Pagi ini, adalah pagi dimana aku harus memulai kemo yang pertama kali di rumahsakit tempat akupun kehilangan orang yang disayang. Dimana dua tahun yang lalu aku diseret oleh ketakutan terbesar yaitu mengetahui bahwa orang yang aku sayangi meninggal karena kemo pertamanya gagal. Kondisinya menurun drastis setelah mengalami satu minggu masa pemulihan untuk memulai kemo. Di hari itu nampak kondisinya sudah lumayan membaik dan demamnya sudah mulai turun satu celcius. Di mulainya kemo pertama dia saat aku mencoba menembus ke dalam ruangan yang seharusnya aku tidak diperbolehkan datang, karena itu permintaan dia. Dia tidak ingin melihat aku dalam keadaan menyedihkan. Aku memaksanya untuk masuk dan melihat dia sudah masuk ruang kemo dan keluarganya pun berkata "semua kan baik-baik saja" karena kondisinya sudah mulai membaik. Aku pikir aku hanya menitipkan sebuah karya ucapan selamat berjuang dan ucapan semangat agar dia tahu bahwa masih banyak orang yang ada disampingnya meski ia tolak sekalipun kehadirannya. Aku berharap dengan terus memberikan dukungan dan semangat membuat dia tak padam semangatnya dan terus berjuang melawan sakitnya bersama-sama, karena disitu akupun sudah mengerahkan sahabat-sahabat dekatnya, mantan kekasihnya, sampai orang-orang yang berpotensi bisa membahagiakan dia untuk ikut andil dalam rencana yang aku lakukan, sampai pada akhirnya tersisa aku sendirian yang masih terus ada bersamanya. Namun, setelah apa yang aku lihat, dan aku tak berani terlihat olehnya, setidaknya aku lega mendengar kabar bahwa dia baik-baik saja, dan aku pun pulang dengan perasaan sedikit tenang. Namun, semua itu pudar setelah seminggu kemudian aku mendengar ternyata setelah kemo pertama itu kondisinya terus menurun hingga dia sudah mulai dililit selang diseluruh tubuhnya untuk membantunya terus bertahan hidup. Selama seminggu itu aku dibohongi keluarganya, mereka menutupi semua kejadian itu karena itu adalah permintaan dari dia langsung. Aku selalu diberi kabar bagus lewat saudaranya yang kebetulan masih satu lingkup kuliah di Kota yang sama. Aku dihilangkan kabar bahwa dia sudah mulai tidak baik. Hingga pada akhirnya selang seminggu kemonya, aku memaksa datang ke rumahsakit bersama sahabatnya, dan tiba diluar ibunya langsung menangis memelukku seraya berkata "Ikhlaskanlah semua kesalahannya, mohon jika ada salah dimaafkan". Sontak aku menengok dalam jendela pintu masuk, dia sudah tak berdaya dan menghembuskan nafas terakhirnya tepat dua jam setelah kepulanganku dari rumahsakit.
Dari kejadian flashback itu, aku menganggap, aku sekarang berada diposisi yang sama dengannya. Betapa, rasa ketakutan itu terus dihantui, rasa bersalah, rasa penyesalan yang sangat kacau. Tiap malam sebelum tidur aku harus selalu merasa kamu datang diruangan kamarku, dan berkata "semua kan baik-baik saja, aku menunggumu".
Tiap hari harus mencari semangat untuk diri sendiri. Ternyata aku bersyukur meskipun dahulu aku bukan orang yang diharapkannya, aku selalu dihindari untuk bertemu, tapi setidaknya aku mendengar dari kerabatnya jika kedatanganku, ucapan-ucapan yang selalu datang untuk menyemangatinya selalu membuat dia tersenyum dan sedikit membuatnya semangat. Meskipun dulu aku harus berkorban perasaan, merasa diri serendah mungkin memohon kepada orang-orang yang sempat menjadi musuhku, bahkan rela malu untuk membuatnya tersenyum. Aku merasakan apa yang pernah aku lakukan dulu bisa menjadi semangatku sendiri. Meskipun tidak ada orang yang pedulu denganku saat ini karena aku sengaja menghindari kabar kurang baik dari diriku sendiri. Aku pun berpikiran sama berharap tidak ada yang mengetahui keberadaan dan mengetahui jika aku terkapar lemas merasa lemah. Aku merasakan saat aku mengalami kehilangan yang sangat dalam, hingga mungkin saat ini aku berharap tidak orang yang perlu sengaja peduli denganku. Biarkan semua berjalan dengan normal saja, selayaknya biasanya, tidak perlu ada yang dihebohkan dengan segala macam keadaan yang sedang dialami. Aku tidak mengemis berharap dikasihani dan dipedulikan hanya karena aku sakit. Aku lemah, bukan berarti aku tidak bisa bangkit, aku pun berharap ada orang yang benar-benar peduli denganku bukan sekadar saat aku terjatuh baru mereka datang berpura-pura peduli, padahal saat sedang bersama selalu dicampakkan bahkan diabaikan begitu saja.
Mungkin, karena pikiran itulah aku selalu berharap jika aku terus sakit agar semua orang terus peduli terhadapku. Akibat pemikiranku itu akhirnya aku mendapatkan imbasnya saat ini.
Pagi ini, didepan taman Kariadi aku melamun dan melantur perkataan sedemikian rupa, ingatanku terus mengulik masalalu ditempat ini, imajinasiku terus berputar mengandaikan orang yang aku sayang datang menemaniku didetik-detik sebelum kemo pertamaku dimulai.
Tetiba lamunanku buyar seketika ketika ada orang yang mengetuk pundakku. Aku sedang duduk sendiri ditaman dengan bantuan kursi roda yang nampaknya aku masih bisa menggenjot sendiri.
Ternyata orang yang menepuk pundakku adalah teman-teman dari sebuah organisasi yang datang ramai-ramai menjengukku, sontak aku kaget tahu darimana mereka soal aku disini?. Nampaknya, saudara saya punya teman dekat dengan teman-teman organisasi saya hingga perlahan bocor. Aku berharap tidak ada yang tahu keadaanku disini, namun aku sangat senang mereka datang disini menyemangatiku.
Ada salah seorang teman yang dulu pernah aku taksir mengucapkan sebuah kalimat "Hey, kamu dari kapan disini, jahat banget ga ngabarin, aku hubungi juga ga pernah ngejawab ternyata kamu sakit. jahat kamu" dalam hati aku merasa senang ternyata dia mempedulikanku sejauh itu, dan saat dia mengirimkan pesan dalam hatiku pun merasa senang, tapi aku tak kuasa melanjutkan terus menatap layar hp yang kemungkinan mataku pun sudah mulai terserang radiasi. Proses tahap kemo juga perlu mengurangi radiasi dari layar hp, televisi, bahkan laptop yang tiap saat aku gunakan untuk menulis sebenarnya sudah dilarang. Tapi, nampaknya diera sekarang sangat sulit melepaskan itu semua. Pada nyatanya aku hanya bisa mengurangi, bukan menghindari. Setidaknya mataku pun mulai kehilangan pandangannya saat ini. Aku sudah mulai merasa semuanya sudah sampai mengenai seluruh organ hingga aku harus bertahan disini sementara waktu sampai entah waktu yang ditentukan.
Hampir setengah hari mereka mau rela disini menemaniku untuk menghibur sebelum kemo pertama besok dimulai. Mereka datang dan pulang silih bergantian, menghiburku dan tidak sama sekali menghardik soal penyakitku, karena aku tahu mereka menjaga perasaanku. Hingga akhirnya senja pun mengakhiri pertemuan kita.
Tiba kembali disuatu malam, aku selalu menantikan dan menunggu pukul 22.00 keatas. Diruangan yang mulai sepi dan keluargaku pun sudah mulai terlelap semua, orang-orang kesakitan lainnya sudah pulas tertidur. Aku kembali merasakan hawa-hawa yang mulai membuat bulu kudu merinding namun selalu aku nantikan malam itu. Dimana mulai ada sesuatu yang aneh disetiap lorong kamar yang aku tempati, ada suara jeritan-jeritan tak jelas dan samar-samar sering terdengar bahkan suara anak kecil yang merengek-rengek bahkan tertawa. Tiap pukul 22.00 aku mulai merasakan kehadiranmu yang lama tlah menghilang dari kehidupanku. Aku merasakan kedatanganku dengan membawa pesan yang sama, "kamu akan baik-baik saja, aku menunggumu" dengan dittutup dengan senyuman yang tetiba menghilang dari sayub-sayub kegelapan. Entah apa yang selalu aku lihat tiap malam, halusinasiku selalu membuyarkanku pada tetesan air mata yang tetiba terbangun. Aku menyadari apa yang sedang aku nikmati sekarang bukannya ketakutan untuk mati, tapi berharap berakhir dengan senyuman. Aku selalu berharap apa yang aku alami sekarang selalu menjadi kebahagiaan dan menikmati semua proses, meskipun aku selalu berharap datangnya orang yang bisa membuatku bahagia. Aku selalu salah menilai bahwa aku bahagia karena ada orang yang bisa membahagiaanku, padahal kebahagiaan datang dengan cara bagaimana kita bisa membuatnya menjadi bahagia.
Singkat cerita, aku tidak membutuhkan apapun selain kebahagiaan.
Aku mencintai seseorang dengan diam pun berharap aku selalu bahagia dengan tidak diketahui agar tidak merasakan pahitnya kenyataan dengan patah hati.
Setidaknya cara mencintaiku tidak membuatnya terluka, dan berharap bisa selalu bersama menikmati tawa itupun sudah cukup.
Tak perlu dengan datang mengatakan bahwa aku butuh bantuanmu untuk menghibur, dan berharap peduli dengan mengetahui keadaanku sekarang.
Setidaknya dengan bicara keadaan selalu baik-baik saja bisa membuat orang yang saya sayangi tidak terbebani rasa apapun denganku. Selalu bisa membuatnya bahagia pun itu sudah sangat cukup buatku.
Aku belajar mencintai dan dicintai semua karena pengalamanku dengan orang yang selalu menghantui datang tiap malam. Aku belajar banyak tentang ruangan ini. Aku belajar banyak tentang sakit ini, aku belajar banyak tentang kehidupan yang penuh dengan luka. Dan aku ingin menikmatinya dengan bahagia dan bersyukur.
Dan pagi ini, aku tinggal menanti kedatanganmu dan malam pukul 22.00 lagi untuk terakhir kalinya sebelum dipindahkan ke ruang kemotheraphy selama seminggu.
selesai....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar