Senin, 29 Juni 2015

?


Wajahmu indah ketika senja
Angin yang berhembus di lautan
Nampaknya tak menggoreskan sedikit berkas
Indahnya wajahmu
Tak bisa digambarkan seperti kuas mati
Apabila ku memekarkan sayapku untukkmu

            Adinda....

Ini Belum Berakhir karya Tefan Randika Putra



“Sudah nyampe mas..!”
ucapan halus khas orang Jawa Tengah, membuyarkan lamunanku,
“oh…iya…”
jawabku agak kaget
”Kami nyampe sini aja mas, soalnya di ruangan ini ada petugasnya sendiri…, ada dua orang juga…!”
Paparnya.., masih dengan logat lokal yang ramah.
“Oh iya…makasih ya mbak…” jawabku berusaha sopan.
“Bruk..” Pinggiran ranjang pasien beradu ringan dengan pinggiran pintu ruangan hemodialisa ini, kulihat tubuh kakakku di atasnya agak sedikit terguncang, rasa kasihan kembali merasuki relung-relung hatiku yang terdalam, tak menyangka sesuatu yang dulunya hanya kudengar menimpa orang lain, akhirnya menimpa kakakku tersayang,
“Adik Anda Harus Segera Cuci Darah…”
Bak disambar meteor di padang sahara dan di hujani tombak berjuta-juta, sewaktu pertama kali mendengar diagnosa dokter kala itu. Ahh..,kutahan air mataku yang mulai menetes, kucoba kuatkan diri menghadapi cobaan ini.
Seumur hidup aku tak pernah membayangkan akan masuk ke ruangan cuci darah ini, mendengarnya saja aku sudah ngeri, apalagi benar-benar memasukinya, tapi itulah takdir…,apalah daya, tak siapa orang boleh mengira, garis nasib siapa yang tahu..!. Sambil terus membantu mendorong, mataku mulai menjelajah, menyapu setiap sudut ruangan ini. Ruangannya cukup besar, dengan cat dinding warna putih khas rumah sakit pada umumnya, ditengahnya ada meja panjang permanen setinggi dada orang dewasa yang dibuat setengah melingkar, belakangan kuketahui bahwa meja itu berfungsi sebagai ruang kerja mini bagi petugas cuci darah di ruangan ini.
“Mas…tolong bantu keluarkan ranjang ini ya, soalnya mau kita tukar dengan ranjang adek sampeyan…!”
kata salah seorang perawat.
“Oh iya mas…boleh..,”
jawabku setengah terkejut. Setelah menukar ranjang, aku lanjutkan penjelajahanku terhadap ruangan ini yang tadi sempat terhenti. “1,..2,…3,….4 dan seterusnya, mataku mulai menghitung deretan mesin pengganti ginjal yang ada di ruangan ini, ada 6 di kiri, dan ada 7 di kanan, masing-masing dilengkapi ranjang pasien dan satu buah tabung oksigen. Satu lagi kekagumanku adalah pencipta alat dialisys ini, siapakah dia gerangan, sungguh suatu amal yang sangat berguna bagi banyak orang, semestinya pada setiap tabung dialyisis terpampang nama pembuatnya, sebagai rasa terima kasih dan penghargaan bagi pembuatnya.
“Permisi ya mas Arya!, Saya pasang selang ini ke dadanya ya mas”
ujar perawat, kakakku menjawab dengan anggukan yang lemah. Perawat lalu menyambung selang dengan selang yang terdapat di dada kanan kakakku melalui klep yang bisa dibuka tutup, selang di dada itulah tadi yang dipasang melalui proses operasi ringan. Setelah semua selang terpasang, perawat lalu menjalankan mesin dialysis itu.
tekk..dimulailah proses pembersihan darah buatan manusia, sekejap selang-selang bening tadi berubah warna menjadi merah tua, memutar cairan kehidupan kakakku, mengalir melalui saringan khusus yang bentuknya bulat panjang dengan diameter kutaksir kira-kira 8 cm dan panjang 35 cm.
“Nah alat ini yang berfungsi menyaring sampah metabolisme dan air yang berlebih mas”,
tanpa kuminta perawat memberi penjelasan kepadaku sambil menunjuk saringan dialysis itu. “Nanti darah yang sudah bersih akan dikembalikan lagi ke dalam tubuh…
“Sederhananya begini mas”
perawat melanjutkan penjelasannya.
Kita dapat menganalogikan ginjal sebagai sistem pembuangan limbah sekaligus teknologi daur ulang canggih yang bekerja non stop 24 jam sehari. Mendadak rasa lelah dan kantuk yang mulai mendera tadi seketika hilang demi mendengar penjelasan dari perawat ini,
“Setiap jam suplai darah beredar melalui ginjal sekitar 12 kali dan membersihkan sekitar 200 liter darah, dengan sekitar 1 sampai 2 liter limbah meninggalkan tubuh sebagai urin”
Aku mengangguk-angguk tanda menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Sekilas kulirik kakakku yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, nampaknya gambaranku selama ini tentang proses cuci darah yang menyakitkan itu ternyata salah.
“Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein, berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari.” Paparnya lebih lanjut.
Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal seperti pada kakak sampeyan ini”
Sambil mencerna setiap kalimatnya yang menurutku penuh dengan istilah-istilah kedokteran yang tak semuanya kumengerti, dalam hati aku kagum dengan sosok perawat di depanku ini, bukan hanya sopan dan ramah, tapi juga paham akan hak-hak pasien untuk mendapat informasi yang tepat dan diperlukan mengenai penyakit seseorang, sebuah sosok tenaga medis yang sudah langka dan jarang sekali kutemui, bahkan oleh kebanyakan dokter sekalipun.
















Sekelumit kisah di atas adalah kisah nyata, kejadiannya kurang lebih setahun yang lalu, hal itulah yang menyebabkan saya tak menempatkan tulisan ini di kanal fiksiana, karena walaupun pengantar di atas beraliran seperti cerita, namun kisahnya nyata bukan fiksi. Tapi bukan cerita di atas yang ingin saya tonjolkan di tulisan ini, tapi “Semangat” untuk sembuh dari dalam diri  saya, semoga dapat mengispirasi orang lain yang bernasib sama untuk tidak mudah menyerah dalam “melawan takdir”.
Walaupun dalam perjalananya semangat saya ini turun naik, bahkan pernah mengalami titik terendah, Tapi satu hal yang saya sadari ketika saya pernah mengucapkan kata “lebih baik aku mati saja”. Sebuah kalimat yang acap saya dengar dari orang-orang yang sudah putus asa dengan penyakitnya. Baik itu penyakit gagal ginjal, hati, bahkan jantung atau cancer.
Dukungan keluarga ternyata juga menjadi suplemen penyemangat yang cukup signifikan dikala saya agak down, tak tanggung-tanggung bahkan ibu saya yang sudah hampir uzur, sampai bersusah-susah hampir setiap hari, masih terbayang di mata tangan keriput ibu saya membersihkan daun sukun, kemudian mengeringkan, lalu merebusnya untuk diminumkan kepada saya. Walaupun daun sukun ini akhirnya tidak signifikan menjadi penyebab sembuhnya penyakit saya, namun saya melihat kasih sayang dan perhatian orang tua lah yang menjadi salah satu faktor kesembuhan. Serta orang yang disayangi adalah salah satu penyemangat untuk kita bisa terus melanjutkan hidup dengan penuh dorongan psikis dan pikiran menjadi antusias dan semangat.
Apatah lagi Do’a, hampir setiap ba’da shubuh suara lirih isak tangis dari ibu dan saudara-saudara, menjadi “alarm” yang mampu membangunkan saya untuk menunaikan sholat. Entah berapa liter sudah air mata ibu dan saudara-saudara saya yang tumpah di setiap do’a mereka. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab Tuhan menjadi “iba”, sehingga mengabulkan permohonan mereka.
Hari demi hari adalah hari yang berat, bayangan ajal menjemput semakin nyata saja nampaknya, bayangkan saja kadar kreatinin dan ureum bukan malah menurun, tapi terus meninggi, sehingga dokter memutuskan bahwa saya harus ceck up sebulan sekali dengan biaya enam juta perbulan. Namun saat keluarga mulai berputus harapan, saya ini justru menjadi self motivator sehingga semangat keluarga yang mulai kendor, terpacu kembali demi sebuah asa “saya harus sembuh”. “saya harus berusaha berjuang mencari uang yang sebanyak-banyaknya.
Entah sudah berapa macam obat yang ditelan saya ini, namun tak satupun yang membuahkan hasil, hingga suatu ketika pertolongan Allah itu datang, seseorang membagi sedikit pengalamannya, bahwa penyakit gagal ginjal, jantung, cancer dan penyakit mematikan semuanya Insya Allah bisa sembuh asal pasien mau disiplin dalam masa pengobatan tersebut.
Tiga bulan sudah saya menjalani “terapi” dan Alhamdulillah meskipun belum sembuh total, namun perkembangannya sungguh menakjubkan. Di awal-awal terapi memang perubahannya tidak terlalu signifikan, namun memasuki bulan kedua dan ketiga, perbaikannya sungguh menggembirakan.

Kembali ke cerita
Di bulan pertama jadwal cuci darah kakak saya sudah bisa dikurangi, dari seminggu dua kali menjadi seminggu sekali. Memasuki bulan kedua rutinitas cuci darah menjadi dua minggu sekali, kemudian 3 minggu sekali dan alhamdulillah di awal bulan ketiga lebih jarang lagi, sudah menjadi sebulan sekali.
Jika kakak saya tetap disiplin menjaga pantangan dan rutin mengkonsumsi makanan dan minuman yang dibolehkan saja, maka Insya Allah bulan-bulan berikutnya kegiatan yang membosankan tersebut (soalnya setiap cuci darah, butuh waktu 4 -5 jam), diharapkan menjadi 2 bulan sekali dan semoga akhirnya tidak diperlukan sama sekali.
Pantangannya setahu saya adalah selama terapi kakak saya tak boleh mengkonsumsi nasi sekalipun dan lauk pauk seperti biasanya, karena mengkonsumsi nasi menurut orang yang baik tersebut, hanya memperberat kerja ginjal yang sudah kronis tersebut. Sebagai ganti karbohidrat, maka kakak saya di anjurkan mengkonsumsi tepung talbinah.

Jujur saja, makanan dan minuman pengganti kakak saya tersebut tidak bisa dikatakan murah, apalagi ukuran kantong keluarga kami. Namun kerjasama dan kebersamaan dalam seluruh keluarga yang bahu membahu membantu pendanaan, menyebabkan beban tersebut menjadi terasa agak ringan. Hal ini juga yang kakak saya lihat, sehingga pernah suatu ketika ia berucap bahwa tidak akan mengecewakan semua pengorbanan orang tua dan saudara-saudaranya. Kesembuhan adalah harga mati bagi dirinya apapun yang terjadi, kecuali maut saja yang dapat merampas asanya tersebut. Walaupun sekarang kakak saya terlihat mulai kurus (maklum saja hanya mengkonsumsi herbal saja), tapi fisiknya cukup kuat, bahkan lebih kuat dari sebelumnya dan sekarang masih bisa menjalani hidup secara normal seperti yang lain dan melanjutkan kuliah serta bekerja mencari uang, walaupun pasti tak sesempurna mereka yang sehat. Tetap harus ada motivasi dukungan sepenuhnya dari keluarga dan orang yang dicintainya. Semangatlah kakakku!

Tak Salah


Kenapa dia harus selalu yang pertama
Memikirkan ego sendiri
Tak peduli siapa yang salah kau selalu menyalahkan
Tanpa mau mengalah walaupun salah
Ketika salah selalu mencari kesalahan lain
Kesalahanmulah yang membuatku mengalah
Mengerti apa artinya kesalahan karena-Mu

Tapi kesalahan sesungguhnya karena ku salah menilai jika kau salah

Melupa


Bias wajahmu yang tak pernah tergambarkan
Dalam sejuk hati demi hari tak kunjung pergi
Melayang indah menggapai cerita
Melupakan yang sudah-sudah
Yang sudah biarlah berlalu tapi tidak yang satu ini
Tapi yang sudah apa bisa kembali ?
Kembali menenun rindu yang lama tak tersampaikan
Dan lupa oleh waktu,
Ahh buat apa ?
Buat apa harus kembali jika waktu pun sudah melupakannya
Apa ada sedikit lubang yang bolong untuk masuk ?
Mustahil juga jika terjadi
Dan sekarang buat apa ?
Buat apa harapan ini masih ditempa oleh palu besar

Kalau dinda pun sudah menjadi Mr. F ?

Sebelum Senja


Teman berdiri adalah sepi
Bingkai kenangan yang mulai memudar
Lilin kecil menyala hilang
Menuju temaram senja
Jam berhenti di dua belas
Percikan embun menetes kelabu
Membuat pahit sisa yang manis
Sampai saatnya terlupakan

Dulu kakiku hanya beralaskan setapak tanah
Kepalaku pun hanya beratapkan langir kelam
Kekasih sejatiku adalah kesunyian
Di dalam kehidupan yang ku inginkan
Coba lihat semua hampir basi
Sisihkan lagi jiwamu untuk memberi

Awal kehidupan seorang pemenang
Menempuh perjalanan jauh
Melawan waktu
Kiasan yang hampir basi
Cahayaku adalah kekuatan
Penyulut semangat menuju jalan pulang
SELAMAT PAGI TERANG !

HADAPI DUNIA

Hujan dan Awan Saling Melupakan (Novel BAB 1)

Awal Perkenalan
Malam ini hujan pun kembali turun. Dibawah rintik-rintik indah kenangan delapan tahun silam. Dikota ini. Kota dimana aku dan dia merangkai bunga-bunga kertas menjadi harapan masa depan yang suci. Sebuah janji untuk selalu bersama. Duka, cita, dan asa kami akan lewati. Shit !!! itu sebuah ucapan-ucapan yang datang ketika aku merasa bahagia bersamannya. Tapi seperti yang selalu aku tahu tentang hati. Perasaan memang takkan pernah sama dan konsisten setiap waktunya. Aku sekarang bisa mengucap janji akan selalu bersama dan cinta walau ratusan bahkan ribuan rintangan tapi entah nanti dua menit kemudian, empat puluh hari kemudian, bahkan sepuluh tahun kemudian. Apakah akan sama ?
Kakiku perlahan bergerak mendekat ke tepi sungai didepanku. Dingin menyergap ujung kaki hingga kakiku terlalu kaku dan berat untuk berjalan, mengalir ketelapak tangan kanan yang menggenggam erat payung kecil berwarna merah muda bergambarkan anak panda, menerobos siku, bahu, kemudian tiba dihatiku.
Membekukan seluruh perasaan.
Mengalirkan perlahan potongan-potongan penyesalan.
Mengkristalkan semua harapan.
Sekarang juga, semua harus terlupakan.
***
Jalanan banjir kanal barat sepanjang pinggir kali hingga jembatan sepi oleh lalu-lalang kendaraan. Mungkin karena hujan atau juga karena malam ini adalah malam takbiran menjelang hari raya qurban. Semua orang sibuk dengan keluarga masing-masing. Menata rumah. Menyiapkan hewan-hewan qurban untuk disembelih, memastikan kondisi keadaan hewan baik-baik saja dan siap untuk dieksekusi massal dalam satu hari sakral. Sedangkan aku disini berdiri sendiri bersama daun-daun yang diterpa angin dan hujan yang sedikit membasahi kakiku hingga lutut. Terlihat kerlap-kerlip cahaya lampu yang mengelilingi jembatan dikedua sisi dengan bentuk ular melilit mangsanya. Ada lampu putih bundar memancarkan cahaya yang paling terang menghiasi sekeliling jalan sepanjang banjir kanal setiap 10 meter. Begitu indah dipandang dari kejauhan: dibawah rintikan hujan samping jembatan. Indahnya memancarkan suatu cahaya ketenangan hati dalam suara lirih hujan yang membasahi semua area Banjir kanal. Menata rapi semua kenangan dan ceritaku yang sudah terjadi. Mengembalikan semua ingatan perlahan-lahan. Perlahan-lahan aku ingat dengan jelas, sebuah tragedi di Bulan Mei itu. Bulan yang penuh dengan kenyamanan, keharuan, keindahan, dan kesedihan pernah dirasa di bulan Mei waktu itu.
Ketika mengingat semua yang sudah sangat lama terjadi, tiba-tiba terdengar suara yang membuyarkan lamunaku secara tiba-tiba.
“Mba.. mba.. mba Riris, darimana saja kamu mba? semua mencari mba kemana-mana. Ayo mba kita pulang?.” Dengan nada terengah-engah Ida memangil dari kejauhan mendekat ke Riris.
“Apa dia sudah menungguku daritadi? Apa dia sudah benar-benar siap?.”
“Ia mba, dia dan semuanya sudah siap. Tinggal menunggu mba.”
“Tunggu sebentar. Aku masih ingin menikmati udara disini.”
“Maksud, mba?”
“Ia sebentar lagi, aku masih ingin disini dulu, kalau kamu ingin pulang, pulanglah dahulu.”
“Tapi mba...”
“Sudahlah jangan ganggu aku dulu, aku sedang ingin menikmati hujan dan angin disini.”
Tanpa berkata-kata lagi Ida meninggalkan Riris, kembali untuk pulang.
***
Suara takbir menggema disetiap masjid-masijd dan musala. Kembang api yang selalu bunyi disetiap waktu dimalam ini. Anak-anak berlarian bersama dengan kegembiraan diluar sana. Semua orang hari ini merayakan dan menantikan hari kemenangan. Angin udara malam ini sangat dingin, tetapi hatiku merasa nyaman dan terasa hangat. Karena sekarang aku bisa merasakan berkumpul bersama keluargaku tercinta. Ayah, Ibu, Kaka’, Adik, Ponakan, Suami Kaka’ dan Simbah. Sambil memegang gadgetku dan mendengarkan musik. Musik faforitku, lagu-lagu melodic dan alunan akustik yang sangat membawa hati ke dalam kedamaian dan kenyamanan. Lagu ini. Lagu dari seorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang sangat aku cintai setelah keluargaku tercinta. Orang yang sangat khusus untuk hidupku. Tapi sekarang dia juga sedang bersama keluarganya sendiri. Berbeda kota. Berdekatan tapi kita tak mungkin bisa bertemu di malam ini. Karena pasti semua sibuk dengan keluarga kita masing-masing menunggu hari kemenangan. Sempat aku menghubunginya sore tadi menjelang berbuka untuk terakhir kalinya di bulan Ramadan. Tapi itu hanya sebentar karena sinyal disini sangat sulit dan susah juga untuk berkomunikasi lewat handphone. Suara yang putus-putus dan mengirim pesan selalu gagal. Memang kalau aku sudah berada di rumah alat komunikasi sangatlah sulit digunakan. Kadang membuatku jengkel sendiri.
Malam sudah menunjukan pukul 22.00. Suara anak-anak di luar sana pun sudah menghilang. Suara takbir kini tinggal terdengar suara orang-orangtua. Suara kembang api pun sudah terdengar jarang. Tapi malam ini tetap sangat dingin. Angin yang masih kencang ku rasakan di luar sana setelah sore tadi turun hujan. Kaca-kaca dikamarku masih mengembun basah. Suara jangkrik mulai terdengar berisik ditelingaku. Tapi hatiku tetap membuat semuanya merasa hangat. Kenyamanan hidup. Hidup yang sangat terasa bahagia. Mungkin aku adalah orang yang paling bahagia malam ini. Entah apa penyebab utamanya. Yang jelas hidupku terasa beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku dengan penuh kehangatan.
“Riris, tidurlah nak, nanti kesiangan berangkat ke masjidnya. Sudah malam ini. Matikan musikmu itu, nanti bapakmu marah lho...”
“Nggih bu, niki sampun mapan..”
“jangan lupa tutup pintu belakang ya, tadi belum ibu kunci.”
Sambil berjalan menuju ke belakang rumah untuk menutup pintu. Aku melihat sebuah kertas sobekan dilantai dekat kamar mandi. Tulisannya sudah tidak jelas terbaca karena basah. Mungkin ini sudah daritadi. Dasar Putra adik paling ceroboh. Membawa kertas ke kamar mandi. Tidak membuangnya dengan bersih. Setelah menutup pintu dan sambil membuang kertas itu ke tong sampah. Suara handphone ku berbunyi berkali-kali dari kamar. Mungkin itu pesan yang baru pada masuk daritadi. Pasti Khusnan daritadi sms berkali-kali mencari kabar dariku. Sambil tersenyum-senyum sendiri dan berlari ke kamar.
“Riris... cepat tidur, jangan main handphone terus.” Suara ibu dari kamar terbangun karena bunyi handphone ku.
“Nggih nggih bu niki mboten dolanan hp, tapi sms nembe pada mlebet.”
Aku membuka pesan di hp ku. 12 pesan diterima. Delapan dari Khusnan. Empat dari berbeda orang. Entah siapa saja aku tak hiraukan. Ku buka pesan dari Khusnan semuanya. Hampir semua isi sama. Mungkin karena dia jengkel mengirim pesan tak pernah terkirim. Jadi mengulang pesanya berkali-kali. Tapi yang membuat aku sangat senang pesan terakhir yang isinya. “Selamat malam adinda,,, moga mimpi indah ya sayang. Minal aidzin wal faizin. Mhn maaf lahir batin. Semoga harimu esok menyenangkan. Luv u cinta.”
Ku buka satu-persatu pesan darinya dan dari yang lain. Tiba-tiba aku terkejut melihat pesan paling bawah dan paling awal masuk. Tara. Lama tak terdengar kabar darinya dan lama tak berhubungan. Ia mengirim pesan apa ya.
Malam ade, gimana kabarmu? Mmaz minta maaf ya kalo punya slh pdmu, minal aidzin wal faizin. Mmaz rindu bgt sama ade, masihkan ada rindu ad utk mz? Hhe.”
Entah perasaan apa yang kurasakan secara pikir panjang aku langsung membalas pesan Tara terlebih dahulu.
Malam juga mz, kbr ad baik-baik saja,gimana kbrmu mz? Sehat kan? Hhe minal aidzin wal faizin juga mz.”
Baik de,, de mmaz rindu sma ad,km rindu g?hhe bisa ketemuan besok de?mmaz pgn gmg sama ad.”
“ia mz ad jg rindu, lma bgt g ketemu ya,,,hehe mf mz kyne g bsa bsk q psti sibuk dirumah.”
“Oh ia udah de,,q tunggu kedatanganmu de bsk2 klo sdh kosong.”
“Ia mz, insyaallah. Gimana mz sudah punya pcr lagi kah? Hehe.”
“Belum de.. aku msh setia menunggu ad kok kmbli,,hehe q msh sngt mencintaimu de,, q g bsa melupakanmu...,”
“Kenapa emange mz? Mf mz q sudah ada yg punya,,baiknya mz cpt cari penggantinya jg.”
“Sudah ku coba berkali-kali de tp q g bsa,, q msh sngt cnta sma km,,stiap saat q slalu memikirkanmu... mmaz akan slalu menantimu de,,”
Entah kenapa tiba-tiba sejenak ku terdiam dan melamun. Dan berhenti untuk membalasnya. Aku pun akhirnya membalas pesan Khusnan.
Met mlm jg sayang,,, smsnya baru pd msuk smua mz, jd baru bls.. mf ya.. luv u to cinta... muach :* :*.”
15 menit berlalu tak ada pesan lagi yang masuk. Aku menaruh hpku di meja dan segera bergegas memejamkan mata. Tapi masih saja mata ini belum bisa cepat terpejam, sesaat ku memikirkan pesan tadi. Tara. Ahh lupakan, kenapa aku tiba-tiba seperti ini lagi. Kembali memikirkan. Lupakan.
***
Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu akbar walillah ilham.”
Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu akbar walillah ilham.”
Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu akbar walillah ilham.”
Suara takbir menggema dimana-mana. Orang-orang sudah mulai berbondong menuju ke masjid. Waktu menunjukan pukul 05.00. Semua orang di rumah pada sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat. Aku yang baru saja terbangun, Putra yang masih berselimutkan sarung ditempat tidur, ibu yang sudah sibuk di dapur dari pagi sebelum shubuh bersama kaka’, suami kaka’ yang sedang memandikan keponakanku, ayah yang baru saja pulang dari masjid.
“Riris.... tolong bantu ibu nak, bangunin adikmu itu yang masih dikamar. Putra belum salat Shubuh.” Suara ibu keras dari dapur membangunkan aku dari tempat tidur.
“Nggih bu.”
Aku memang sedang tidak salat, dan mungkin tidak akan ikut ke masjid karena akan menjaga rumah dan mempersiapkan semuanya. Setelah aku membangunkan Putra, aku langsung bergegas ke dapur dan membantu ibu memasak. Air liur yang sudah kering masih membekas dipipiku, pertanda semalam tidurku sangat pulas sekali, tak biasanya juga aku ngiler. Mata yang masih ada cilohnya. Rambut yang masih acak-acakan. Langsung segera masuk kamarmandi dan membangunkan adikku dikamar.
“Hehhhhh,, putra...... bangun bangun.... salat shubuh, udah jam berapa ini? Mau ikut salat id ga sih”
“Ah ia mba aku lupa belum salat, kenapa ga bangunin aku daritadi sih?”
“Hellah kamu itu udah gede masa tidur mesti dibangunin, kamu itu calon kepala keluarga harus bisa bangun duluan dong buat salat shubuh. Salat kok ditunda-tunda.”
“Iaiaia kakaku yang cantik tapi bau, brisik aja sana mandi kak, bau tau..”
***
Jalanan sudah mulai sepi, warga sudah menuju ke masjid semua yang jaraknya satu kilometer dari rumahku. Tinggal kesunyian angin yang berhembus dengan pelan menerbangkan daun-daun yang sudah mulai tua menuju ketempat yang tak tau arahnya. Aku pun sekarang tinggal sendiri di dalam rumah yang sederhana, dengan suara jendela kayu berdecit ketika angin lewat, atap-atap yang gaduh ketika tikus berlarian. Hp ku sekarang juga sepi, aku memutarkan sebuah lagu yang ada di dalam hpku. Ku buka satu persatu playlist runtutan lagu. Lagu-lagu populer, lagu sendu, lagu islami, lagu melodic, lagu luar, avril?.
Seketika aku teringat sebuah ingatan yang dahulu pernah menjadi kenangan terindah dan begitupun kenangan yang belum terlupakan sepenuhnya. Lagu ini mengantarkanku pada pesan semalam. Tara. Tara. Tara. Apa benar ya dia masih mencintaiku, apa dia masih menungguku, padahal kita kan sudah lama sekali berpisah dan lama juga tak terdengar kabar. “Ahh kenapa kau ini Riris.. kamu kan sudah melupakanya. Inget kamu masih punya Khusnan yang begitu sayangnya dan perhatian padamu.” Bayangan kaca seolah mengatakan apa yang ada di dalam hati dan melawan ingatan itu. tapi apa benar ya, kenapa aku masih penasaran dengan dia, apa kabar dia? Ingin sesekali aku berjumpa dengannya.
Lemari itu sudah lama sekali tidak aku buka. Semua berisi kenangan-kenanganku bersama Khusnan, hadiah-hadiah, kejutan-kejutan yang pernah dia kasihkan aku simpan dengan rapi dan jarang untuk melihat dan membukanya, bukan karena aku tidak tertarik dengan pemberiannya atau malas untuk melihatnya, tapi aku terlalu takut merusaknya atau jika ku gunakan terus menerus pasti jadi jelek. Jadi ku simpan rapi dan selalu merawatnya. Tapi aku ingat ada dua kado yang dulu pernah diberikan oleh Tara. Kotak Musik dan jam tangan abu-abu. Kotak musik ini sudah sangat usang. Sudah lama sekali dan dahulu aku sering memainkannya berulangkali. Indah dan sangat romantis jika ku teringat masalalu itu.
Bunyi kotak musik yang mengalun dengan indah dan damai, ku buka lagi sembari mengingat masalalu yang penuh dengan kenangan. Tapi kenangan ini bukan menghantarkan kepada kisahku dengan Tara dahulu, melainkan dengan pacarku yang sekarang. Khusnan. Awal ku mengenal Khusnan dan duduk di bangku SMA bersamaku. Sekarang kita sudah hampir setahun menjalani kisah bersama dengan suka dan cita. Dua tahun kita bersama satu kelas dari kelas sebelas sampai kelas dubelas. Tapi kisahku berawal pada kelas duabelas. Perkenalan yang tidak sengaja yang berawal dari ketidaksengajaan. Satu tahun di kelas dua kita tak saling mengenal bahkan saling tegur menegur sangat jarang. Dia tergolong anak yang superaktif dan siapa saja didekatinya. Tapi aku adalah orang yang pendiam dan tidak bergaul dengan semua teman sekelas. Hanya Cuma dengan gerombolanku saja.
Kelas dua belas ketika aku melihat Khusnan, anak yang paling periang, hyperaktif, suka bercanda, dan perusuh di kelas. Selalu menjadi sorotan teman sekelas. Orang yang penuh dengan tingkahnya yang selalu membuat heboh, menjadi anak laki-laki yang banyak di sukai oleh kaum hawa tapi juga banyak dimusuhi teman lelakinya. Aku suka melihat dia selalu perhatian dan mau bertukar cerita dengan siapapun. Apalagi ketika dia membuat heboh seluruh SMA dengan mengatakan cinta kepada banyak wanita sekaligus dalam satu hari. Itu sungguh menjadi hari yang sangat menghebohkan. Aku pun salah satu dari korban dia, dan kebanyakan di antaranya adalah oarang tidak dia kenal dan tidak pernah dia sukai. Karena itu hanya untuk bermain-main saja dan untuk bahan taruhan dengan temannya.
Tersontak aku pun kaget dan terheran-heran. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan cinta kepadaku, padahal kita hampir tak pernah bicara dan bersama walaupun dua tahun sudah sekelas. Aku pun menolak cinta dia yang dia lontarkan melalui pesan singkat itu. Aku menolaknya karena aku tidak suka padanya dan kurang mengenal baik dia. Dan akupun juga masih punya kekasih. Setelah aku menolaknya tiba-tiba dia malah tertawa dan berterimakasih padaku. Aku pun menjadi semakin terheran dan penasaran dengan satu orang ini. Orang yang begitu aneh.
Selang seminggu dari tingkahnya yang membuat heboh satu SMA itu, aku pun melihat dia begitu tidak semangat dan sedih. Hilang semua raut muka kebahagiaan yang dulu selalu terlihat dan kenakalan-kenalakan yang dia lakukan. Hanya terlihat muka yang di lipat dan selalu tidur di dalam kelas. Awal aku mulai heran dan bertanya-tanya kepada teman, kenapa dengan dia, apa dia sudah kapok dengan tingkahnya minggu kemarin. Ahh entahlah kenapa pikiranku menjadi terpusat padanya. Siapa dia, apa gunanya mikirin dia, apa spesialnya dia.
***
Jam menunjukan pukul 13.30 bel sekolah berbunyi. Suara gaduh pun sudah mulai datang dimana-mana. Enam jam sudah pikiran terkuras dan semua badan menegan karena pelajaran yang luar biasa di hari ini. Hari ini aku piket. Jadi aku masih berada di dalam kelas dan masih duduk sambil bermain hp yang sedang aku pegang. Aku pun teringat. Sekarang itu adalah hari ultahku, pasti teman-teman sudah mempersiapkan untuk iseng denganku di depan sana. Aku sudah mulai waspada dan khawatir. Tapi aku melihat Khusnan yang masih tidur dan baru tersadar ketika bangkunya ku sapu.

“Hey minggir, mau aku sapu?”
“Ehmmmmm...huaa...”
“Eeee bau tau sembarangan, itu ilermu netes.” Sambil tersenyum dan menggeser tubuhnya untuk menyingkirkannya
“ayo awas, mau tak sapu ini, kamu ga pulang? Udah pada pulang semua tuh?”
“masih malas, masih ingin tidur ahh, kamu lewati aja, nanti aku sapu sendiri bangkuku.”
“beneran lo ya, awas lo kalo egak.. aku jitak kepalamu” Dengan nada yang mulai malas dengan dia.

Aku rasa dia tidak tahu kalau sekarang aku ulangtahun. ah kalau tahu pasti aku juga kena disembur airliurnya tadi. Tapi sekarang di kelas hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah mulai kosong. Aku mulai panik kalau terjadi gosip yang tidak-tidak nantinya. Aku pun bersegera menyelesaikan piketku sendirian. Langsung keluar meninggalkan Khusnan begitu saja. Dan firasatku benar. Ternyata teman-temanku sudah siap diluar sana dengan ember dan gayung yang berisikan air kotor. Aku lupa tidak membawa ganti pula. Semua teman-teman langsung menghampiriku dan memegangi tanganku dan menyerangku dengan semua air kotor itu di depan kelas yang dekat dengan WC siswa juga. Aku pun berlari-lari mengejar mereka untuk membalas dendam. Aku masuk kekamar mandi dengan gayung yang sudah ku isi air. Ku lemparkan saja ke depan. Ternyata disaat bersamaan Khusnan lewat dan terkena air yang ku lemparkan tadi. Tanpa disengaja dan tanpa pikir panjang pun aku justru tidak meminta maaf karena dia tidak tahu apa-apa aku guyur dengan air, ku tambahi saja untuk melampiaskan dendam dengan teman-temanku. Dan dia terheran-heran dan bingung.
“Hey, kenapa aku disiram tiba-tiba. Aku kan melakuka apa-apa?”
“Hahaha makanya salah sendiri lewat disitu, daritadi aku suruh pulang gak mau.”
“Ia tapi aku kan tidak ikut ngerjain kamu, aku ga salah apa-apa tiba-tiba aku yang kena.”
Tiba-tiba teman sekelas pun menertawakan aku dan Khusnan yang justru adu mulut ditengah keasyikan basah-basahan.
“ya maaf,, sekarang kan tanggung ini aku tambahin lagi ya biar seru...” sambil tertawa dan melemparkan air lagi ke tubuh Khusnan yang sudah basah kuyup itu.
“Ya sudahlah aku ikhlas kok, sini lagi kalau mau biar kamu puas itung-itung ikut merayakan kebahagiaan teman yang sedang ulangtahun.” Sambil tersenyum dan bernada pasrah
“Hahahaha.. terimakasih Khusnan maaf.”
“Ia tapi habis ini aku balas dendam ya, kamu aku cegurin ke dalam sumur depan sekolah, habis itu kita makan-makan.” Sambil berlari mengejarku dan ekspresi yang berubah seperti pemangsa.

Aku pun berlari sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresinya yang tidak tahu apa-apa tapi diguyur. Akhirnya kita kejar-kejaran di sekolah sampai pukul 15.00.

***
Pintu depan rumah berbunyi secara tiba-tiba. Assalamualaikum. Aku sontak kaget karena sedang melamun tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang membuat jantung sontak berdetak kencang dan menutup kotak musik dengan terburu-buru memasukan ke dalam lemari lagi. Semua orang sudah pulang dari masjid, berarti pertanda salat id sudah selesai. Adikku yang pertama kali masuk rumah dan langsung bergegas mencari makanan yang ada ditoples. Dalam hati ku dasar manusia penuh nafsu, nafsu makanan. Liat makanan sedikit saja sudah dimakan saja. Seperti layaknya manusia lainya. Manusia punya insting untuk makan, nafsu seks, nafsu cinta, dan nafsu untuk tidur. Semua itu lumrah terjadi pada manusia. Soal makan aku tidak begitu nafsu, tidurpun aku tidak begitu berlebihan, seks entahlah aku belum begitu mengenalnya, tapi soal cinta, aku akui aku sangat haus akan cinta dan kasih sayang dari seseorang. Ingatan yang tiba-tiba datang dari semalam dan tadi pagi pun aku tidak bisa menghindarinya. Semuanya masih jelas tergambar dalam ingatanku, karena kebutuhan cinta dan kasih sayang. Aku sekarang nyaman dengan hubunganku dengan Khusnan. Orang yang paling membuatku bahagia dan beruntung karena perhatian dan kasih sayang dia yang luar biasa kepadaku. Aku sangat menyintai dia.




Selasa, 23 Juni 2015

Terbalik karya Tefan Randika Putra



Melangkah perlahan aku ke sebuah jembatan besar yang sepi dipinggiran kota, Semarang, malam ini bulan purnama menjelang jam 21.00. Kunang-kunang di pinggiran jembatan mulai muncul dari sebuah tidur lelapnya sepanjang pagi, mereka menari-nari merayakan malam mereka, trotoar yang banyak berlubang dan rusak ditambah kendaraan lalu-lalang melewati jembatan membuat jalan semakin ramai berdengung meskipun hanya sedikit yang lewat karena jembatan itu sudah mulai sepi di jam yang sudah larut malam. Suara jangkring berbunyi lirih membayangi.

Di balik jembatan sepanjang jalan seperti taman yang dikelilingi lampu malam yang indah, setiap 10 meter kerumunan manusia telanjang sepasang, aku berjalan mendekati sendirian dengan mata sayu seperti habis menangis tiga hari tiga malam, sejenak meninggalkan pemandangan taman yang menguji kesabaran mental. Seketika aku bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Banyak hal yang membuat kita terjatuh pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terbayangkan dan tercatat jika kita dipikirkan dengan penalaran yang kuat mengapa kita harus bahagia terlebih dahulu baru termenung menyesal, seolah hidup ini berujung menyedihkan. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia yang kejam dan penuh dengan teka-teki. Apa sebaiknya mati ?
***
Suara berisik mengganggu pikiranku serta membuncarkan hatiku. Alunan terompet-terompet dan pukulan drum-drum dalam acara festival arak ulangtahun kota. Tiba-tiba serombongan itu melewati depan jalan yang aku singgahi dan duduk di sebuah rumah makan lesehan dipinggir jalan. Aku bersama kekasihku Rudi dan sepasang temanku juga Umi dengan kekasihnya Andi. Kami berempat sedang mengistirahatkan diri sejenak setelah perjalanan jauh kami dari rumah menuju tempat rekreasi liburan kami serta mengunjungi tempat yang ingin aku teliti dikota sebelah.
Rudi memang orang yang paling bisa membuatku tersenyum ceria dan merasakan nyaman dalam pelukannya, setiap waktu yang ku lewati dengannya tak pernah terasa, begitu sebentarnya walaupun aku sudah hampir seharian dengannya dari pagi sampai sore, ditemani terik matahari sampai hujan yang menerpa kami diperjalanan. Semua ini begitu menyenangkan kurasakan menikmati panas dingin cuaca dengannya, karena kita pun juga LDR dipisahkan jarak dan waktu setiap saat, inilah momen satu-satunya untuk mengabadikan kenangan yang begitu indah jauh dari kenangan masalalu yang sudah kubuang jauh-jauh dan kulupakan begitu saja. Dinar ? bagaimana dengan Dinar ?. Ahh entahlah mungkin dia juga sudah melupakannku dan sudah bersama dengan oranglain juga. Ku pikir ucapan dia semalam lewat pesan singkat yang sering aku abaikan mungkin hanyalah bualan dan gombalan dia ketika berbicara sulit untuk move on dan masih mencintaiku untuk terus mengharapkanku.
Dinar memang orang yang sangat aku sayangi melebihi orang yang pernah bersamaku daridulu dan orang yang paling lama berlabuh didalam hatiku tapi dia juga orang yang paling aku benci karena sifatnya yang sangat kekanak-kanakan, pembohong besar, lemah, dan yang jelas sangat menyiksa disaat-saat terakhirku bersamanya. Aku putuskan untuk meninggalkan dia dengan luka di hatinya untuk berlabuh dan kembali kepada orang yang selalu dekat denganku daridulu, orang yang selalu ada disaatku sedang mempunyai masalah dengan Dinar, orang yang selalu mengejar-ngejar aku setelah dahulu pernah bersamaku juga, orang yang pernah buatku tergila-gila olehnya setiap saat dan pernah hampir menyelingkuhi Dinar waktu aku masih dengannya. Berkali-kali memang aku selalu dekat dengan mantanku Rudi ketika aku bersamanya.
Tetapi sekarang aku resmi kembali dengannya dan meninggalkan orang yang benar-benar tulus menyayangiku katanya. Ia kata Dinar, dia mencintai dengan tulus, tapi beberapa kejadian ketika aku resmi kembali dengan Rudi, banyak hal-hal bodoh yang Dinar lakukan padaku dan semua kena imbasnya, segala cara dia luapkan, lakukan dengan sembrono. Aku benar-benar menjadi sangat benci dengan dia, tetapi disisi lain aku merasakan sangat bersalah dengannya karena apa yang aku sudah ucapkan dahulu menjadi kenyataan yang terbalik dan keadaan sekarang. Nyatanya beberapa kejadian yang sudah terjadi, beberapa hal memisahkan aku dan Rudi ujungnya kembali dan sekarang menyatu kembali. Memang itulah cinta, walaupun mengorbankan beberapa perasaan, mengorbankan semuanya yang sudah terjadi, tidak peduli dengan perasaan oranglain, mengabaikan semua yang akan terjadi nantinya, tapi itu semua masa bodo buatku, yang penting semua itu nantinya akan menjadi pilihanku yang terbaik bukan terbalik.
Keputusanku saat ini adalah sebuah keegoisan hatiku yang benar-benar ingin meresmikan dengan orang yang selalu buatku nyaman, memang tak bisa dibandingkan antara Rudi dan Dinar, tetapi setidaknya Rudi lebih dewasa darinya, simple, supel, jauh lebih tampan dan putih juga darpada Dinar yang memang parasnya yang pas-pasan dan hitam. Wajah memang bukan nomor satu untuk satu alasan perasaan yang ku pilih ini. Tapi setidaknya itupun sedikit mendukung alasan kenapa aku harus cepat melupakan dan lebih menjaga perasaan orang yang aku pilih sekarang karena jika dibandingkan kekasihku sekarang jauh lebih ketimbang Dinar dari segala hal dan mampu menjadi tulangpunggung keluargaku kelak yang lebih cerah.
***
Tak bisa dipungkiri saat ini keadaan bagiku masih belum bisa melupakan Dinar walaupun aku sudah memutuskan untuk los kontak dengannya dan mengikuti segala aturan kekasihku yang sekarang demi menghargai perasaannya kepadaku dan menjaga perasaan orang yang sudah aku pilih, dia sudah menjadi milikku sekarang, dia menjaga perasaanku jauh disana dari wanita-wanita yang menggodanya, entah itu benar atau tidak aku hanya bisa mempercayainya saja. Hubungan yang baik adalah sebuah kepercayaan, jika kepercayaan itu sudah ternodai sedikit saja semua sudah sia-sia jika dilanjutkan kembali.
Rudi adalah orang yang dulu pernah meninggalkanku dan membohongiku demi oranglain. Rasa sakit itu memang sudah kumaafkan sekarang dan mencoba menjalani kembali kepercayaan itu. Dibanding dengan Dinar yang daridulu selalu aku kecewakan dan menyakiti dia berkali-kali tetapi dia masih setia denganku dan masih menyintaiku tanpa bisa berpaling dariku. Orang yang paling setia dan paling menyintaiku yang pernah aku kenal, tetapi aku lebih memilih Rudi yang pernah menyakitiku dan memaafkan segala kesalahannya, ketimbang aku harus bertahan dengan orang yang selalu aku sakiti dan buatku tertekan akan keegoisan hatinya yang sangat mengekangku. Namun aku tak pernah bisa memaafkan dirinya dan tak akan pernah bisa kembali dengannya. Entah apa semua ini adil buat semua atau hanya buatku saja yang penting aku sendiri nyaman dan senang untuk melanjutkan hari-hariku.
Dinar masih selalu menghubungiku dengan segala caranya mencari perhatianku agar aku bisa selalu menemaninya, tetapi aku sendiri sudah memutuskan untuk melupakannya, terus berhubungan dengannya tidak akan bisa membuatku melupakannya, Rudi pun selalu menyuruhku untuk bisa menjaga perasaannya. Ia memintaku juga untuk menghapus pertemannya dan menjauh darinya sampai benar-benar Dinar bisa lepas dari hidupku dan menjauh dari hubunganku sekarang agar tidak menjadi benalu dan merusak hubunganku sekarang. Walaupun hati ini tak bisa dipungkiri yang terkadang merindukannya.
Apa yang Rudi suruh sekarang aku turuti. Aku seperti selir raja yang mengikuti segala permintaan sang raja dan hanya demi sang raja bahagia serta tidak melukai perasaannya, walaupun rakyat harus menderita dan menanggung semuanya yang raja perintahkan. Aku bagaikan wanita yang terhipnosis oleh rayuan dan permohonan sang Arjuna sehingga aku menaati segala perintahnya demi memberikan yang terbaik untuknya. Semua yang ada pada otakku, pikiranku, dan perasaanku seutuhnya adalah dia. Sampai-sampai aku melupakan tentang etika hidup untuk berdampingan dan tidak memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menyayangiku dan ada buatku saat aku membutuhkannya. Lupa tentang merasakan apa yang orang rasakan dengan semua keputusanku. Ahh semua sudah tak aku hiraukan yang penting aku menikmati ini dan bisa menjaga perasaan kekasihku, belajar dari pengalaman yang suda-sudah. Aku ingin lebih bisa menjaganya walaupun ini mungkin tidak adil bagi satu pihak. Tapi ini keputusan yang harus kita terima sama-sama dan setidaknya bisa saling menerima.
***
Dinginnya malam menyergap malam ini dengan penuh penghayatan menuju relung hati yang sedang buncar memikirkan hidup yang tak adil ini. Dinar sudah berputus asa dengan hidupnya. Lelaki yang terlihat lemah dan tak tegar ini mulai menyesali keadaan. Sambil mengumpat Tuhan, menyumpahi hidup yang penuh dengan ketidakadilan. Ingin bunuh diri. Semua tidak akan menyelesaikan masalah. Ingin kembali ke kehidupan. Buat apa? Semuanya pahit jika terus jalani. Angin semakin kencang menggetarkan hati untuk mengakhiri semuanya sekarang. Tak usah kembali ke ruangan serba putih itu ditemani wanita-wanita cantik yang juga memakai pakaian putih dan semua serba putih tidak seperti hatiku yang sudah menghitam semua. Tak ada gunanya juga kembali, semua itu hanya menunda kematiannya.
Ditempat ini setidaknya bisa membuatnya tenang dan menikmati kenangan-kenangan indah masalalunya. Meluapkan segala keluh-kesah yang sudah terjadi dan harus kunikmati mau tak mau walaupun ini pahit kurasakan. Udara yang dingin tapi tak terasa dingin karena badannya yang sangat panas. Badan sudah mulai gemetar dan kaku, lidah sudah kelu untuk mengucap kata-kata cinta. Menikmati saat-saat terakhir di malam ini sangatlah membahagiakan baginya. Hari ini adalah hari cuci darah Dinar kembali untuk menyambung hidup dan menunda kematian untuk sejenak. Ia memang masih mempunyai uang untuk melakukan itu, tetapi ia benar-benar sudah lelah untuk diinfus kembali. Bosan dengan perawat itu-itu saja. Bosan dengan dokter yang selalu bilang aku pasti sembuh. Selalu berkata semangat, banyak orang yang menunggumu dan menyayangimu diluar sana. Itu semua hanya kata-kata bulshit dokter untuk memotivasiku saja.
Tuhan memang sudah menakdirkan Dinar untuk sakit, tapi Tuhan juga yang tahu kapan ia harus menyudahi menghirup nafas didunia ini dan hanya Tuhan yang berhak menghabiskan masa aktif nyawanya. Kini tinggal Dinar rasakan semua itu dan mencoba memasrahkan seluruh hidup Dinar kepada Tuhan.
Badannya sudah mulai melemah dan malam ini juga ia menghirup nafas terakhirnya di sebuah taman dengan sungai yang mengalir disampingnya. Sendirian. Tanpa ada yang mengetahuinya. Ia meninggalkan dunia ini dengan penuh kedamaian dan ketenangan. Hanya temanku yang mengetahui semua itu yang tak sengaja melewati sungai itu dibawah rintik hujan yang mulai mengguyur. Badannya sudah ditemukan kaku. Menemukannya terbaring dengan damai menggenggam sebuah kain kecil berwarna kuning. Warna yang pas untuk penanda kematiannya dan burung-burung mengitari jasadnya diatas.
***
Cuaca di kota ini mulai terasa dingin dan menyergap rangsanganku untuk semakin hangat dengan Rudi. Aku mulai memeluknya dan menggandeng tangannya dengan erat, terasa hangat dan menentramkan. Tak ingin kulepaskan genggamannya dan semakin kurapatkan badanku ke tubuhnya, melelehkan segala rasa dan melupakan pikiran masalaluku yang sedari tadi buatku melamun.
“De kita pindah yuk ? udah begitu reda hujannya, udah mulai sore juga.”
Rudi mengajakku pergi meninggalkan posisi yang sudah begitu nyaman berada dipelukkannya dan nyaman bersandar dibahunya. Umi dan Andi pun mengajak untuk pulang. Akhirnya kamipun menuju tempat rekreasi terdekat hanya sekadar mengabadikan momen kenangan kita berdua. Setelah asyik bersenang-senang kamipun memutuskan untuk pulang dan melepaskan rindu ini kembali untuk berpisah dan kembali berjauhan terpisah oleh jarak dan waktu. Sebelum meninggalkan semuanya aku memeluk erat tubuh Rudi dengan erat dan semua pikiran buyar dan melupakan segalanya. Akupun mulai menikmati pelukan erat yang dia balas kepadaku. Andi dan Umi sudah meninggalkan kami berdua dan pulang menuju rumah, sedangkan kami masih menuai rindu dan tak ingin melepaskan semuanya sampai semua terlewatkan. Semua itu akhirnya terjadi kembali. Dengan seseorang yang berbeda lagi.
Badanku basah kuyup sampai dirumah, pengorbanan yang dia lakukan hari ini untuk meluangkan waktunya untukku sudah begitu besar dan cukup buatku bahagia dan semakin menyintai dia. Hari ini adalah kenangan terindah yang aku nikmati bersamanya, walaupun lelah tapi semua itu sungguh sangat berkesan dan terbayarkan. Tetapi ada satu yang buatku kembali teringat dan menyesal. Kenapa aku harus kembali terbuai oleh seorang lelaki dan kembali melakukannya, bahkan melebihi kenikmatan dengan sebelumnya. Aku mulai takut dengan apa yang akan terjadi nantinya, semoga tidak terjadi apa-apa dan baik-baik saja. Hatiku mulai gelisah dan mulai tak tenang.
Aku kembali teringat dengan Dinar, tiba-tiba Dinar lagi. Ada apa dengan Dinar, bagaimana kabarnya?, apa Dinar tahu tentang semuanya. Dengan perasaan yang mulai gelisah dan tak tenang aku mulai menghubunginya. Tetapi tak pernah bisa dihubungi, sinyal yang sangat sulit ku dapatkan. Aku mulai cemas dan gelisah, bukan karena mengkhawatirkannya dan memikirkannya, melainkan mengingat ucapan-ucapan terakhirnya yang ia katakan padaku dan aku abaikan. Aku takut dengan karma, takut dengan apa yang telah aku sakiti kepada seseorang.
Akhirnya semua yang aku khawatirkan terjadi juga, satu bulan kemudian setelah pertemuanku dengan Rudi yang terakhir di kota itu. Hubungan kami mulai renggang dan ia mulai terasa jauh dari hidupku. Entah itu karena kesibukan kita masing-masing ataukah memang ia sudah mulai menjauh dariku. Dan disaat hubunganku mulai renggang aku mendengar kabar dari temanku bahwa Dinar telah tiada, dia sudah dikuburkan satu bulan yang lalu.
Aku sangat menyesal dan menyadari semua kesalahanku atas semua keputusanku yang terbilang terlalu singkat untuk berpikir tanpa pernah mendengarkan nasehat teman-temanku. Tapi semuanya sudah terjadi dan aku hanya bisa menyesalinya dan menangis dibawah kekecewaan yang sangat mendalam. Hampir aku ingin melukai diriku sendiri untuk melampiaskan semua penyesalanku yang aku buat berulangkali. Dalam hati aku ingin berkata “Maafkan aku, aku tlah mengecewakanmu dan tak mendengarkan nasehatmu”.
Dunia ini tak pernah kita ketahui jika kita melihat hanya dari satu sisi, mungkin kita merasakan bahagia dengan pilihan kita, tapi kita tak menyadari dengan tindakan dan pilihan kita membuat orang menderita. Satu kesenangan seseorang perlu mengorbankan seseorang untuk menderita. Aku membuat bahagia orang yang pernah menyakitiku dan akhirnya kembali menyakitiku setelah apa yang sudah kita lakukan sejauh ini untuknya, tetapi aku menyakiti dan meninggalkan orang yang sudah banyak berkorban untukku, mati-matian mempertahankan kesetiaannya kepadaku dan akhirnya meninggalkanku juga selamanya.
***
Kemurnian malam ini disebuah sungai dekat jembatan pukul 21.30 sudah mulai menampakkan rembulan yang mulai tenggelam diwajahku. Memupuskan segala kesenangan dan kemurnian hati. Di tempat ini juga satu bulan sebelumnya Dinar menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya karena sakitnya yang enggan untuk cuci darah. Teringat dengan kata temanku yang menemukan Dinar terbaring disini. Ia meninggalkan sebuah pesan singkat dalam kertas yang dibentuk hati tergenggam ditangannya sebelum ia membuangnya. Bertuliskan :
“Semua yang terjadi memang takkan pernah bisa kembali, kesedihan, kesenangan, keresahan, dan kenikmatan adalah cara kita untuk mengekspresikan rasa untuk mengikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi. Angin yang takkan pernah kembali sudah pergi meninggalkan muasanya menuju tempat yang baru. Kembali ke asal sebuah kemurnian untuk mengolah angin kembali. Ketika hujan dan awan saling melupakan, takkan pernah terjadi lagi air yang meneteskan jatuh ke bumi. Namun kita perlu memohon untuk kembali rujuk, agar bumi yang kering kembali basah dengan hujan yang indah. Jangan menyesali apa yang sudah dilupakan, tetapi jalani lah dengan mencoba memperbaiki apa yang sudah dilupakan. Percayalah semua itu akan kembali indah. Teruslah berjuang dan lanjutkan mimpimu dengan sisa-sisa semangatmu atas pilihan hidup yang sudah dipilih. (: .“
Malam kembali malam, pagi pun menunggu pagi. Aku melangkah kembali keluar dari tempat ini dengan tetesan airmata kelegaan dan segera melupakan semua. Maafkan aku. Bahagialah disana, 

23 April 2015