Hari ini adalah kemo keduaku, setelah dua minggu lalu kemo yang pertama berhasil dengan sukses. Hanya keadaan yang sedikit drop setelah kemo itu, namun bersyukur ketahanan tubuhku masih kuat dan kini sudah siap untuk menjalani kemo yang kedua.
Rambutku perlahan rontok satu persatu, membotaklah rambut bagian tengah. Hingga kakiku pun mulai melemah, hanya dibantu dengan kursi roda. Pagi ini pun aku kembali menikmati masa sebelum dimulai kemo. Aku duduk sendiri menikmati udara di taman. Kembali berandai dan berimajinasi sesuka hati untuk membuat bahagia. Karena aku sadar bahagiaku adalah aku sendiri yang membuatnya.
Serambi menikmati udara pagi hari, ditemani musik yang aku setel dari gawaiku. Memutar lagu, "The best thing about tonight"s that we're not fighting it couldn't be that we have been this way before i know you don't think that i am trying i know you're wearing thin down to the core...."
Alunan lagu Fall For You dari Secondhand Serenade mengantarkanku pada cerita kala itu. Saat pertengkaranku dengan seseorang yang mengakibatkan luka yang mendalam untuk menggunakan aplikasi yang termodifikasi.
Kala itu pertengkaran dimulai karena orang yang sangat dekat denganku dan sudah menganggap aku adalah orang terdekatnya menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak pernah mempermasalahkannya sebelumnya karena awal hubungan kita baik-baik saja, hingga pada akhirnya permasalahan dimulai karena hal sepele, disembunyikan status sosial media untukku, tepatnya di sebuah Whatsapp aplikasi android yang sekarang digunakan untuk berkomunikasi, hingga menjadi sebuah permasalahan hanya karena cerita disembunyikan dan dikhususkan. Di saat aku pun menggunakan WA MOD, aplikasi WA yang sudah dimodifikasi untuk mengetahui seseorang mengkhususkan atau mengecualikan untuk kita. Meskipun tidak akurat untuk melihat status apa yang disembunyikan, namun bisa mencatat status dikecualikan oleh orang yang menyimpan nomor kontak. Aku memasang aplikasi tersebut sudah dimulai saat aku bertengkar dengan teman satu organisasi yang ternyata sering mengeluhkan dan mencelaku lewat status namun disembunyikan, hingga aku mengetahui hal tersebut dari teman satu organisasi pula yang memberiku aplikasi WA MOD.
Awal berpikir, semua akan baik-baik saja menggunakan aplikasi ini, hingga tanpa sadar ternyata ada seseorang yang sangat dekat denganku pun mulai bermain denganku, aku tak tahu apa masalahnya, tapi jika sudah membahas soal urusan hati, tidak semudah itu menganggap itu biasa. Semuanya tak akan biasa, karena aku sendiri menyimpan perasaanku padanya, namun aku sendiri tak pernah ingin mengungkapkannya, namun seolah-olah dia mengetahui dan mencoba menghindariku untuk berkata "Aku tak ingin menyakiti orang yang menyukai ku, aku ingin menghindari patah hati kepadaku, aku ga pengen melihat dia terluka dengan statusku." Aku sangat menghindari ada perkataan tersebut di dikatakan oleh orang yang aku sukai. Kadang seseorang hanya ingin menyukai seseorang itu karena kenyamanan saat bersama, karena paras, karena sifat, bahkan karena seseorang itu selalu ada bersama kita. Tak serta merta rasa suka itu akan dilanjutkan dengan perasaan ingin memiliki, karena kita masing-masing bisa memperkirakan hal-hal yang akan menyakiti hati kita sendiri bahkan menyakiti seseorang tersebut.
Kadang memang lucu, hanya karena menyembunyikan status dari kita saja itu dipermasalahkan. Tapi, memang sengaja dilakukan pasti pula ada alasannya. Dan alasan terbesar jika tidak menyimpannya karena malu untuk dibeberkan kepada seseorang itu ya berarti menghindari karena membenci seseorang itu. Dan disitulah alasan aku mempertanyakannya "apakah dia juga memiliki perasaan yang sama atau bahkan membenciku?" pikiran itu terus membayangi hingga baper pun dibawa-bawa dalam permasalahanku, yang awalnya perasaanku bisa aku kontrol sekarang porak-poranda karena hal tersebut. Mungkin katanya ia menganggap aku ribet dan menyebalkan hanya karena hal tersebut. Tapi, ibarat dia bukan orang yang dekat denganku, dia bukan menyembunyikan karena ada sesuatu dariku aku tak akan mempermasalahkannya, karena pada intinya ketahuan dia mempunyai sebuah problema denganku, dan kita sebenarnya teman akrab yang saling terbuka, saling sharing satu samalain, namun justru ternyata dia mempunyai unek-unek dibelakangku yang hanya dituliskan pada sebuah status yang kadang jika ketahuan akan merasa kesindir dan bertanya-tanya. Tapi, semua itu hal wajar, dia merasa hal itu baik-baik saja karena dia sendiri mungkin tidak menganggap diriku orang terdekatnya, dan tak penting sedikitpun. Kebaperanku pun dilanjut, ternyata selama ini, dia tidak pernah menganggap aku didepannya sebagai orang yang berpengaruh dalam hidupnya, hanya sebuah udara yang hanya lewat begitu saja. Tak berarti apa-apa bahkan untuk mengatakan pada dunia pun malu jika dekat dengan seseorang bernama "Aku".
Ingatanku terus mengulik kejadian kala itu, hingga tanpa sadar, sudah dua jam aku berada di taman dalam rumahsakit ini, sendirian, tanpa ada orang yang mendatangiku hingga kadang aku berimajinasi, andaikan dia mau datang menemaniku disini, atau sekadar menyemangati, atau bahkan hanya sekadar menengok atau menanyakan kabar tentangku saja aku sudah sangat senang.
Terkadang aku selalu jaim dan mengatakan muak jika orang yang aku sayang datang menanyakan kabar dan mengkhawatirkanku, aku selalu marah dan mengatakan tidak usah, tak perlu, namun sesungguhnya dalam hati aku sangat senang dan hatiku terasa bahagia sekali ternyata dia mengkhawatirkanku, meskipun sering aku jaim untuk tidak usah mengetahui keadaanku, aku malu mengungkapkan itu semua, namun memang dalam hatiku ada rasa yang sangat senang dan ingin.
Namun, kini aku sadar semua itu hanya imajinasi saja, dia takkan peduli denganku, yang ada dipikirannya hanya enggan berhubungan denganku, enggan untuk mengetahui kabarku hingga semua statusku pun sudah dia kendalikan untuk tidak ingin melihatnya, tidak ingin diganggu oleh pemandangan kehadiran bernama "Aku". Aku tahu semenjak masalah kala itu selesai, dan berdamai tahu satu samalain, kini ia kembali melakukannya, masih bermain dengan hatiku, untuk kembali menyembunyikan statusnya yang kadang aku sendiri juga demikian, karena aku sendiri mempunyai perasaan dengannya, aku tidak mau keadaanku disini dia mengetahui lewat statusku. Namun, aku pun tahu, dia sebenarnya tahu keberadaanku, selama aku sakit, dia tidak pernah ingin menengokku dan belum satu pun dia ingin kesini. Aku sadar, aku si siapa hanya menjadi pengganggu hidupnya. Tak seharusnya aku berharap seperti itu, hanya datang menanyakan kabar lewat pesan saja sudah sangat menggembirakan meskipun mungkin tidak akan aku balas, takut berlanjut menjadi patah hati lagi.
Kini, aku hanya berimajinasi saja, dia datang didepanku, menemaniku pagi ini lalu tersenyum dan bercanda bersama sebelum kemo kedua pun dimulai. Sebelum semuanya memang benar-benar pergi. Sebelum aku tak lagi bisa menikmati senyumnya dan candannya kembali. Tapi, aku tersadar semua itu hanya lah semu, bahkan aku tahu dia mengetahui namun sedikitpun tidak ingin peduli, justru berpikir mungkin aku terlalu menyedihkan.
Dibalik imajinasiku, aku mengetahui mungkin dengan dia kembali menghindari statusku dia jauh lebih bahagia, dia pun terlihat sudah sangat bahagia bersama kehidupannya, bersama orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya. Aku hanya berharap jaga diri baik-baik, bahagialah selalu, maaf jika selama kenal denganku tidak pernah bisa membahagiakannya hanya merepotkan dan menjadi beban hidupnya saja.
Melihat waktu, sudah menunjukan pukul 11.00 saatnya kontrol dan harus kembali ke ruangan. Khawatir keluarga menungguku terlalu lama, dan kembali menanti dokter spesialis menyuntikan serumnya yang mungkin untuk menahanku untuk bahagia sehari lagi. Berasa seperti kecanduan yang luar biasa, aku seperti sekarat dalam obat. Hidupku bergantung dari obat katanya. Tapi, aku berpikir hidupku tidak bergantung pada obat, semua itu hanya perantara dari Tuhan, dan semua pun bergantung pada kebahagiaanku. Hidup itu hanya untuk mencari kebahagiaan. Selain itu hanya fatamorgana.
Sesaat sebelum ditutupnya tahun 2018 yang membosankan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar