Senin, 29 Juni 2015

Ini Belum Berakhir karya Tefan Randika Putra



“Sudah nyampe mas..!”
ucapan halus khas orang Jawa Tengah, membuyarkan lamunanku,
“oh…iya…”
jawabku agak kaget
”Kami nyampe sini aja mas, soalnya di ruangan ini ada petugasnya sendiri…, ada dua orang juga…!”
Paparnya.., masih dengan logat lokal yang ramah.
“Oh iya…makasih ya mbak…” jawabku berusaha sopan.
“Bruk..” Pinggiran ranjang pasien beradu ringan dengan pinggiran pintu ruangan hemodialisa ini, kulihat tubuh kakakku di atasnya agak sedikit terguncang, rasa kasihan kembali merasuki relung-relung hatiku yang terdalam, tak menyangka sesuatu yang dulunya hanya kudengar menimpa orang lain, akhirnya menimpa kakakku tersayang,
“Adik Anda Harus Segera Cuci Darah…”
Bak disambar meteor di padang sahara dan di hujani tombak berjuta-juta, sewaktu pertama kali mendengar diagnosa dokter kala itu. Ahh..,kutahan air mataku yang mulai menetes, kucoba kuatkan diri menghadapi cobaan ini.
Seumur hidup aku tak pernah membayangkan akan masuk ke ruangan cuci darah ini, mendengarnya saja aku sudah ngeri, apalagi benar-benar memasukinya, tapi itulah takdir…,apalah daya, tak siapa orang boleh mengira, garis nasib siapa yang tahu..!. Sambil terus membantu mendorong, mataku mulai menjelajah, menyapu setiap sudut ruangan ini. Ruangannya cukup besar, dengan cat dinding warna putih khas rumah sakit pada umumnya, ditengahnya ada meja panjang permanen setinggi dada orang dewasa yang dibuat setengah melingkar, belakangan kuketahui bahwa meja itu berfungsi sebagai ruang kerja mini bagi petugas cuci darah di ruangan ini.
“Mas…tolong bantu keluarkan ranjang ini ya, soalnya mau kita tukar dengan ranjang adek sampeyan…!”
kata salah seorang perawat.
“Oh iya mas…boleh..,”
jawabku setengah terkejut. Setelah menukar ranjang, aku lanjutkan penjelajahanku terhadap ruangan ini yang tadi sempat terhenti. “1,..2,…3,….4 dan seterusnya, mataku mulai menghitung deretan mesin pengganti ginjal yang ada di ruangan ini, ada 6 di kiri, dan ada 7 di kanan, masing-masing dilengkapi ranjang pasien dan satu buah tabung oksigen. Satu lagi kekagumanku adalah pencipta alat dialisys ini, siapakah dia gerangan, sungguh suatu amal yang sangat berguna bagi banyak orang, semestinya pada setiap tabung dialyisis terpampang nama pembuatnya, sebagai rasa terima kasih dan penghargaan bagi pembuatnya.
“Permisi ya mas Arya!, Saya pasang selang ini ke dadanya ya mas”
ujar perawat, kakakku menjawab dengan anggukan yang lemah. Perawat lalu menyambung selang dengan selang yang terdapat di dada kanan kakakku melalui klep yang bisa dibuka tutup, selang di dada itulah tadi yang dipasang melalui proses operasi ringan. Setelah semua selang terpasang, perawat lalu menjalankan mesin dialysis itu.
tekk..dimulailah proses pembersihan darah buatan manusia, sekejap selang-selang bening tadi berubah warna menjadi merah tua, memutar cairan kehidupan kakakku, mengalir melalui saringan khusus yang bentuknya bulat panjang dengan diameter kutaksir kira-kira 8 cm dan panjang 35 cm.
“Nah alat ini yang berfungsi menyaring sampah metabolisme dan air yang berlebih mas”,
tanpa kuminta perawat memberi penjelasan kepadaku sambil menunjuk saringan dialysis itu. “Nanti darah yang sudah bersih akan dikembalikan lagi ke dalam tubuh…
“Sederhananya begini mas”
perawat melanjutkan penjelasannya.
Kita dapat menganalogikan ginjal sebagai sistem pembuangan limbah sekaligus teknologi daur ulang canggih yang bekerja non stop 24 jam sehari. Mendadak rasa lelah dan kantuk yang mulai mendera tadi seketika hilang demi mendengar penjelasan dari perawat ini,
“Setiap jam suplai darah beredar melalui ginjal sekitar 12 kali dan membersihkan sekitar 200 liter darah, dengan sekitar 1 sampai 2 liter limbah meninggalkan tubuh sebagai urin”
Aku mengangguk-angguk tanda menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sekilas kulirik kakakku yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, nampaknya gambaranku selama ini tentang proses cuci darah yang menyakitkan itu ternyata salah.
“Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein, berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari.” Paparnya lebih lanjut.
Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal seperti pada kakak sampeyan ini”
Sambil mencerna setiap kalimatnya yang menurutku penuh dengan istilah-istilah kedokteran yang tak semuanya kumengerti, dalam hati aku kagum dengan sosok perawat di depanku ini, bukan hanya sopan dan ramah, tapi juga paham akan hak-hak pasien untuk mendapat informasi yang tepat dan diperlukan mengenai penyakit seseorang, sebuah sosok tenaga medis yang sudah langka dan jarang sekali kutemui, bahkan oleh kebanyakan dokter sekalipun.
















Sekelumit kisah di atas adalah kisah nyata, kejadiannya kurang lebih setahun yang lalu, hal itulah yang menyebabkan saya tak menempatkan tulisan ini di kanal fiksiana, karena walaupun pengantar di atas beraliran seperti cerita, namun kisahnya nyata bukan fiksi. Tapi bukan cerita di atas yang ingin saya tonjolkan di tulisan ini, tapi “Semangat” untuk sembuh dari dalam diri  saya, semoga dapat mengispirasi orang lain yang bernasib sama untuk tidak mudah menyerah dalam “melawan takdir”.
Walaupun dalam perjalananya semangat saya ini turun naik, bahkan pernah mengalami titik terendah, Tapi satu hal yang saya sadari ketika saya pernah mengucapkan kata “lebih baik aku mati saja”. Sebuah kalimat yang acap saya dengar dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyakitnya. Baik itu penyakit gagal ginjal, hati, bahkan jantung atau cancer.
Dukungan keluarga ternyata juga menjadi suplemen penyemangat yang cukup signifikan dikala saya agak down, tak tanggung-tanggung bahkan ibu saya yang sudah hampir uzur, sampai bersusah-susah hampir setiap hari, masih terbayang di mata tangan keriput ibu saya membersihkan daun sukun, kemudian mengeringkan, lalu merebusnya untuk diminumkan kepada saya. Walaupun daun sukun ini akhirnya tidak signifikan menjadi penyebab sembuhnya penyakit saya, namun saya melihat kasih sayang dan perhatian orang tua lah yang menjadi salah satu faktor kesembuhan. Serta orang yang disayangi adalah salah satu penyemangat untuk kita bisa terus melanjutkan hidup dengan penuh dorongan psikis dan pikiran menjadi antusias dan semangat.
Apatah lagi Do’a, hampir setiap ba’da shubuh suara lirih isak tangis dari ibu dan saudara-saudara, menjadi “alarm” yang mampu membangunkan saya untuk menunaikan sholat. Entah berapa liter sudah air mata ibu dan saudara-saudara saya yang tumpah di setiap do’a mereka. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab Tuhan menjadi “iba”, sehingga mengabulkan permohonan mereka.
Hari demi hari adalah hari yang berat, bayangan ajal menjemput semakin nyata saja nampaknya, bayangkan saja kadar kreatinin dan ureum bukan malah menurun, tapi terus meninggi, sehingga dokter memutuskan bahwa saya harus ceck up sebulan sekali dengan biaya enam juta perbulan. Namun saat keluarga mulai berputus harapan, saya ini justru menjadi self motivator sehingga semangat keluarga yang mulai kendor, terpacu kembali demi sebuah asa “saya harus sembuh”. “saya harus berusaha berjuang mencari uang yang sebanyak-banyaknya.
Entah sudah berapa macam obat yang ditelan saya ini, namun tak satupun yang membuahkan hasil, hingga suatu ketika pertolongan Allah itu datang, seseorang membagi sedikit pengalamannya, bahwa penyakit gagal ginjal, jantung, cancer dan penyakit mematikan semuanya Insya Allah bisa sembuh asal pasien mau disiplin dalam masa pengobatan tersebut.
Tiga bulan sudah saya menjalani “terapi” dan Alhamdulillah meskipun belum sembuh total, namun perkembangannya sungguh menakjubkan. Di awal-awal terapi memang perubahannya tidak terlalu signifikan, namun memasuki bulan kedua dan ketiga, perbaikannya sungguh menggembirakan.

Kembali ke cerita
Di bulan pertama jadwal cuci darah kakak saya sudah bisa dikurangi, dari seminggu dua kali menjadi seminggu sekali. Memasuki bulan kedua rutinitas cuci darah menjadi dua minggu sekali, kemudian 3 minggu sekali dan alhamdulillah di awal bulan ketiga lebih jarang lagi, sudah menjadi sebulan sekali.
Jika kakak saya tetap disiplin menjaga pantangan dan rutin mengkonsumsi makanan dan minuman yang dibolehkan saja, maka Insya Allah bulan-bulan berikutnya kegiatan yang membosankan tersebut (soalnya setiap cuci darah, butuh waktu 4 -5 jam), diharapkan menjadi 2 bulan sekali dan semoga akhirnya tidak diperlukan sama sekali.
Pantangannya setahu saya adalah selama terapi kakak saya tak boleh mengkonsumsi nasi sekalipun dan lauk pauk seperti biasanya, karena mengkonsumsi nasi menurut orang yang baik tersebut, hanya memperberat kerja ginjal yang sudah kronis tersebut. Sebagai ganti karbohidrat, maka kakak saya di anjurkan mengkonsumsi tepung talbinah.

Jujur saja, makanan dan minuman pengganti kakak saya tersebut tidak bisa dikatakan murah, apalagi ukuran kantong keluarga kami. Namun kerjasama dan kebersamaan dalam seluruh keluarga yang bahu membahu membantu pendanaan, menyebabkan beban tersebut menjadi terasa agak ringan. Hal ini juga yang kakak saya lihat, sehingga pernah suatu ketika ia berucap bahwa tidak akan mengecewakan semua pengorbanan orang tua dan saudara-saudaranya. Kesembuhan adalah harga mati bagi dirinya apapun yang terjadi, kecuali maut saja yang dapat merampas asanya tersebut. Walaupun sekarang kakak saya terlihat mulai kurus (maklum saja hanya mengkonsumsi herbal saja), tapi fisiknya cukup kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya dan sekarang masih bisa menjalani hidup secara normal seperti yang lain dan melanjutkan kuliah serta bekerja mencari uang, walaupun pasti tak sesempurna mereka yang sehat. Tetap harus ada motivasi dukungan sepenuhnya dari keluarga dan orang yang dicintainya. Semangatlah kakakku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar