Selasa, 23 Juni 2015

Adinda... Apa Kabar Kamu ?


Pernahkah kau tahu dinda,
Aku disini terbaring cukup bahagia ketika kau tinggalkan
Dengan keadaan kurus kering penuh dengan pengharapan
Taukah kau disini aku menunggumu ?
Menunggu kau kembali menyapaku dengan senyum dan mengembalikan seperti semula
Apa yang sudah kau putuskan itu sangat menyakitkan
Hanya demi orang yang kamu bela dan korbankan aku
Menghilangkan aku jauh dari kabarmu
Menari-nari diatas ketakutanku
Takut akan yang terjadi denganku tanpa kabar darimu

Pernahkah kau tahu dinda,
Aku sekarang menjadi manusia sempurna
Dengan cacat yang harus kujalani sekarang
Dengan pesakitan yang harus aku jalani setiap pekannya
Sesudah kau putuskan untuk melakukan hal yang katamu terbaik
Selalu rutin menjalani terapi dan terapi untuk menyambung hidup

Pernahkah kau tahu dinda,
Aku sekarang menjadi manusia hebat dan pantang menyerah
Semangat yang berkobar setiap hari untuk berusaha
Menjalani hidup dengan penuh impian
Berusaha setiap saat untuk mendapatkan omset minimal 100 ribu perhari
Demi kau, demi aku bisa mengetahui kabarmu kembali setiap saat dinda,

Dinda,
Apa kau baik-baik saja disana ?
Apa kau sehat sekarang ini ?
Apa kau mengetahui dinda ?
Kenapa kau masih belum mengembalikan kabarmu kepadaku yang sudah kau hapus?
Kau tidak apa-apa kan ?
Kau baik-baik saja kan ?

Dinda,
Apa kau sekarang sudah bahagia disana ?
Apa kau melupakan aku disini ?
Yang kau tinggalkan dengan keadaan yang merindukanmu.

Hey, Adinda,
Apa kabar kamu ?
Aku masih menunggumu mengembalikannya, kabarmu yang telah kau hapus itu.

-(
Kerinduan, penyesalan, pesakitan, sakit jiwa, dan keindahan. Lima kata kunci yang harus aku selesaikan malam ini. Entah harus datang dari mana ide itu tetapi lima kata itu yang aku pilih malam ini untuk ungkapan sebuah ekspresi lisan yang tak bisa terucap. Mungkin beberapa kejadian jika disusun satu-persatu akan bisa mendapatkan jawaban dari lima kata itu.
Sebuah jawaban ungkapan hati yang sesungguhnya untuk meluapkan semua belenggu dari hidup, melepaskan energi-energi kehidupan yang sulit untuk dipahami.

Kerinduan
Awan yang menampakkan cuaca hari ini pertanda akan datang kabar baik dari isi bumi. Hari ini pasti akan cerah dan seisi bumi akan menyanyikan lagu kerinduan. Kerinduan yang terpendam dari perut bumi untuk mengungkapkan rasanya yang telah lama tak nampak tiga bulan ini. Melangkah menyibakkan hati dalam sebuah kamar gelap untuk sembari tiduran dalam ranjang yang hanya beralaskan kasur kecil yang kumuh dengan bantal guling sedikit usang dan dua bantal kecil tanpa sarungnya. Tembok-tembok yang sudah mulai menua seperti usia jam dinding yang tergeletak dimeja begitu saja. Bukan alasan untuk menjadi kisah horor atau klasik dipagi ini, namun sebuah pesan dari langit bahwa hari ini akan ada pertanda baik setelah malam yang panjang dilalui dalam alam yang berbeda, hari ini sungguh aku ingin mengenang kisah tiga bulan yang lalu untuk dirasakan sensasi kerinduan yang begitu dalam bersama burung-burung yang datang menghampiri dijendela kamar kecil ini.

Penyesalan
Tiga bulan yang lalu, menatap perjalanan remaja zaman sekarang yang penuh dengan lika-liku percintaan dan keangkuhan sebagai hamba yang tidak menaati perintah sang Esa. Sebuah kebohongan besar dilakukan, segala cara dilakukan untuk mencari perhatian, ketidakpuasan atas kenyataan yang ditakdirkan. Membuat semua gempar atas perilaku hatiku yang saat itu sedang kacau, berantakan, dan jelas membingungkan seperti anak kecil yang ditinggalkan disebuah supermarket di kota. Khilaf yang datang menghampiri, kalimat yang terucap berulang kali dengan hanya satu kata. “Istighfar”. Menyadari semua kekhilafan yang dilakukan. Semuanya memang takkan pernah bisa kembali, namun semua itu bisa diperbaiki dengan penyesalan yang tulus dari hati dan sebuah ungkapan maaf untuk menyelesaikan masalah hati yang ternodai.

Pesakitan
Tak bisa dipungkiri memang pada saat itu perasaan hati sungguh kacau tak karuan, untuk makanpun hampir dua hari sekali merasakan nasi yang hanya beberapa suap masuk dalam mulut. Saat itu keadaan benar-benar ingin mati saja menjalani hari-hari gelap dengan godaan-godaan setan yang terkutuk selalu menghantui, sedangkan yang dirasakan sedang menikmati keceriaan bersama malaikat-malaikat yang menari-nari menghiburnya. Sebuah hati yang terlalu dalam tertusuk oleh hujaman kejadian-kejadian pilu dan menyedihkan, hari-hari dilewati dengan penuh kesengsaraan dan pikiran-pikiran yang selalu menghantui.

Sakit jiwa
Tiga bulan berlalu dengan begitu pelan, arah jarum jam pun selalu pelan jika dilihat dengan mata telanjang dan cuaca yang tak pernah berganti, selalu mendung di dalam hatiku. Satu, dua, tiga, lima, sepuluh, dua belas hari dilewati terasa sama dan hambar dilalui. Menit demi menit memikirkan hal yang sama. Dinda, dinda, Adinda, kenapa harus seperti ini dinda ? nafasku sudah mulai terlatih jauh darimu. Sulit untuk melangkahkan jejak untuk sekadar berjalan satu langkah demi langkah. Dinda, dinda, Adinda, tolonglah aku ? bantu aku untuk berdiri disini dan kembalilah bersamaku. Tiga bulan berlalu pun sungguh dirasakan tetap sama. Hambar. Menyedihkan. Gelap.

Keindahan
Hingga akhirnya hujan pun datang seketika tanpa aba-aba disaat cuaca yang begitu mendukung untuk pergi keluar. Suara air gemericik yang mulai jatuh ke bumi membuyarkan lamunanku dalam kamar sempit ini. Burung-burungpun pergi meninggalkan kotoran di jendela dengan penuh kegelisahan menuju rumahnya. Seketika itu aku mulai sadar waktu sudah berlalu begitu lama dan aku harus mengubahnya dengan pikiran=pikiran positifku untuk merasakan kedamaian dan keindahan hati seperti hujan yang tiba-tiba membasahi bumi dan awan yang tadinya cerah dan kering itu. Airmata satu-satu jalan untuk menumpahkan segalanya dipagi hari ini.

-)
Kerinduan, penyesalan, pesakitan, sakit jiwa, dan keindahan. Semua itu sudah menjelaskan segalanya bahwa hari ini, pagi ini, detik ini ku harus memulai percakapan yang mengawali senyuman dari sebuah telepon genggamku yang sedari tadi di meja.
“Hay...Adinda, apa kabarmu kamu ?”

 12 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar