang, aku pun tak mau kelamaan terjebak pada posisi yang kurang nyaman dengan orang yang mungkin diam seribu kata dan memalingkan mukanya tiap saat. Eluhan yang mungkin aku rasa ia ingin segera mengakhiri malam itu. Ia ingin segera pulang dengan segala raut muka masamnya yang mulai kelelahan. Disitu aku merasakan kebingungan antara, aku harus memaksa menerjang hujan demi dia yang mulai ingin pulang, dan aku harus tertahan sejenak menunggu hujan reda agar dia tak kehujanan di malam hari yang mungkin akan membuatnya sakit, begitupun dengan fisikku yang mungkin kurang memungkinkan jika kembali karena sudah sangat larut, aku pasti akan tertahan dalam sebuah warung faforit untuk berteduh sampai pagi.
Namun, akhirnya aku menawarkan untuk pulang saja, daripada aku sendiri merasa tak enak hati dalam posisi tersebut. Aku membawa dia pulang dengan hujan yang masih mengguyur kota itu. Hingga aku harus basah sekujur tubuh tertahan di warung untuk berteduh sampai pagi. Dari baju kering menuju basah, dari basah kembali mengering di tubuh sampai pagi. 
Ada hal yang masih belum aku selesaikan di hari itu. Ada janji yang belum sempat aku tepati. Dan pagi itu, untuk menggerakan tubuh saja sudah sangat berat dan badan serasa dipukuli sampai babak belur. Semua serasa remuk beserta hati yang memang sedang kurang sehat. Ternyata benar kata orang, perasaan hati dan pikiran mempengaruhi fisik yang membuat semakin lemas. Ternyata di dalam hati tersembunyi imun penyemangat dan obat untuk bisa merasa baik. Di dalam hati yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Di dalam pikiran yang jernih pun terdapat semangat yang membara. Kini, semua keadaan membantuku untuk tersungkur jatuh lemah tak berdaya. Sampai teman kosku berkata ada yang berbeda denganku yang lesu, lemah, dan terlihat sedih. Entah apa yang diucapkannya melihat dari kondisiku saat itu, aku hanya berpikir kenapa semuanya terasa berat dan tak berdaya. Tubuh seakan tak bisa diajak kompromi, dan nafas semakin terengah tak karuan. Perlahan aku mencoba menata kembali semangat dan mengumpulkan tenaga untuk bergerak. Karena masih ada yang harus aku kerjakan, dan aku pun harus pulang. Namun, nampaknya saat itu aku susah untuk melakukannya hingga mataku mulai merasakan kunang-kunang, nafas mulai tersengal dan jantung mulai lemah untuk berdetak. Seketika aku hilang kendali dan tak sadarkan diri.
Sebangun dari apa yang telah terjadi, aku sudah berada pada keadaan setengah sadar, aku tak mampu berpikir apapun, aku tak mampu melayangkan sepatah kata pun dari mulutku. Aku membuka mata dan aku sudah berada di tempat yang dipenuhi dengan cahaya bulat yang menyilaukan, bau yang terasa familiar yang membuatku tambah kacau, dan dengan seluruh badan yang sudah terinfus. Nampaknya aku mendengar perkataan bahwa aku harus segera dibawa untuk penanganan yang lebih serius. Aku yang tak biasa dengan hal yang serius kini aku harus menjalani sesuatu yang serius.
Ya, sebenarnya ini sudah lama aku mengalami hal yang aneh, namun aku terus menolak kenyataan bahwa aku sudah tidak senormal dulu. Aku selalu menolak takdir, bahwa aku sekarang sudah tidak baik lagi dan kata orang-orang yang tahu, aku harus segera ditangani. Namun, aku tak pernah menganggap itu serius dan aku selalu berpikir bahwa aku baik-baik saja. Aku enggan mengikuti ucapan-ucapan buruk orang yang berkata seperti itu. Aku terus menganggap diriku baik-baik saja, karena dengan berpikiran baik, aku pun akan terus baik. Namun, kini aku sudah tak bisa berbohong dengan diriku sendiri. Aku sudah terjatuh lemah tak berdaya, dan aku harus menerima kenyataan bahwa saat ini aku sudah memulai tahapan baru dalam hidup. Aku sudah tak senormal dulu, dan aku harus menerima kenyataan jika sewaktu-waktu aku sudah tak sanggup menikmati hidup yang menyenangkan lagi. Ya meskipun aku sedang merasakan hal yang menurutku tidak menyenangkan dan merasa bahwa hidupku ternyata tak begitu penting. Aku tak merasakan kebahagiaan yang bisa aku dapatkan. Namun, aku ingin berusaha mendapatkannya. Saat ini aku pun sudah kehilangan asa untuk melakukan apapun. Aku sudah tak berdaya untuk tetap berpikir semua baik-baik saja dan berharap ada yang bisa membuatku bahagia dari sisa-sisa kebahagiaan.
Ini adalah bagian akhir dari hidupku yang lalu, dan kini aku harus memulai bagian awal yang baru pula dalam hidupku selanjutnya. 
Seketika ada orang menghampiriku perlahan dan mengucapkan, "Mulai besok kamu harus istirahat total ya disini, dan minggu depan akan dimulai kemo pertamamu, semangat ya? kamu pasti bisa!". Seketika itu pula aku menyadari, inilah ketakutan yang paling besar, inikah ujung takdir yang harus dijalani? Apakah aku bisa kembali beranjak merasakan kebahagiaan? Apakah aku bisa membahagiaan orang-orang yang aku sayangi lagi? Apakah aku bisa menikmati bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi? Atau aku harus menjalani penderitaan ini sendiri berteman sepi? Aku mulai tak punya sedikitpun harapan untuk bersemangat. Apapun yang kujalani saat ini sudah menjadi akhir bagiku, dan awal bagi penderitaanku. 


to be continue...


Rabu, 07 November 2018

cerpen belum selesai

Aku seperti terbangun dari tidur yang lelap. Segalanya serba memberat. Kepala berat. Otak berat. Hati. Tubuh berat. Ku gerakkan tangan, kaki, lirikan mata ke kanan dan ke kiri, semuanya terasa semu. Detak jantung penuh debaran yang kurasa sesak dalam tiap helaan napas yang terengah-engah.
Telingaku menangkap suara riuh angin yang sedang berpesta di alam raya. Sepertinya mereka sudah lelah dengan kejemuan karena terabaikan. Ada pula suara isak sendu terdengar dengan lirih, perlahan-lahan mengoyak hati yang semakin mendebarkan. Segalanya ini seperti membangunkanku dari sebuah kelelapan tidur yang sangat lama di negeri dongeng sana.
Kubuka mataku perlahan-lahan, seakan kabut masih menggumpal dalam lensa mataku, menggayut berat, dari remang-remang perlahan sepenuhnya mulai jelas. Kutangkap denyar pagi dari kisi-kisi pondok pesanggrahan Pak Diman, nyiur melambai burung-burung yang bernyanyi riang dalam gubug sawah. Pertanda pagi sudah kembali  

Jumat, 26 Oktober 2018

Rois said: Ngapak Version

Sing penting ko pada bahagia, nyong gampang kapan-kapan.
Onlinemu nggo sapa? Ko online udu nggo nyong, nyong li sisa lewihan.
Sadar diri, aku udu prioritas anu ora due kapasitas.
Aku mung numpang lewat, ora kanggo blas.
Story mu bae diarsipna, mbok ora penting banget bagi kae? kudu sadar diri ben ora lara ati.
Aja dadi benalu, story mu bae di arsipna, kaya ngganggu pemandangan hpne.
Aja kakeyen berharap, mengko atine megap-megap.
Kae be cuek, ko aja ngetek.

Pernah merasakan satu dua pengalaman seperti diatas? hahaha
Kasian kan? Terima saja dan ikhlaskan, mungkin sudah nasib.
Ya mulai sekarang sadar diri yuk, dan jaga hati biar tidak terlalu patah hati.
Tadi hanyalah sebuah ungkapan atau keluhan hati yang sering terjadi namun tidak pernah kita sadari.
Semoga bermanfaat. See You (:

26 Okt dalam kamar peristirahatan