Selasa, 11 Desember 2018

Bagian Akhir, dan Ini Adalah Awal

Nafasku terhela tak beraturan. Semakin lama, semakin memelan dan mulai tersendat. Jantung berdebar hebat pagi ini. Rutinitas setiap pagi yang terjadi belakangan ini. Setiap kali terbangun dari tidur lelap. Pikiranku selalu tertuju pada kejadian yang sudah berlalu. Kenyataan yang masih belum bisa aku terima dengan baik dalam hati. Perlahan aku mencoba mengikhlaskan dan melupakan yang sudah terjadi, namun pikiran manusia saat terbangun adalah alamiah. Apalagi setelah melakukan perjalanan mimpi yang indah, dan terbangun ternyata kenyataan tak sesuai yang dimimpikan. Perlahan aku pun mengatur ritme pernafasanku untuk tenang. Ada sedikit trauma yang mendalam tentang kejadian yang sedang dialami. Tentunya hal ini pernah aku rasakan, dan itu sungguh pengalaman yang menyakitkan hingga sampai saat ini perasaan takut dan gelisah pun selalu muncul tatkala membuka mata.
Aku mulai dari menggerakan kepala mencari petunjuk arah jarum jam dan menengok ke jendela. Ternyata cahaya sudah mulai masuk menerobos celah ventilasi kamar kos. Hari ini aku berada di sebuah kota yang ku sebut Kota Kenangan. Aku kembali berada di kota ini untuk sebuah kenangan dan urusan yang mendesak. Mendesak tidak mendesak ya anggap saja itu sebuah desakan karena mumpung lewat dari perjalanan jauhku. Dan cerita semalam mengantarkanku pada kelelahan yang luar biasa.
Aku memang masih membutuhkan istirahat, setelah perjalanan jauhku yang sangat menguras tenaga, aku harus kembali menuju kota ini untuk melanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan jauhku adalah perjalanan menghapus luka. Mungkin dengan hobiku yang suka keliling Indonesia, menjajali beraneka kehidupan di luar sana, mencari tantangan baru, dan mencari kehidupan baru untuk mendapatkan banyak pengalaman dan cerita semasa hidup. Dengan melakukan perjalanan menghapus luka, setidaknya aku tidak melarikan diri dari sebuah masalah, namun mencari kejernihan hati dan otak untuk kembali menghadapi setiap permasalahan yang sedang di hadapi. Aku memang orang yang sangat peduli dengan kesehatan namun aku suka dengan tantangan. 
Setelah menyelesaikan perjalanan jauhku, ada hal yang memang mungkin harus aku tuntaskan juga setelah itu, aku menyelesaikan semua urusan yang masih mengganjal dalam hati hingga pada akhirnya aku memaksakan untuk terus beraktivitas.
Namun, rencana tak selalu mulus, aku pikir aku bisa menyelesaikannya dengan damai dan dengan waktu yang singkat agar aku pun bisa menghela nafas lebih lama dan beristirahat sejenak. Namun, alam memaksaku harus menyelesaikan masalah hingga larut malam dan hujan pun membantu memberikan anugerahnya hingga aku masih tertahan dengan helaan nafas yang sebenarnya mulai kacau karena kelelahan. 
Sebenarnya ada rasa kantuk dan lelah disana, namun hujan membawaku untuk tidak melanjutkan untuk mengakhiri malam itu, karena aku membawa seseorang yang mungkin akan basah dan kehujanan. Aku tak ingin membuat sakit seseorang, biar aku sendiri yang sakit, jangan buat orang sakit, karena waktu yang sudah diberikan untukku sampai larut malam. Namun, keadaan memaksaku untuk menerobos pulang, aku pun tak mau kelamaan terjebak pada posisi yang kurang nyaman dengan orang yang mungkin diam seribu kata dan memalingkan mukanya tiap saat. Eluhan yang mungkin aku rasa ia ingin segera mengakhiri malam itu. Ia ingin segera pulang dengan segala raut muka masamnya yang mulai kelelahan. Disitu aku merasakan kebingungan antara, aku harus memaksa menerjang hujan demi dia yang mulai ingin pulang, dan aku harus tertahan sejenak menunggu hujan reda agar dia tak kehujanan di malam hari yang mungkin akan membuatnya sakit, begitupun dengan fisikku yang mungkin kurang memungkinkan jika kembali karena sudah sangat larut, aku pasti akan tertahan dalam sebuah warung faforit untuk berteduh sampai pagi.
Namun, akhirnya aku menawarkan untuk pulang saja, daripada aku sendiri merasa tak enak hati dalam posisi tersebut. Aku membawa dia pulang dengan hujan yang masih mengguyur kota itu. Hingga aku harus basah sekujur tubuh tertahan di warung untuk berteduh sampai pagi. Dari baju kering menuju basah, dari basah kembali mengering di tubuh sampai pagi. 
Ada hal yang masih belum aku selesaikan di hari itu. Ada janji yang belum sempat aku tepati. Dan pagi itu, untuk menggerakan tubuh saja sudah sangat berat dan badan serasa dipukuli sampai babak belur. Semua serasa remuk beserta hati yang memang sedang kurang sehat. Ternyata benar kata orang, perasaan hati dan pikiran mempengaruhi fisik yang membuat semakin lemas. Ternyata di dalam hati tersembunyi imun penyemangat dan obat untuk bisa merasa baik. Di dalam hati yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Di dalam pikiran yang jernih pun terdapat semangat yang membara. Kini, semua keadaan membantuku untuk tersungkur jatuh lemah tak berdaya. Sampai teman kosku berkata ada yang berbeda denganku yang lesu, lemah, dan terlihat sedih. Entah apa yang diucapkannya melihat dari kondisiku saat itu, aku hanya berpikir kenapa semuanya terasa berat dan tak berdaya. Tubuh seakan tak bisa diajak kompromi, dan nafas semakin terengah tak karuan. Perlahan aku mencoba menata kembali semangat dan mengumpulkan tenaga untuk bergerak. Karena masih ada yang harus aku kerjakan, dan aku pun harus pulang. Namun, nampaknya saat itu aku susah untuk melakukannya hingga mataku mulai merasakan kunang-kunang, nafas mulai tersengal dan jantung mulai lemah untuk berdetak. Seketika aku hilang kendali dan tak sadarkan diri.
Sebangun dari apa yang telah terjadi, aku sudah berada pada keadaan setengah sadar, aku tak mampu berpikir apapun, aku tak mampu melayangkan sepatah kata pun dari mulutku. Aku membuka mata dan aku sudah berada di tempat yang dipenuhi dengan cahaya bulat yang menyilaukan, bau yang terasa familiar yang membuatku tambah kacau, dan dengan seluruh badan yang sudah terinfus. Nampaknya aku mendengar perkataan bahwa aku harus segera dibawa untuk penanganan yang lebih serius. Aku yang tak biasa dengan hal yang serius kini aku harus menjalani sesuatu yang serius.
Ya, sebenarnya ini sudah lama aku mengalami hal yang aneh, namun aku terus menolak kenyataan bahwa aku sudah tidak senormal dulu. Aku selalu menolak takdir, bahwa aku sekarang sudah tidak baik lagi dan kata orang-orang yang tahu, aku harus segera ditangani. Namun, aku tak pernah menganggap itu serius dan aku selalu berpikir bahwa aku baik-baik saja. Aku enggan mengikuti ucapan-ucapan buruk orang yang berkata seperti itu. Aku terus menganggap diriku baik-baik saja, karena dengan berpikiran baik, aku pun akan terus baik. Namun, kini aku sudah tak bisa berbohong dengan diriku sendiri. Aku sudah terjatuh lemah tak berdaya, dan aku harus menerima kenyataan bahwa saat ini aku sudah memulai tahapan baru dalam hidup. Aku sudah tak senormal dulu, dan aku harus menerima kenyataan jika sewaktu-waktu aku sudah tak sanggup menikmati hidup yang menyenangkan lagi. Ya meskipun aku sedang merasakan hal yang menurutku tidak menyenangkan dan merasa bahwa hidupku ternyata tak begitu penting. Aku tak merasakan kebahagiaan yang bisa aku dapatkan. Namun, aku ingin berusaha mendapatkannya. Saat ini aku pun sudah kehilangan asa untuk melakukan apapun. Aku sudah tak berdaya untuk tetap berpikir semua baik-baik saja dan berharap ada yang bisa membuatku bahagia dari sisa-sisa kebahagiaan.
Ini adalah bagian akhir dari hidupku yang lalu, dan kini aku harus memulai bagian awal yang baru pula dalam hidupku selanjutnya. 
Seketika ada orang menghampiriku perlahan dan mengucapkan, "Mulai besok kamu harus istirahat total ya disini, dan minggu depan akan dimulai kemo pertamamu, semangat ya? kamu pasti bisa!". Seketika itu pula aku menyadari, inilah ketakutan yang paling besar, inikah ujung takdir yang harus dijalani? Apakah aku bisa kembali beranjak merasakan kebahagiaan? Apakah aku bisa membahagiaan orang-orang yang aku sayangi lagi? Apakah aku bisa menikmati bahagia bersama orang-orang yang aku sayangi? Atau aku harus menjalani penderitaan ini sendiri berteman sepi? Aku mulai tak punya sedikitpun harapan untuk bersemangat. Apapun yang kujalani saat ini sudah menjadi akhir bagiku, dan awal bagi penderitaanku. 


to be continue...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar