Selasa, 17 November 2015

Pagi Hari

Aku tidak hidup didunia maya
Yang penuh hiperealitas
Aku hidup didunia nyata
Realita duka sisa
Menikmati roti pagi dengan campuran garam
Terasa masam namun mengenyangkan
Serambi melihat burung berkicau menyakitkan telinga
Ingin sekali aku beri makan rotiku pagi ini, namun aku hanya punya satu
Satu-satunya yang bisa menahan lapar pagi ini
Hingga aku sudah puas menikmatinya.
Ibuku berkata “Nak, masuklah jangan dengarkan burung itu lagi, nanti kamu terkena musibah”
Gegeran ibuku isyarat aku harus masuk mengunci diri ke dalam kamar
Tapi pagi ini aku sudah kenyang dan aku sudah puas menikmati segarnya pagi buta didepan rumahku.

Terimakasih ibu yang selalu berbaik hati mengizinkan aku kembali.

Sabtu, 07 November 2015

Bahagia

Mencaci dan dicaci
Menfitnah dan difitnah
Menggoda dan digoda
Mengusik dan diusik
Disakiti namun tak ingin menyakiti
Semua itu pilihan anda, anda yang harus menjalani hidup
Kesenjangan sosial yang tak mampu membuat bahagia
Pastikan dengan senyuman dan ketenangan akan membuatnya ada
Anda tidak perlu meminta dan memaksa
Saya adanya begini, hanya bisa menerima tanpa ingin memberi
Memberi batu yang keras untuk anda nikmati sendiri
Saya tidak ingin memberi kepada anda
Cukup anda dan mereka yang berhak melakukannya kepada saya
Sekali lagi anda tidak perlu meminta dan memaksa
Saya ikhlas menerima ketetapan Tuhan
Hidup itu selalu berputar dan hidup itu ada
Saya, anda dan mereka beda tapi satu tujuan
BAHAGIA

Unnes tugu sutera 7 november 2015 04.00 pm

Senin, 12 Oktober 2015

Tak Ada Gunanya Belajar Agama Islam

Buat apa belajar agama jika saling menghina dan mencela satu sama lain. antar sesama saudara saling membandingkan yang terbaik dan menyalahkan salah satu dari yang lainya.
Dahulu nabi Muhammad berusaha keras dan berjuang untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan mengajak lewat kebenaran-kebenaran. Tapi sekarang orang sudah banyak yang masuk islam dan beragama malah manusia sendiri yang mengkafirkan seseorang yang sudah masuk islam. Dibilang ini bid’ah lah,dibilang ini salah lah, dibilang ini menambanh-nambahin sunnah. Semua saling mengkafirkan oranglain. Sesungguhnya yang berhak berkata kafir adalah Allah bukan manusia. Kita hidup beragama dan beragam budaya. Umat non muslim memang bukan orang muslim sesuai yang diajarkan oleh nabi Muhammad. Tetapi sebagai manusia kita pun tak berkak langsung mengucapkan bahwa ora itu kafir. Kita tak berkah berkata kasar seperti itu walaupun kita mengetahui ilmu agama lebih dalam dan dianggap sebagai kiai sekalipun. Mulutmu harimaumu. Buat apa belajar agama islam jika akhlak seperti itu?
Katanya muslim, tapi kenapa engkau masih bisa tersenyum ketika salat kamu tinggalkan?
Banyak orang belajar agama secara dalam dan mendalami banyak ilmu yang didapat, tetapi akhlak tak kunjung berubah. Hampir seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Buat apa belajar agama islam?
hidup di Indonesia sekarang sudah menjadi hal wajib jika ditanya diantara dua golongan ini. Keduanya memang berbeda cara pengajarannya tetapi keduanya pun mengamalkan ilmu secara baik, tapi kenapa justru saling menghina dan menyalahkan. Qunut dibilang salah menambah-nambah gerakan salat, yasinan dianggap bid’ah, ziarah kubur dianggap musrik, buat apa belajar agama islam jika kita pun masih saling mencela, mengkafir-kafirkan golongan lainnya sesama saudara.
Saya dilahirkan dari keluarga yang jauh dari ilmu agama. Jadi keluarga kami memang tak pernah harus mengikuti si biru atau sihijau. Karena keluargaku hanya mengikuti apa yang menurutnya baik diikuti dan yang menurut itu kurang pas buat kami untuk beribadahpun tidak dilakukan, tidak saling mendebat salah satu diantaranya bagus yang mana, tapi kenapa orang-orang yang jauh lebih pintar yang fanatik justru saling mencela, dan menyalahkan salah satu diantaranya? Kenapa juga harus memilih salah satu diantaranya, jika memang tidak diantara keduanya kenapa? Apakah kami juga bisa disebut orang yang plinplan sehingga dianggap kafir? Begitu?
Buat apa belajar agama islma jika kita masih saling memperdebatkan hal yang tidak didebat oleh pendahulu kita, tapi kita jsutru saling membuatnya menjadi ribet dan kacau?
Buat apa belajar agama sampai dipondok dan sampai mengikhlaskan segalanya demi Allah, kalau akhlak kita pun masih belum diperbaiki, secara ilmu pintar tetapi tak diamalakn bahkan saling menyakiti antar sesama, berkata semuanya hanya untuk Allah dan meninggalkan urusan duniawinya istri dan anak ditelantarkan. Buat apa belajar agama islam jika kita masih belum bisa hidup bersosial?
Banyak orang yang belajar hadits-hadits sampai mereka lupa Alquran. Dan justru mengutamakan dan saling mendebat hadits-hadits mana yang sahih dan mana yang qata, tetapi lupa belajar mengartikan makna dari Alquran itu sendiri dan hanya berpatok pada hadits saja yang belum tentu yang mereka debatkan benar.
Banyak orang yang rajin menjalankan sunnah-sunnahnya seperti tahajud, dhuha, puasa senin kamis, tetapi kewajibanya sendiri dilupakan bahkan sampai lupa ditinggalkan. Seperti salah tahajud dan berdoa dari jam 2 pagi sampai jam 4, tetapi subuh justru pukul 6, kita terlena oleh shalawatan sampai lupa adzan isya dilalaikan dan tidak didahulukan, kita puasa senin kamis demi meminta sesuatu tapi puasa wajib ramadan tak sempurna.
Banyak orang yang munafik seperti saya contohnya. Belajar agama hanya untuk memenuhi keingina orangtua karena dituntut, karena ada orang yang kita sukai jadi terlihat rajin, sok tahu tentnag agama tapi penerapannya kosong, bahkan ada yang mengakui ustad tetapi saling menyalahkan oranglain dan akhlak sendiri kacau. Buat apa belajar agama islam jika sepeeti itu?
Apakah hidup didunia ini perlu hanya mempelajari tanpa mengamalkan?
Apakah agama islam hanya dijadikan sebuah identitas saja?
Apakah islam mengajarkan kita saling mencela dan mengkafirkan orang lain?
Sebaiknya kita sebagai umat islam saling menguatkan dan membentuk pertahanan keimanan kita sehingga kita bisa melawan kerasnya dunia sekarang. Dunia yang penuh dengan kehancuran umat islam.
Saya sering kurang percaya dengan orang-orang yang mengaku dia ustad, kiai, bahkan mengaku habib. Karena pengalaman saya mempercayai ucapan orang yang mengaku pintar tersebut. Saya mengamalkan dengan polosnya karena kurangnya ilmu agama yang saya pelajari, tak tahu mana yang baik dan tak tahu mana yang salah. Hingga saya terjeremus pada aliran yang kurang begitu pas untuk islam. Mengutamakan sunnah dan melalaikan kewajiban. Mengajarkan untuk saling menyalahkan golongan lain dan menganggap golongan sendiri adalah yang paling benar. Bahkan menjadi orang yang jarkoni, memerintahkan yang baik untuk kita dan sampai menyalahkan gerakan aliran lain, justru dia sendiri lebih buruk dari orang awam seperti saya. seperti orang yang mengaku pintar berkata salat yang benar adalah saling berdempet kakinya, karena jika tidak akan didekati setan, jika kita diajarkan untuk tidak seperti itu oleh golongan tertentu berarti golongan itu salah. Tapi nyatanya dia sendiri yang berkata seperti itu tidak melakukannya dan tak sadar, padahal ucapan dia sampai menyalahkan golongan lainnya dan bilang ini yang paling sahih dan yakin paling benar.
Saya pernah bertemu dengan orang yang agamanya hebat menjabat sebagai ketua dari aliansi tertentu yang bersifat islam, dia rajin ke masijd dan salat berjamaah, hafalannya joss, dan mengaji one day one juz, tapi justru dia melupakan hal yang sepele dan hal yang sangat kecil. Katanya hebat dan sering ke masjid, tetapi dia sampai lupa masuk masjid memakai kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri. Hal sepele saja dia melupakan berarti dia tidak sadar dia masuk ke masjid lilahhita’ala.
Salat berdua dan tak berani mengimami siperempuan yang bukan mukhrimnya dianggap tak berani menjadi imam, apakah sesepele itu islam? Saya mengakui saya pernah pacaran dan pernah melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dari hal terkecil sampai besar. Tetapi jika dalam urusan beribadah saya tidak ingin diikutcampurkan dalam dosaku. Biar saja dianggap tak berani menjadi imamnya dan saya lebih takut jika itu urusannya dengan ibadah.
Saya sangat bingung dengan semuanya, dan saya sampai sekarang sangat bingung untuk belajar agama islam. Jika saya belajar agama islam terlalu dalam, saya masih takut untuk terjerumus pada kesalahan jika guru yang saya ikuti ternyata salah, tapi jika tidak ada niatan untuk memperdalam agama dan tidak ingin belajar agama islam, saya termasuk orang yang bodoh dan kosong hanya menyembah tanpa tahu. Terus jika seperti kapan saya bisa maju?

Saya sungguh bingung dengan semuanya. Itulah mengapa saya masih awan belajar agama islam secara baik dan cetek ilmu agama. Tolong ajarkanlah saya. ajarkanlah saya agar mendapat guru yang baik dan menghilangkan perasaan suudzon terhadap seseorang dan rasa ketidakpercayaan terhadap ajaran-ajaran manusia yang belum begitu saya yakini benar. Tuntunlah jalan hamba-Mu ini ya Allah.

Jumat, 02 Oktober 2015

Menuju Ketenangan, untuk melepas lelah

Jam dinding berdetak menguncahkan hati, membuat hati tak tenang. Pikiran hanya tertuju pada suara angin dari kipas angin dan suara ketikan keyboard yang sedang dimainkan oleh Bowo. Perasaanku malam ini sungguh tak tenang. Keringat dingin yang menyelimuti tubuhku perlahan-lahan melumasi semua bagian tubuh dari atas sampai kaki. Sore ini aku belum mandi karena air yang sudah susah akibat kemarau panjang di kota. Tenaga yang sudah sangat lemas karena segudang aktifitas yang telah dijalani akhir-akhir ini. Perut yang mulai berbunyi seperti irama drum punk yang sangat anarki dan keras pertanda aku sangat lapar. Lupa akan makan. Bukan karena hanya alasan kesibukanku yang tak ada waktu untuk makan melainkan juga alasan aku sudah tak mempunyai uang sepeserpun malam ini.
Aku mahasiswa perantauan yang tidak banyak memiliki bekal kekayaan untuk hidup mewah sebagai mahasiswa. Hidup yang terkadang sangat susah untuk mendapatkan kebutuhan premier. Mahasiswa yang jarang dikasih uang oleh orangtua, pekerjaan yang tidak begitu menjanjikan sebagai seorang mahasiswa yang hanya mengandalkan usaha clothing dan dagang nasi kucing, hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kuliah yang terkadang kurang karena tak selalu tiap hari mendapatkan uang yang cukup, membuat diriku berpikir keras dan menguras banyak tenaga untuk mencari uang.
Malam ini aku hanya ditemani laptop usangku dan segelas air putih yang menemaniku untuk menuliskan sebuah ungkapan hati didalam sebuah tulisan. Sebuah ungkapan hati yang ingin aku luapkan sendiri agar aku bisa berbagi masalah dan membuat hati sedikit lega melampiaskan semuanya ke dalam tulisan. Karena aku tak banyak punya teman yang selalu ada untukku dan kekasih yang menemaniku setiap hari. Hanya tulisanlah yang selama ini menemaniku satu tahun sudah setia dengan ocehan, keluhan, amarahku kepada dunia.
Malam ini aku ingin menuliskan sebuah ungkapan bahwa aku sangat lapar dan entah aku harus bagaimana lagi untuk menahannya karena sudah hampir dua hari aku tak memegang sepeserpun uang. Uangku sudah habis terkuras karena kebutuhanku yang super banyak dari kemarin. Membeli buku, iuran ini, itu, membeli perlengkapan sehari-hari, jalan-jalan, dan sebagainya. Uang yang sangat sulit aku hemat membuatku membeli celengan keramik yang aku beli bersama temanku saat perjalanan pulang. Aku membeli celengan berbahan keramik karena aku tidak ingin tergoda dengan sebuah keadaan disaar aku benar-benar tak punya uang. Aku tak bisa mengambilnya. Celengan yang selalu aku tabung untuk masa depanku sendiri harus bisa aku tahan untuk tidak memecahkannya karena celengan yang baru satu minggu aku beli.
Malam ini aku benar-benar sangat lemas, badanku yang panas karena tenagaku yang sudah terkuras habis untuk kegiatan kemarin yang bertubi-tubi bertemu dengan orang dan latian yang beruntun membuatku kurang istirahat. Lengkap sudah malam ini apa yang aku rasakan karena ditambah dengan hatiku yang sudah sangat kacau akibat seseuatu. Perasaan yang terus ditekan dengan diamnya seseorang dan yang telah berkali-kali menyakitiku sampai kini tak pernah mendengarkan keresahan hatiku yang telah diremukkannya. Tak ada ucapan balasan atau kabar yang datang darinya. Hanyalah sebuah sepi yang aku rasakan malam ini. Sungguh dalam hati ingin aku hancurkan semuanya yang ada didekatku, ingin aku amukan semua agar hatiku benar-benar lega telah melampiaskan segala kekacauan malam ini.
Aku sudah sangat lelah, aku sudah sangat capek, aku sudah sangat tegang, aku sudah sangat gila, aku sudah sangat lapar, dan aku sudah tak tahan lagi dengan keadaan malam ini. Mataku sudah sangat merah dan sayu karena kurang tidur dan air mata yang terus menetes sejak kemarin malam. Sebuah hati yang dikecewakan berulang kali, sebuah perjuangan yang telah kukorbankan semuanya sampai aku hampir terjatuh lelah. Semuanya dibayar dengan sebuah diam dan kekecewaan. Tak ada ending kebahagiaan dan ketenangan yang aku rasakan.
Tiba-tiba hp ku berbunyi diantara jam dinding yang berdetak dan suara kipas angin yang berputar. Berharap itu bunyi pesan dari seseorang yang aku tunggu, untuk menolongku dari ketidaktenangan malam, melepaskan kesedihan malam ini, dan membuat secercah senyuman dari mulutku.
Ternyata itu dari ibu. Ibu hanya menuliskan pesan. “Maaf nak ibu masih belum bisa mengirim uang untukmu, karena dagangan ibu sedang sepi sebulan ini, dirumah juga hanya makan nasi sama kerupuk karena hari ini Cuma mendapatkan uang 2 ribu. bersabarlah nak, kamu pinjam lagi dulu temanmu untuk makan satu minggu ini ya? Malam ini udah makan belum nak?”.
Seketika aku menangis membaca pesan itu. Entah sebuah perasaan kesal, marah, atau kasihan dengan ibuku yang jelas aku tak bisa marah dan kesal karena aku sudah dewasa. Tak harus selalu mengandalkan uang dari orangtua, tapi aku pun juga bersedih ketika aku mengingat dari kemarin aku bisa makan enak, mengisi pulsa berkali-kali dan jalan-jalan, tapi aku masih mengeluh aku tak bisa makan dua hari ini. Sedangkan dirumahpun sedang prihatin. Aku bersedih dan meneteskan air mata bukan karena aku tak bisa makan malam ini dan besok. Tapi aku sedih karena aku masih belum bisa bersyukur dan masih mempunyai rasa kesal kepada ibuku saat ibuku diam tak memberikan kabar untukku. Aku hanya memikirkan perutku saja, aku hanya memikirkan membahagiaan orang yang aku cintai saja, tetapi aku lupa untuk membahagiakan ibuku yang disana.
Aku selalu berusaha menjaga perasaan wanita yang aku sayangi, aku selalu menjaga perasaan teman-temanku, tapi aku lupa untuk menjaga perasaan ibuku yang sudah berjuang mati-matian untuk menyekolahkanku sampai aku bisa kuliah. Aku malas untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah, aku jarang berangkat kuliah hanya karena capekku yang tak seberapa.

Dan malam ini pun aku mempunyai ketidak tenangan selain kabar dari ibuku. Sebuah hati yang merasa hancur berkeping-keping oleh masalaluku yang terus menghantuiku dan datang hanya untuk menghiburnya saja, setelah itu hanya diam yang dia balas untukku. Malam ini aku benar-benar capek, aku ingin lepas dari semua belenggu malam ini, sakit hati, kesedihan, air mata, tekanan, lapar, amarah, ingin aku buang semuanya. Ingin aku luapkan dengan penuh. Imajinasiku mulai liar berpikir ingin ku hancurkan semua yang ada disekitarku agar aku puas meluapkan semuanya. Tapi seketika aku berpikir, pasti semua teman ksoku akan bingung. Akhirnya hanya tulisan inilahyang dapat aku luapkan, entah setelah ini aku akan lega atau tidak, dan entah apa yang setelah ini akan aku lakukan. Yang jelas aku hanya ingin sendiri menikmati semua ini. Aku ingin istirahat dengan sangat tenang dan aku ingin melepaskan semuanya dan jika Tuhan menghendaki aku ingin melepaskan roh ini dari raga yang sudah sangat lelah menjalani ini. Aku hanya pria yang hampir putus asa dengan keadaan yang terus kembali terulang seperti ini. Aku benar-benar sangat lelah menahan semua sakit ini. Baik yang terlihat maupun yang tak terlihat.

02 Oct 2015, 23.12

Kamis, 01 Oktober 2015

Hapuskan aku dari dunia jika kau tak bisa menghapus kesedihanku yang kau buat

Aku memang lelaki yang tak sempurna. Wajahku hitam, tubuhku pendek, rambutku keritik. Fisik yang lemah sehingga sering sakit-sakitan. Tak punya keahlian apa-apa dan bodoh. Tapi aku masih punya hati. sebagai manusia layaknya yang bisa merasakan cinta dan sakit hati. Hatiku bukan terbuat dari batu ataupun semen yang kuat oleh goresan luka berkali-kali.
Sebuah cinta yang aku rasakan kali ini adalah sebuah cinta yang luar biasa. Kepada perempuan yang tiga tahun sudah bersama, Perempuan yang kusukai tanpa sengaja, yang tak pernah ku pandang dari wajah bahkan sifatnya. cinta tanpa alasan apapun. Banyak perempuan yang canitk di sekitar, banyak juga perempuan yang baik sifatnya didunia ini. tapi kali ini beda, perempuan yang aku cintai tulus dari hati dan jiwa yang terpaut padanya. Wajahnya tak begitu cantik tapi manis, sifatnya banyak yang tidak aku sukai, tapi aku sangat mencintainya. Entah apa alasannya aku bisa sangat mencintainya dan tak bisa berpaling dengan perempuan ini, walaupun berkali-kali disakiti olehnya.
Pengorbanan yang selalu aku perjuangkan untuknya hingga aku mengorbankan semuanya, bahkan tenaga, waktu dan jiwaku sudah sepenuhnya aku korbankan demi seseorang yang selalu menyakitiku. Tetapi dia jauh lebih mengorbanku untuk disakiti, dia lebih menghargai perjuangan dan pengorbanan kekasih barunya yang terus mempertahankan hubungannya dan demi dia pun rela dan tega menyakitiku berulangkali dengan tingkahnya.
ini sudah berulangkalinya dia datang kembali kepadaku, dengan kedekatan yang kembali membuatku terlena olehnya dan terikat hati dengannya. Tapi tak pernah dia menyadari dan sadar berulangkali menyakitiku, dia masih tak peduli dan tak pernah bisa merasakan perasaanku yang selalu dipermainkan dan dibuat sebagai hiburannya. Seolah-olah seperti mainan yang tak punya hati, aku dipermainkan dengan seenaknya berulang-ulang tanpa pernah mau bertanggungjawab dan memperbaiki kesalahannya. yang dia pikirkan hanyalah cinta butanya dan cinta gilanya yang mengorbankan orang yang benar-benar tulus menyintainya.
Kali ini kembali aku mengorbankan semuanya demi keinginan dia untuk bertemu dan menuai rindu denganku. Aku turuti semua kemauannya dan mengikuti alur hatinya yang aku kira dia benar-benar tulus masih menyintaiku dan ingin bersamaku, tapi pada kenyataannya dia datang hanya berniat untuk memperbaiki hubungan lost kontak denganku saja dan hanya sebagai penghiburnya, tak lebih dari itu. tapi pada kenyataannya apa yang dia lakukan kepadaku dan membuatku untuk terus bersamanya seolah-olah memberikan harapan dan berniat untuk memperbaiki cinta denganku. tapi pada kenyataan semua itu hanyalah sebuah permainan nafsu belaka, tanpa merasa bersalah dan tak punya hati, dia hanya menjadikanku mainan saja dan enggan untuk bertanggungjawab kepada hatiku yang dia ikat. dan diapun tidak ingin merasa bersalah oleh kelakuannya. seolah-olah aku mengikuti kemauannya juga adalah kemauanku, jadi jika suatu saat aku kembali dibuang dan dia bahagia dengan kekasihnya tak menjadikan masalah.
Begitu sakitnya aku berada pada posisi ini dan diperlakukan seperti ini. Seolah-olah aku seperti boneka yang dengan mudah kapan saja dibutuhkan dan untuk penghibur sesaat setelah itu dilupakan karena kekasihnya.
aku yang sudah mati-mati berjuang untuknya dan rela berkorban segalanya untuknya, tapi justru aku yang harus dikorbankannya selalu untuk selalu bertahan dengan kekasihnya dan menjadikanku orang yang disisihkan dan tak dipilih. aku berkorban untuknya, dia berkorban untuk oranglain. aku diikat oleh cintanya tapi cintanya justru diberikan kepada oranglain. sungguh yang aku rasakan kali ini benar-benar mati rasa. Sudah kesekian kalinya aku harus merasakan seperti ini dan jauh lebih menyakitkan dari cinta beretepuk sebelah tanggan. aku dianggap apa olehnya dan hatiku dianggap apa? sekarang dia sudah bahagia dengannya dan enggan untuk peduli dan memikirkanku yang selalu dijatuhkan olehnya. dan kali ini perasaanku sungguh sudah dibuat mati olehnya. Aku seperti dibunuh olehnya berulangkali. Cinta ini sungguh membunuhku, semua perjuangan cintaku hanya dianggap penghibur saja dan cintanya tak perbah benar-benar ingin diberikan olehku, hanya sakit yang selalu aku rasakan dan dikorbankan. Terimakasih untuk semua perlakuan ini, semoga kau bahagia dengan cinta gilamu itu, cinta butamu itu, dan yang diperjuangkan olehmu itu dengan kembali mengorbankanku. kali ini hanya Menghilang dari dirimu saja jalan satu-satunya agar aku tak bisa bisa merasakan ini kembali, dan tak bisa merasakan sakit berulangkali, diapun tak akan bisa pernah kembali mempermainkanku. selalma aku masih hidup, walaupun sudah diputus kontak, dijadikan musuh tak akan pernah bisa terhapuskan dan diselesaikan. hanya dengan meniadakan aku jalan satu-satunya untuk tidak terulang kembali semuanya. Jika kamu rela dan selalu membunuh hatiku, bunuhlah jiwaku sekalian. Atau sendiri yang akan membunuh diriku agar aku akan menghilang selama-lamanya darimu sehingga kamu tak akan pernah bisa kembali lagi kepadaku dan melihatku lagi, aku pun tak akan pernah merasakan sakit hati ini berulang kali hingga aku harus merasakan sakit melihat kamu masih dengannya. Hapuskan aku dari dunia jika kau tak bisa hapus diriku dari ingatanmu yang terus kembali hanya untuk menyakitiku. Hapuskan!

Sabtu, 26 September 2015

Aku Ingin Menjadi Malam Sempurna

Aku bukanlah seniman
Mengekspresikan diri melalui gambar, musik, dan tulisan pun aku tak mampu
Hanya suatu imajinasi kebohongan belaka yang ku punya

Aku bukanlah muslimin
Untuk salat lima waktu ke masjid pun aku berat
Hanya kesombongan mulut semata yang kalian lihat

Aku bukanlah wirausahawan muda
Sukses di dunia usaha yang merajalela pun hanya bisa membayangkan
Hanya orang bodoh yang malas dan tak punya keuletan

Aku bukanlah ahli teknologi
Yang selalu mengotak-atik komputer pun aku masih bingung
Hanya sebuah gadget yang selalu aku mainkan setiap hari buat galau

Aku bukanlah pujangga cinta
 Untuk mempertahankan hubungan dengan harmoni oun aku tak bisa
Hanya hati, pikiran, dan jiwa yang edan akan nafsu cinta

Aku bukanlah apa-apa
Aku hanyalah seorang pembohong
Yang mungkin kalian lihat aku hebat
Tapi sesungguhnya diriku kacau dan rusak
Hidupku dipenuhi kepalsuan penuh kehancuran
Jauh dari kejujuran yang tersesat di dunia gelap
Untuk merekahkan seperti bunga mawar biru di toko bunga
Semuanya palsu

Aku hanya pembohong besar mulut lebar
Pembohong dari dunia hati
Yang dipandang seperti bulan di tengah malam
Tapi aku adalah malamnya yang hitam sunyi tak bersua

Tak punya apa-apa dan sendiri

Selasa, 01 September 2015

Rumah Idaman

Depan warung usus mercon patemon tepat berhadapan depan muka gang kecil yang diapit rumah kosong dan konter. Aku menunggu diatas motorku. Menanti seseorang dari arah gang untuk menampakan batang hidungnya. Pagi itu masih sangat cerah dan suara burung masih terdengar dari pohon-pohon didalam rumah kosong itu. rumah yang sudah sangat tua dan dipenuhi dengan sampah-sampah daun kering. Aku melamunkan sebuah kenangan masalaluku yang begitu indah. Kenangan saat aku masih kecil bermain dibelakang rumah bersama temanku. Diatas pasir dibuatnya sirkuit mobil dengan batu sebagai mobilnya. Waktu itu aku tak bisa membeli mainan, hanya batu yang selalu aku cari untuk dijadikan mobil. Mobil sedan tentunya seperti yang aku sukai sejak aku tahu tentang mobil.
Lamunanku terbuyar dengan datangnya mobil yang melaju cepat lewat didepanku. Sekiranya tiba, aku melihat rumah yang misal dirawat pasti akan menjadi bagus. Rumah yang lumayan luas dan halaman kanannya yang cukup luas bisa untuk dibuat sebuah usaha atau tempat bermain keluarga. aku membayangkan ketika berkeluarga nanti mempunyai satu istri yang cantik dan satu anak yang masih kecil. Bermain bersama dihalaman itu bersama balon yang aku terbangkan. Dipojok belakang ada sebuah kursi goyang yang tergantung diantara pohon-pohon besar
 Aku membayangkan kebahagiaanku menjadi pengusaha muda yang sukses. Tak perlu memakai pakaian rapi, memakai jas, berdasi, dan bersepatu. Tapi cukup nyaman bersama keluarga dirumah idaman dengan pekerjaan yang menyenangkan santai tapi menghasilkan uang yang cukup untuk membahagiakan keluarga kecilku, usaha yang berada disamping rumah, dibuat kafe yang selalu ramai dan tempt berkumpulnya sebuah organisasi kampus maupun komunitas. Dua andaian yang sangat indah hanya dengan melihat rumah kosong yang sudah tua. Tak pernah terawat lagi, dipenuhi dengan lumut-lumut dan rumput liar dihalaman, ditutup gerbang yang selalu tertutup.
Andaianku waktu itu sangatlah indah, dan menunggu teman yang sangat lama menjadi menyenangkan dan menikmati suasana pagi itu. kebetulan aku sedang ada acara musyara pergantian kepengurusan suatu organisasi muslim dikampus. Aku menunggu temanku yang sekarang menjadi mas’ul. Ketika aku mulai bosan menatap rumah itu. rumah yang mulai aku kagumi letak strategisnya dan desain bentuk rumah dengan tamannya. Aku mencoba berkaca dispion motorku. Aku memandang wajahku yang masih pucat pasi karena sakit. Wajah yang selalu sedih. Aku berkata dalam hati “apakah hidupku kelak akan bahagia seperti apa yang selalu aku bayangkan ya?”.
“Hey”
Hentakan yang terdengar dari belakang beserta tangan yang memegang pundakku tiba-tiba.
“Loh datang kapan lu ek?” aku langsung menanyakan dengan nada yang terheran.
“barusan, liat lo ngaca. Percumah gak bakal berubah nasip lo kalo Cuma ngaca ton.”
Aku pun bersegera menyalakan motor tanpa banyak basa-basi dipinggir jalan.
“sudahlah, langsung berangkat saja. Sudah telat nih, kasihan yang lain.”
Motorku melaju dengan cepat menuju tempat acara dan meninggalkan rumah kosong itu.
Keesokan harinya ketika aku ada waktu kosong dan tak punya agenda. Aku menyempatkan jalan-jalan mencari hiburan dengan melewati tempat itu dan melihatnya sambil kembali membayangkan kebahagiaan jika aku dapat membeli rumah itu. setiap aku melewati rumah itu aku selalu mendoakannya agar kelak aku benar-benar bisa mendapatkannya. Aku selalu berdoa untuk bisa membeli dan mendapatkannya sebelum kedapatan oranglain tentang strategisnya rumah itu ketika bisa dirawat dan tahu letak peluang yang sangat bagus.
Aku menyukai rumah yang sederhana dan kosong tak terawat yang banyak orang tidak meliriknya dan bahkan bisa menjadi sesuatu yang besar suatu saat nanti, karena aku tahu peluang dari suatu letak rumah itu. dan aku selalu mendoakannya agar aku bisa mendapatkannya kelak. Semua itu seperti dirimu. Kamu adalah wanita idamanku yang tak banyak orang melirikmu indah, tapi sesungguhnya sangat menawan. Dengan segala kesederhanaanmu dan tak dimiliki oleh siapapun. Kamu mempunyai potensi besar akan wawasanmu yang luas dan punya bakat yang terpendam. Dan aku ingin sekali memilikimu untuk menjadikan sebuah rumah idaman, tempat tinggal hati yang nyaman dan indah. Menjadikan diriku bahagia dan sejuk oleh kasih sayangmu.
Sebuah keindahan tidak hanya bisa dilihat dari pandangan mata sekilas, tapi sebuah perasaan hati yang tak dapat diungkapkan secara nyata. Menyintai tak hanya dilihat dari wajah, sifat, bahkan keimanan seseorang karena terkadang cinta itu buta. Dan cinta tanpa syarat dan tak ada alasan itulah dapat mengalahkan semuanya tanpa membanding-bandingkan dengan yang lain. cinta sejati adalah ketika kita menemukan jiwa kita terpaut dengan hatinya dan dapat merasakan semua apa yang ada padanya. Seperti saat ini aku menemukan sesuatu hatiku yang masih tertancap dalam pada masalaluku.
Akhirnya rumah yang selalu aku doakan, setelah sekian lama aku tak melihatnya dan melewatinya. Sekarang sudah dibeli oranglain yang sudah menemukan peluang dalam rumah dan halaman itu. rumah yang dibersihkan dan direnocasi dengan begitu teliti dan halaman yang sudah mulai dibuat tempat usaha. Ternyata apa yang aku pikirkan tentang peluang rumah itu sudah diketahui dan didapatkan oranglain terlebih dahulu sebelum aku mendapatkan uang untuk membelinya. Suatu kematangan dan pekerjaan yang sudah mapan bisa mendapatkan itu terlebih dahulu ketimbang aku yang hanya bisa berdoa setiap saat dan belum bisa mendapatkan apa-apa karena keadaan dan kondisi yang memang belum memungkinkan.
Semua itu sama halnya dengan perasaanku sekarang yang tahu hatiku yang terpaut pada seorang wanita yang aku kenal dari pandangan tak sengajaku. Sekian lama aku tak berjumpa dengannya dan tak tahu lagi tentangnya. Setelah bertemu dia sudah memakai cincin ditangannya dan telah dihibah oleh oranglain. Dia telah menemukan jantung hatinya, yaitu orang yang lebih mapan dari segi usianya, pekerjaannya, serta ketampanannya. Orangitu sangat beruntung bisa mendapatkan wanita sederhana yang luarbiasa jika dirawat dan didapatkan sisi terbaiknya.
Sebuah kekagetan yang luarbiasa ketika melihat dan tahu itu semua. Tetapi seketika itu juga aku mulai berpikir dan sadar. Jodoh takkan kemana, melihat sesuatu yang kita inginkan ternyata tidak bisa kita dapatkan mungkin itu adalah jalannya dan pasti akan ada sesuatu yang lebih indah lagi dari ini. Rumah yang mungkin menjadi idamanku dan sudah terpaut akan mendapatkannya, pasti akan ada lagi yang lebih dari sekedar itu hanya perlu waktu yang tepat untuk bisa menemukannya kembali. Dan saat itu juga aku akan segera meyakininya dan berusaha keras mendapatkannya sebelum didahului oranglain lagi.
Rumah idamanku kelak, keluargaku yang harmonis dan bahagia. Tak perlu mewah atau wah, yang penitng istimewa dan sederhana serba cukup dan bersyukur menjadi prioritas untuk kebahagiaanku kelak.


29 Agustus 2015

Selasa, 11 Agustus 2015

Selama Engkau Hidup

Entah kenapa, ini adalah takdir atau memang tak disengaja, aku sengaja tidur gasik di tanggal 10 Agustus, aku membuat diriku sendiri kelelahan agar aku terlelap nyenyak dan melupakan apa yang aku takutkan esok.
Tapi Allah justru memberiku mimpi, aku bermimpi bertemu denganmu dan merasakan sakit yang luar biasa. karena posisi itu aku melihatmu sedang berduaan dengan lelaki dan saling bahagia, aku melihatmu di dekatmu, aku merasa sakit. dan aku tak tahan harus merasakan itu. seketika itu juga aku terbangun tepat pukul 00.21 melihat jam, aku langsung sesegera tidur dan tak ingin memikirkan hari ini. tepat tanggal 11 Agustus. aku pun kembali terbangun di jam 03.30. aku tak tahu apa yang membuatku terbangun dan hari itu sudah tanggal 11 Agustus. Aku tak dapat melakukan apa-apa ditahun ini, tapi seketika itu juga, inilah awalku kembali memulai hal yang baik. aku mengambil wudu dan memulai kembali tahajudku yang sudah sangat lama aku tinggalkan. aku hanya ingin menenangkan diriku dan memohon kepada Allah agar hatiku adem dan tenang. ketika itu juga aku berdoa untukmu. aku tak bisa memberikan apa-apa dan ucapan langsung kepadamu, tapi aku berdoa kepada Allah. " Ya Allah, hari ini dia genap berusia 21 tahum. Ampunilah segala dosa-dosaku dan dosanya ya Allah, aku memohon jagalah dia agar selalu dalam lindungan-Mu dan dekat dengan-Mu, jauhkanlah ia dari kemaksiatan-kemaksiatan lagi walau itu sangat kecil. Ya Allah bahagiakanlah dia selalu, semoga ia sehat selalu, menjadi orang yang berarti kepada semua orang yang ada didekatnya. ya Allah jagalah dia, semoga dia baik-baik saja". aku berdoa tak lama dan meneteskan air mata ketika aku memohon tulus kepada sang Pencipta. Seusai salat.aku membuka laptop dan menuliskan kata-kata ini untuk aku tulis di blog ku tepat di hari nya. Semoga Sehat selalu de, suatu saat nanti kamu akan membaca ini dan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. semoga engkau sehat selalu de, dan semoga aku kembali untuk terus istiqomah setiap pagi seperti aku mengawalinya dihari ini, di harimu Happy Birthday de (:

Senin, 10 Agustus 2015

"Tolong Izinkan Saya Berzina dengan Anak Bapak"

Artikel Yang Frontal Tapi Syarat Akan Makna
Kisah Atau Realita Yang Sering Terjadi sekitar kita
Suatu hari sepasang muda-mudi akan pergi untukberjalan-jalan. Setibanya pemuda di rumah orang tua sang gadis untuk menjemputnya.


Gadis: Masuk dulu ya, bertemu sama ayah


Pemuda : Boleh kah?


Gadis: Masuk saja, saya bersiap-siap dulu.


Masuklah sang pemuda melalui pintu utama. Pintu yang siap terbuka mengelu-elukan kedatangan si pemuda.
Pemuda : Assalamualaikum.


Ayah Gadis : waalaikumussalam!
Mendengar lantangnya suara Ayah si gadis, si pemuda kaku membatu. Lantas si gadis menyadarkan pemuda dari lamunan itu. Entah apa yang dipikirkannya.
Gadis : Mari, silahkan duduk
Pemuda : eh.,iyaa
Setelah mengucapkan salam dan berjabat tangan, duduklah si Pemuda di kursi yang hampir menghadap Ayah si gadis. Hanya koran yang menjadi ‘sitroh’ antara mereka.
Ayah Gadis : hendak jalan kemana hari ini?
Pemuda : ke Kota saja Pak, dia mau mencari barang katanya. entah barang apa saya tidak tahu.
Ayah Gadis : oh..
Pemuda : . . .


Hampir 5 menit suasana senyap tanpa suara. Dan ibu si gadis keluar dari ruang belakang membawa air dan kue kering. Si Pemuda pun tersenyum manis.


Ibu Gadis : Silahkan diminum dulu nak. Kamu sudah sarapan?
Pemuda : eh, Sudah Bu. Terima kasih.
Ibu Gadis : kamu ini malu-malu segala dengan kami.
Pemuda : saya hanya segan Bu. Hehe
Ayah Gadis : kapan kamu mau mengirim rombongan (lamaran)?
Ibu Gadis : eh, ayah ini?
Pemuda : hmm. Saya belum memiliki banyak uang Pak. Hehe
Ayah Gadis : kamu bawa anak kami kesana-kemari. Apa orang kata nanti?
Pemuda: (sebenarnya Malu dengan orang lain, serta malu dengan Allah). Setiap kami pergi kami selalu naik mobil Pak, tidak pernah berdekatan apalagi sampai bergandeng tangan. Oh iya, bisa saya tanya sedikit Pak?
Ayah Gadis : tentu saja, silahkan!
Pemuda : bapak dan ibu ingin saya menyediakan uang berapa untuk lamaran ini?
Ibu Gadis : kalau bisa Rp.20.000.000,-
Ayah Gadis : ehh, tapi kalau bisa lebih besar dari orang sebelah yang naksir juga sama gadis.
Pemuda : Maaf, Berapa itu Bu?
Ayah Gadis : Rp.40.000.000,- syukur-syukur bisa lebih
Pemuda : (Ya Allah, whhooa.. Rp.40.000.000,- darimana saya dapat uang sebanyak itu, aduh) Besar sekali Pak, apakah tidak bisa lebih sedikit, kita buat acara sederhana saja. Cukup mengudang keluarga, saudara dan tetangga dekat?
Ayah Gadis : itu nasib kamu nak, kamu yang akan menikahi anak kami. Lagipula dialah satu-satunya anak perempuan kami.


Si Pemuda pun hampir hilang akal ketika disebutkan ‘harga’ si gadis itu. Dan si Pemuda mencoba kembali berdiskusi dengan orang tua gadis pujaan hatinya.


Pemuda : Boleh saya bertanya lagi, apakah anak bapak pandai memasak?
Ayah Gadis : hmm,.boro-boro. Bangun tidur saja jam 10 lebih, bukan bangun pagi lagi itu. Habis bangun terus langsung makan siang.
Ibu Gadis : Apa sih ayahnya ini, anaknya mau dijadikan istri, dia malah cerita yang jelek-jelek.
Ayah Gadis : Ibunya pun sama suka terlambat bangun juga.
Ibu Gadis : ih ayah ini!
Pemuda: (bengong) Ehh.. iya cukup pak,
sekarang saya sudah tau. Kalau boleh bertanya lagi, bisa kah dia membaca Qur’an?
Ibu Gadis: bisa sedikit-sedikit kok
Pemuda : belajar dengan maknanya?
Ibu Gadis : mungkin.
Pemuda : hmm.
Ibu Gadis : kenapa?
Pemuda : Oh, tidak apa apa bu. Pertanyaan terakhir, apakah dia rajin sholat?
Ayah Gadis : Apa maksud kamu tanya semua ini !? Dia kan dekat dengan kamu. Harusnya kamu juga tahu.
Pemuda : Setiap sedang diluar dan saya ajak sholat, dia selalu bilang sedang datang bulan. Sedikit sedikit datang bulan. Saya jadi bingung, sebenarnya dia bisa sholat tidak.
Ayah dan Ibunya begitu kaget. Dan pada wajahnya begitu kemerahan menahan amarah.
Pemuda : Boleh saya sambung lagi. Dia tak bisa masak, tak bisa sholat, tak bisa mengaji, tak bisa menutup aurat dengan baik. Sebelum dia menjadi istri saya, dosa-dosanya juga akan menjadi dosa bapak dan ibu. Lagipula tak pantas rasanya dia dihargai Rp.40.000.000,-. Kecuali dia hafidz Qur’an 30 juz dalam kepala, pandai menjaga aurat, diri, dan batasan-batasan agamanya. Barulah dengan mahar Rp.100.000.000,pun saya usahakan untuk membayar.
Tapi jika segala sesuatunya tidak harus dibayar mahal mengapa harus dipaksakan untuk dibayar mahal ? Seperti halnya mahar. Sebab sebaik-baik pernikahan adalah serendah-rendah mahar. Mata ayah si gadis direnung tajam oleh mata ibu si gadis. Keduanya diam tanpa suara.


Sekarang ketiganya menundukkan kepala. Memang sebagian adat menjadikan anak perempuan untuk dijadikan objek pemuas hati menunjukkan kekayaan dan bermegah-megah dengan apa yang ada, terutama pada pernikahan. Adat budaya mengalahkan masalah agama. Para orang tua membiarkan bahkan menginginkan anak perempuan dihias dan dibuat pertunjukkan di muka umum.
Sedangkan pada saat akad telah dilafadz oleh suami, segala dosa anak perempuan sudah mulai ditanggung oleh si suami.

Ayah Gadis : tapi kan, ayah hanya ingin anak ayah merasakan sedikit kemewahan. Hal seperti tu kan hanya terjadi sekali seumur hidup.
Pemuda : Bapak ingin anak bapak merasakan kemewahan?
Ibu Gadis : tentulah kami berdua pun turut gembira.
Pemuda : sungguh demikian ? boleh saya sambung lagi? bapak, ibu.. saya bukanlah siapa siapa. Sekarang dosa anak Bapak, Bapak juga yang tanggung. Esok lusa setelah akad nikah terus dosa dia saya yang tanggung.

Belum lagi pasti bapak dan ibu ingin kami bersanding lama di pelaminan yang megah, anak Ibu dirias dengan riasan secantik-cantik­nya dengan make up dan baju paling mahal, di hadapan ratusan undangan agar kami terlihat mewah pula. Salain setiap mata yang memandang kami akan mendapat dosa. Apakah begitu penting hal tersebut jika dalam kehidupan sehari-hari kita malah berusaha untuk hidup sesederhana mungkin tanpa berlebih-lebihan.
Ibu si gadis segera mengambil langkah mudah dengan menarik diri dari pembicaraan itu. Si ibu tahu, si pemuda berbicara menggunakan fakta islam. Dan tidak mungkin ibu si gadis dapat melawan kata si pemuda itu.

Ayah Gadis : Kamu mau berbicara mengajari masalah agama di depan kami?
Pemuda : ehh. maaf pak. Bukan saya hendak berbicara / mengajari masalah agama. Tapi itulah hakikat. Terkadang kita terlalu memandang pada adat sampai lupa agama.
Ayah Gadis : sudah lah. Kamu sediakan Rp.40.000.000,- kemudian kita bicarakan lebih lanjut. Kalau tidak ada, kamu tak bisa kimpoi dengan anak ku!
Pemuda : Semakin lama lah hal itu. Mungkin di umur saya 30 atau lebih, saya baru bisa mengumpulkan uang tersebut dan bisa masuk meminang anak bapak.
Baiklah, .kalau memang bapak berharap tetap demikian, maka ’izinkan saya berzina dengan anak bapak’?
Ayah Gadis : hei! Kamu sudah berlebihan!, kamu jaga baik-baik omongan kamu itu.
Pemuda : dengar dulu penjelasan saya pak. Apa bapak tahu alas an orang berzina dan banyak orang memiliki anak di luar nikah? Sebab salah satunya hal seperti ini lah pak. Selalu saja orang tua perempuan menempatkan puluhan juta rupiah untuk mahar, harus menunggu si pria mempunyai pekerjaan dengan gaji begitu tinggi, sampai pihak pria terpaksa menunda keinginan untuk menikah. Tetapi cinta dan nafsu kalau tidak diwadahi dengan baik, setan yang jadi pihak ketiga untuk menyesatkan manusia.
Terlebih di zaman seperti ini yang cobaan dan kondisinya tidak seperti zaman bapak dan ibu dulu. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas memuaskan nafsu serakah dengan berzina. Pertama memang hal yang ringan-ringan dulu pak, pegang-pegangan tangan, saling memeluk, dan sebagainya. Tapi semakin lama akan menjadi hal berat. Yang berat-berat itu bapak sendiri pun bisa membayangkan.
Ayah Gadis : lantas apa kaitan kamu dengan hendak berzina pula !?
Pemuda : Begini logikanya. Sepertinya yang terjadi dengan anak-anak lainnya. Bapak tidak memberi izin kami menikah sekarang, biar ada berpuluh juta uang dulu baru bisa menikah.
Kami hendak melepaskan nafsu bagaimana pak? setiap harinya kami mengenal lebih dekat dan semakin dewasa. Dia meminta saya menengoknya, semakin cinta saling melepas rasa rindu. Susah pak, itu Nafsu yang diberikan kepada manusia. Sebab itu saya dengan rendah hati meminta izin pada bapak untuk berzina dengan anak bapak. Terlepas apakah yang penting bapak tahu saya dan dia hendak berzina. Sebab rata-rata orang yang berzina itu orang tua tidak tau pak, tidak. Kelihatannya pemuda -pemudi zaman sekarang biasa-biasa saja padahal sebenarnya sudah pernah bahkan sering berzina. Ironisnya banyak orang menganggap hal itu tidak tabu lagi. Berzina bukan saja hal yang ehem-ehem saja. Ada zina-zina ringan, zina mata, zina lidah, zina telinga dll. Tapi sebab hal ringan itu lah yang akan menjadi berat.
Ayah Gadis : hmm. Kamu ini begitu pelik dan memperumit saja. Beruntung kamu bukan orang lain. Kalau orang lain, sudah dari tadi saya angkat parang. Begini nak, Tapi kalau tidak ada uang, bagaimana kamu akan memberi dia makan??
Pemuda : hehe. Bapak. lupakah Bapak dengan apa yang telah Allah pesankan pada kita.

“Dan menikahlah orang-orang bujang (pria dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang sholeh dari hamba-hamba kamu, pria dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka. sesungguhnya karunia Allah Maha luas (rahmat dan karunianya), lagi Maha Mengetahui.” (An Nur 32).

Apakah kita tak yakin dengan apa yang Allah janjikan. Bapak dan Ibu juga pernah lah menjadi muda. Masalah datangnya harta, selagi kita terus berusaha itu adalah Rahmat-Nya yang sudah ditakdirkan pada tiap-tiap hamba-Nya. Lagipula pak, kalau makan dan minum itu Insya Allah, saya sanggup untuk memberikannya. Tempat tinggal bisa kita bicarakan lagi. Kalau hal ini bisa menghalangi kami dari melakukan dosa dan sia-sia. Apakah tidak lebih baik disegerakan. Bapak pun tak mau hal-hal tak tidak diinginkan terjadi.

Bapak si Gadis Diam tanpa kata, merenung kata – kata si pemuda, berusaha memikirkan cara untuk mematahkan kata-kata si Pemuda. Dan ayah si gadis mendapat akal.
Ayah Gadis : kamu tahu lah zaman sekarang ni. Kalau mengikuti cara kamu itu. Mungkin kamu tidak suka dengan acara persandingan yang mewah, Bapak bisa terima. Tapi kamu apa bisa menerima apa yang akan orang-orang katakan. Orang akan mengatakan anak aku ‘kecelakaan’ dan terpaksa menikah dengan kamu. Mau ditaruh dimana muka ini.
Pemuda : bagus juga pikiran bapak itu. Kalau ‘kecelakaan’ mana mau saya menikahi anak bapak. Karena akan selamanya menjadi haram, orang yang zina tidak akan pernah menjadi halal sekalipun dengan pernikahan. Kalau bapak memaksa ya sudah. Bisa ikut nikah masal kan bagus juga bisa berhemat tapi tetap ramai.
Ayah Gadis : serius lah nak!
Pemuda : begini pak, sekali lagi rasanya tidak perlu membayar puluhan juta dan mahar yang berlebihan sehingga memaksa diluar kemampuan. Tapi saya tak mengatakan tidak ada walimatul urus. Sedang walimatul urus itu tetap perlu dan disesuaikan dengan kemampuan. itu cara islam. Saya bukan hendak macam-macam dengan bapak. Syariat memang seperti itu. Maha baiknya Allah sebab masih menjaga kita selama ini, tapi hal sepele seperti ini pun kita masih memandang ringan dan kita tak percaya dengan apa yang telah Allah janjikan.
Saya benar-benar minta maaf kalau ada kata-kata saya yang membuat bapak tidak senag terhadap saya. Tidak juga bermaksud tidak takdzim dengan bapak dan ibu. Segalanya kita serahkan pada Allah, kita hanya bisa merencanakan saja.

Azan dzuhur berkumandang, jaraknya tidak sampai 10 rumah dengan rumah si gadis. Si pemuda memohon untuk ke surau dan mengajak bapak si untuk pergi bersama. Namun ajakan ditolak dengan lembut. Lantas sang pemuda memberi salam dan memohon untuk keluar.
Di pinggir jendela tua si gadis melihat si pemuda mengeluarkan kopiah dari sakunya dan segera di pakainya. Lalu masuk mobil dan hilang dari penglihatan si gadis tadi.

Sedang si gadis yang sedari tadi berdiri di balik tirai bersama ibunya meneteskan air mata mendengar curahan kata-kata si pemuda terhadap ayahnya. Kerudung lebar pemberian si pemuda sebagai hadiah padanya yang lalu digenggam erat. Ibu si gadis juga meneteskan air mata melihat pada perilaku anaknya. Segera ibu dan si gadis ke ruang tamu menghadap ayahnya.

Ibu Gadis : Apa yang anak itu katakan benar. Kita ini tak pernah memperhatikan syariat-syariat ringan agama selama ini. Terlalu melihat dunia, adat dan apa kata orang. Padahal mereka tak pernah juga peduli pada kita.

Ayah Gadis : hmm.. entahlah, ayah tak tahu. Begitu keras yang anak itu katakan tadi. Dia berpesan tadi, kamu suruh bersiap, lalu setelah dzuhur dia jemput kamu.
Gadis : sudah tidak ada semangat untuk pergi ayah. Kemudian si gadis menggapai telepon genggamnya dan mengetik pesan.

Si Pemuda yang selesai mengambil wudhu tersenyum saat membaca pesan yang baru saja diterima dari si gadis,

“Andai Allah telah memilih dirimu untukku, aku ridho dan akan terus bersama mu, apapun yang ada pada dirimu dan yang kamu miliki, aku juga akan terus pada agama yang ada padamu. Siang ini ga ada mood untuk keluar, maaf. Minggu depan ayah menyuruh kirim rombongan (lamaran) untuk ke rumah.“
*



Terkadang kisah seperti diatas masih saja sering terjadi. Wahai kalian pemuda dan pemudi yang dirahmati Allah, jika kalian merasa telah mampu dan yakin untuk menikah. maka segerakanlah. Sungguh- sungguh merugi orang yang menunda-nunda terhadap rahmatnya Allah

Senin, 29 Juni 2015

?


Wajahmu indah ketika senja
Angin yang berhembus di lautan
Nampaknya tak menggoreskan sedikit berkas
Indahnya wajahmu
Tak bisa digambarkan seperti kuas mati
Apabila ku memekarkan sayapku untukkmu

            Adinda....

Ini Belum Berakhir karya Tefan Randika Putra



“Sudah nyampe mas..!”
ucapan halus khas orang Jawa Tengah, membuyarkan lamunanku,
“oh…iya…”
jawabku agak kaget
”Kami nyampe sini aja mas, soalnya di ruangan ini ada petugasnya sendiri…, ada dua orang juga…!”
Paparnya.., masih dengan logat lokal yang ramah.
“Oh iya…makasih ya mbak…” jawabku berusaha sopan.
“Bruk..” Pinggiran ranjang pasien beradu ringan dengan pinggiran pintu ruangan hemodialisa ini, kulihat tubuh kakakku di atasnya agak sedikit terguncang, rasa kasihan kembali merasuki relung-relung hatiku yang terdalam, tak menyangka sesuatu yang dulunya hanya kudengar menimpa orang lain, akhirnya menimpa kakakku tersayang,
“Adik Anda Harus Segera Cuci Darah…”
Bak disambar meteor di padang sahara dan di hujani tombak berjuta-juta, sewaktu pertama kali mendengar diagnosa dokter kala itu. Ahh..,kutahan air mataku yang mulai menetes, kucoba kuatkan diri menghadapi cobaan ini.
Seumur hidup aku tak pernah membayangkan akan masuk ke ruangan cuci darah ini, mendengarnya saja aku sudah ngeri, apalagi benar-benar memasukinya, tapi itulah takdir…,apalah daya, tak siapa orang boleh mengira, garis nasib siapa yang tahu..!. Sambil terus membantu mendorong, mataku mulai menjelajah, menyapu setiap sudut ruangan ini. Ruangannya cukup besar, dengan cat dinding warna putih khas rumah sakit pada umumnya, ditengahnya ada meja panjang permanen setinggi dada orang dewasa yang dibuat setengah melingkar, belakangan kuketahui bahwa meja itu berfungsi sebagai ruang kerja mini bagi petugas cuci darah di ruangan ini.
“Mas…tolong bantu keluarkan ranjang ini ya, soalnya mau kita tukar dengan ranjang adek sampeyan…!”
kata salah seorang perawat.
“Oh iya mas…boleh..,”
jawabku setengah terkejut. Setelah menukar ranjang, aku lanjutkan penjelajahanku terhadap ruangan ini yang tadi sempat terhenti. “1,..2,…3,….4 dan seterusnya, mataku mulai menghitung deretan mesin pengganti ginjal yang ada di ruangan ini, ada 6 di kiri, dan ada 7 di kanan, masing-masing dilengkapi ranjang pasien dan satu buah tabung oksigen. Satu lagi kekagumanku adalah pencipta alat dialisys ini, siapakah dia gerangan, sungguh suatu amal yang sangat berguna bagi banyak orang, semestinya pada setiap tabung dialyisis terpampang nama pembuatnya, sebagai rasa terima kasih dan penghargaan bagi pembuatnya.
“Permisi ya mas Arya!, Saya pasang selang ini ke dadanya ya mas”
ujar perawat, kakakku menjawab dengan anggukan yang lemah. Perawat lalu menyambung selang dengan selang yang terdapat di dada kanan kakakku melalui klep yang bisa dibuka tutup, selang di dada itulah tadi yang dipasang melalui proses operasi ringan. Setelah semua selang terpasang, perawat lalu menjalankan mesin dialysis itu.
tekk..dimulailah proses pembersihan darah buatan manusia, sekejap selang-selang bening tadi berubah warna menjadi merah tua, memutar cairan kehidupan kakakku, mengalir melalui saringan khusus yang bentuknya bulat panjang dengan diameter kutaksir kira-kira 8 cm dan panjang 35 cm.
“Nah alat ini yang berfungsi menyaring sampah metabolisme dan air yang berlebih mas”,
tanpa kuminta perawat memberi penjelasan kepadaku sambil menunjuk saringan dialysis itu. “Nanti darah yang sudah bersih akan dikembalikan lagi ke dalam tubuh…
“Sederhananya begini mas”
perawat melanjutkan penjelasannya.
Kita dapat menganalogikan ginjal sebagai sistem pembuangan limbah sekaligus teknologi daur ulang canggih yang bekerja non stop 24 jam sehari. Mendadak rasa lelah dan kantuk yang mulai mendera tadi seketika hilang demi mendengar penjelasan dari perawat ini,
“Setiap jam suplai darah beredar melalui ginjal sekitar 12 kali dan membersihkan sekitar 200 liter darah, dengan sekitar 1 sampai 2 liter limbah meninggalkan tubuh sebagai urin”
Aku mengangguk-angguk tanda menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sekilas kulirik kakakku yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, nampaknya gambaranku selama ini tentang proses cuci darah yang menyakitkan itu ternyata salah.
“Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein, berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari.” Paparnya lebih lanjut.
Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal seperti pada kakak sampeyan ini”
Sambil mencerna setiap kalimatnya yang menurutku penuh dengan istilah-istilah kedokteran yang tak semuanya kumengerti, dalam hati aku kagum dengan sosok perawat di depanku ini, bukan hanya sopan dan ramah, tapi juga paham akan hak-hak pasien untuk mendapat informasi yang tepat dan diperlukan mengenai penyakit seseorang, sebuah sosok tenaga medis yang sudah langka dan jarang sekali kutemui, bahkan oleh kebanyakan dokter sekalipun.
















Sekelumit kisah di atas adalah kisah nyata, kejadiannya kurang lebih setahun yang lalu, hal itulah yang menyebabkan saya tak menempatkan tulisan ini di kanal fiksiana, karena walaupun pengantar di atas beraliran seperti cerita, namun kisahnya nyata bukan fiksi. Tapi bukan cerita di atas yang ingin saya tonjolkan di tulisan ini, tapi “Semangat” untuk sembuh dari dalam diri  saya, semoga dapat mengispirasi orang lain yang bernasib sama untuk tidak mudah menyerah dalam “melawan takdir”.
Walaupun dalam perjalananya semangat saya ini turun naik, bahkan pernah mengalami titik terendah, Tapi satu hal yang saya sadari ketika saya pernah mengucapkan kata “lebih baik aku mati saja”. Sebuah kalimat yang acap saya dengar dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyakitnya. Baik itu penyakit gagal ginjal, hati, bahkan jantung atau cancer.
Dukungan keluarga ternyata juga menjadi suplemen penyemangat yang cukup signifikan dikala saya agak down, tak tanggung-tanggung bahkan ibu saya yang sudah hampir uzur, sampai bersusah-susah hampir setiap hari, masih terbayang di mata tangan keriput ibu saya membersihkan daun sukun, kemudian mengeringkan, lalu merebusnya untuk diminumkan kepada saya. Walaupun daun sukun ini akhirnya tidak signifikan menjadi penyebab sembuhnya penyakit saya, namun saya melihat kasih sayang dan perhatian orang tua lah yang menjadi salah satu faktor kesembuhan. Serta orang yang disayangi adalah salah satu penyemangat untuk kita bisa terus melanjutkan hidup dengan penuh dorongan psikis dan pikiran menjadi antusias dan semangat.
Apatah lagi Do’a, hampir setiap ba’da shubuh suara lirih isak tangis dari ibu dan saudara-saudara, menjadi “alarm” yang mampu membangunkan saya untuk menunaikan sholat. Entah berapa liter sudah air mata ibu dan saudara-saudara saya yang tumpah di setiap do’a mereka. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab Tuhan menjadi “iba”, sehingga mengabulkan permohonan mereka.
Hari demi hari adalah hari yang berat, bayangan ajal menjemput semakin nyata saja nampaknya, bayangkan saja kadar kreatinin dan ureum bukan malah menurun, tapi terus meninggi, sehingga dokter memutuskan bahwa saya harus ceck up sebulan sekali dengan biaya enam juta perbulan. Namun saat keluarga mulai berputus harapan, saya ini justru menjadi self motivator sehingga semangat keluarga yang mulai kendor, terpacu kembali demi sebuah asa “saya harus sembuh”. “saya harus berusaha berjuang mencari uang yang sebanyak-banyaknya.
Entah sudah berapa macam obat yang ditelan saya ini, namun tak satupun yang membuahkan hasil, hingga suatu ketika pertolongan Allah itu datang, seseorang membagi sedikit pengalamannya, bahwa penyakit gagal ginjal, jantung, cancer dan penyakit mematikan semuanya Insya Allah bisa sembuh asal pasien mau disiplin dalam masa pengobatan tersebut.
Tiga bulan sudah saya menjalani “terapi” dan Alhamdulillah meskipun belum sembuh total, namun perkembangannya sungguh menakjubkan. Di awal-awal terapi memang perubahannya tidak terlalu signifikan, namun memasuki bulan kedua dan ketiga, perbaikannya sungguh menggembirakan.

Kembali ke cerita
Di bulan pertama jadwal cuci darah kakak saya sudah bisa dikurangi, dari seminggu dua kali menjadi seminggu sekali. Memasuki bulan kedua rutinitas cuci darah menjadi dua minggu sekali, kemudian 3 minggu sekali dan alhamdulillah di awal bulan ketiga lebih jarang lagi, sudah menjadi sebulan sekali.
Jika kakak saya tetap disiplin menjaga pantangan dan rutin mengkonsumsi makanan dan minuman yang dibolehkan saja, maka Insya Allah bulan-bulan berikutnya kegiatan yang membosankan tersebut (soalnya setiap cuci darah, butuh waktu 4 -5 jam), diharapkan menjadi 2 bulan sekali dan semoga akhirnya tidak diperlukan sama sekali.
Pantangannya setahu saya adalah selama terapi kakak saya tak boleh mengkonsumsi nasi sekalipun dan lauk pauk seperti biasanya, karena mengkonsumsi nasi menurut orang yang baik tersebut, hanya memperberat kerja ginjal yang sudah kronis tersebut. Sebagai ganti karbohidrat, maka kakak saya di anjurkan mengkonsumsi tepung talbinah.

Jujur saja, makanan dan minuman pengganti kakak saya tersebut tidak bisa dikatakan murah, apalagi ukuran kantong keluarga kami. Namun kerjasama dan kebersamaan dalam seluruh keluarga yang bahu membahu membantu pendanaan, menyebabkan beban tersebut menjadi terasa agak ringan. Hal ini juga yang kakak saya lihat, sehingga pernah suatu ketika ia berucap bahwa tidak akan mengecewakan semua pengorbanan orang tua dan saudara-saudaranya. Kesembuhan adalah harga mati bagi dirinya apapun yang terjadi, kecuali maut saja yang dapat merampas asanya tersebut. Walaupun sekarang kakak saya terlihat mulai kurus (maklum saja hanya mengkonsumsi herbal saja), tapi fisiknya cukup kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya dan sekarang masih bisa menjalani hidup secara normal seperti yang lain dan melanjutkan kuliah serta bekerja mencari uang, walaupun pasti tak sesempurna mereka yang sehat. Tetap harus ada motivasi dukungan sepenuhnya dari keluarga dan orang yang dicintainya. Semangatlah kakakku!

Tak Salah


Kenapa dia harus selalu yang pertama
Memikirkan ego sendiri
Tak peduli siapa yang salah kau selalu menyalahkan
Tanpa mau mengalah walaupun salah
Ketika salah selalu mencari kesalahan lain
Kesalahanmulah yang membuatku mengalah
Mengerti apa artinya kesalahan karena-Mu

Tapi kesalahan sesungguhnya karena ku salah menilai jika kau salah

Melupa


Bias wajahmu yang tak pernah tergambarkan
Dalam sejuk hati demi hari tak kunjung pergi
Melayang indah menggapai cerita
Melupakan yang sudah-sudah
Yang sudah biarlah berlalu tapi tidak yang satu ini
Tapi yang sudah apa bisa kembali ?
Kembali menenun rindu yang lama tak tersampaikan
Dan lupa oleh waktu,
Ahh buat apa ?
Buat apa harus kembali jika waktu pun sudah melupakannya
Apa ada sedikit lubang yang bolong untuk masuk ?
Mustahil juga jika terjadi
Dan sekarang buat apa ?
Buat apa harapan ini masih ditempa oleh palu besar

Kalau dinda pun sudah menjadi Mr. F ?

Sebelum Senja


Teman berdiri adalah sepi
Bingkai kenangan yang mulai memudar
Lilin kecil menyala hilang
Menuju temaram senja
Jam berhenti di dua belas
Percikan embun menetes kelabu
Membuat pahit sisa yang manis
Sampai saatnya terlupakan

Dulu kakiku hanya beralaskan setapak tanah
Kepalaku pun hanya beratapkan langir kelam
Kekasih sejatiku adalah kesunyian
Di dalam kehidupan yang ku inginkan
Coba lihat semua hampir basi
Sisihkan lagi jiwamu untuk memberi

Awal kehidupan seorang pemenang
Menempuh perjalanan jauh
Melawan waktu
Kiasan yang hampir basi
Cahayaku adalah kekuatan
Penyulut semangat menuju jalan pulang
SELAMAT PAGI TERANG !

HADAPI DUNIA