Pernahkah kau tahu dinda,
Aku disini terbaring cukup bahagia ketika
kau tinggalkan
Dengan keadaan kurus kering penuh dengan
pengharapan
Taukah kau disini aku menunggumu ?
Menunggu kau kembali menyapaku dengan
senyum dan mengembalikan seperti semula
Apa yang sudah kau putuskan itu sangat
menyakitkan
Hanya demi orang yang kamu bela dan
korbankan aku
Menghilangkan aku jauh dari kabarmu
Menari-nari diatas ketakutanku
Takut akan yang terjadi denganku tanpa kabar
darimu
Pernahkah kau tahu dinda,
Aku sekarang menjadi manusia sempurna
Dengan cacat yang harus kujalani sekarang
Dengan pesakitan yang harus aku jalani
setiap pekannya
Sesudah kau putuskan untuk melakukan hal
yang katamu terbaik
Selalu rutin menjalani terapi dan terapi
untuk menyambung hidup
Pernahkah kau tahu dinda,
Aku sekarang menjadi manusia hebat dan
pantang menyerah
Semangat yang berkobar setiap hari untuk
berusaha
Menjalani hidup dengan penuh impian
Berusaha setiap saat untuk mendapatkan
omset minimal 100 ribu perhari
Demi kau, demi aku bisa mengetahui kabarmu
kembali setiap saat dinda,
Dinda,
Apa kau baik-baik saja disana ?
Apa kau sehat sekarang ini ?
Apa kau mengetahui dinda ?
Kenapa kau masih belum mengembalikan
kabarmu kepadaku yang sudah kau hapus?
Kau tidak apa-apa kan ?
Kau baik-baik saja kan ?
Dinda,
Apa kau sekarang sudah bahagia disana ?
Apa kau melupakan aku disini ?
Yang kau tinggalkan dengan keadaan yang
merindukanmu.
Hey, Adinda,
Apa kabar kamu ?
Aku masih menunggumu mengembalikannya,
kabarmu yang telah kau hapus itu.
-(
Kerinduan,
penyesalan, pesakitan, sakit jiwa, dan keindahan. Lima kata kunci yang harus
aku selesaikan malam ini. Entah harus datang dari mana ide itu tetapi lima kata
itu yang aku pilih malam ini untuk ungkapan sebuah ekspresi lisan yang tak bisa
terucap. Mungkin beberapa kejadian jika disusun satu-persatu akan bisa
mendapatkan jawaban dari lima kata itu.
Sebuah jawaban ungkapan hati yang sesungguhnya untuk meluapkan semua belenggu dari hidup, melepaskan energi-energi kehidupan yang sulit untuk dipahami.
Sebuah jawaban ungkapan hati yang sesungguhnya untuk meluapkan semua belenggu dari hidup, melepaskan energi-energi kehidupan yang sulit untuk dipahami.
Kerinduan
Awan
yang menampakkan cuaca hari ini pertanda akan datang kabar baik dari isi bumi.
Hari ini pasti akan cerah dan seisi bumi akan menyanyikan lagu kerinduan.
Kerinduan yang terpendam dari perut bumi untuk mengungkapkan rasanya yang telah
lama tak nampak tiga bulan ini. Melangkah menyibakkan hati dalam sebuah kamar
gelap untuk sembari tiduran dalam ranjang yang hanya beralaskan kasur kecil
yang kumuh dengan bantal guling sedikit usang dan dua bantal kecil tanpa
sarungnya. Tembok-tembok yang sudah mulai menua seperti usia jam dinding yang
tergeletak dimeja begitu saja. Bukan alasan untuk menjadi kisah horor atau
klasik dipagi ini, namun sebuah pesan dari langit bahwa hari ini akan ada
pertanda baik setelah malam yang panjang dilalui dalam alam yang berbeda, hari
ini sungguh aku ingin mengenang kisah tiga bulan yang lalu untuk dirasakan
sensasi kerinduan yang begitu dalam bersama burung-burung yang datang
menghampiri dijendela kamar kecil ini.
Penyesalan
Tiga
bulan yang lalu, menatap perjalanan remaja zaman sekarang yang penuh dengan
lika-liku percintaan dan keangkuhan sebagai hamba yang tidak menaati perintah
sang Esa. Sebuah kebohongan besar dilakukan, segala cara dilakukan untuk
mencari perhatian, ketidakpuasan atas kenyataan yang ditakdirkan. Membuat semua
gempar atas perilaku hatiku yang saat itu sedang kacau, berantakan, dan jelas
membingungkan seperti anak kecil yang ditinggalkan disebuah supermarket di
kota. Khilaf yang datang menghampiri, kalimat yang terucap berulang kali dengan
hanya satu kata. “Istighfar”. Menyadari semua kekhilafan yang dilakukan.
Semuanya memang takkan pernah bisa kembali, namun semua itu bisa diperbaiki
dengan penyesalan yang tulus dari hati dan sebuah ungkapan maaf untuk menyelesaikan
masalah hati yang ternodai.
Pesakitan
Tak
bisa dipungkiri memang pada saat itu perasaan hati sungguh kacau tak karuan,
untuk makanpun hampir dua hari sekali merasakan nasi yang hanya beberapa suap
masuk dalam mulut. Saat itu keadaan benar-benar ingin mati saja menjalani
hari-hari gelap dengan godaan-godaan setan yang terkutuk selalu menghantui,
sedangkan yang dirasakan sedang menikmati keceriaan bersama malaikat-malaikat
yang menari-nari menghiburnya. Sebuah hati yang terlalu dalam tertusuk oleh hujaman
kejadian-kejadian pilu dan menyedihkan, hari-hari dilewati dengan penuh
kesengsaraan dan pikiran-pikiran yang selalu menghantui.
Sakit
jiwa
Tiga
bulan berlalu dengan begitu pelan, arah jarum jam pun selalu pelan jika dilihat
dengan mata telanjang dan cuaca yang tak pernah berganti, selalu mendung di
dalam hatiku. Satu, dua, tiga, lima, sepuluh, dua belas hari dilewati terasa
sama dan hambar dilalui. Menit demi menit memikirkan hal yang sama. Dinda,
dinda, Adinda, kenapa harus seperti ini dinda ? nafasku sudah mulai terlatih
jauh darimu. Sulit untuk melangkahkan jejak untuk sekadar berjalan satu langkah
demi langkah. Dinda, dinda, Adinda, tolonglah aku ? bantu aku untuk berdiri
disini dan kembalilah bersamaku. Tiga bulan berlalu pun sungguh dirasakan tetap
sama. Hambar. Menyedihkan. Gelap.
Keindahan
Hingga
akhirnya hujan pun datang seketika tanpa aba-aba disaat cuaca yang begitu
mendukung untuk pergi keluar. Suara air gemericik yang mulai jatuh ke bumi
membuyarkan lamunanku dalam kamar sempit ini. Burung-burungpun pergi
meninggalkan kotoran di jendela dengan penuh kegelisahan menuju rumahnya.
Seketika itu aku mulai sadar waktu sudah berlalu begitu lama dan aku harus
mengubahnya dengan pikiran=pikiran positifku untuk merasakan kedamaian dan
keindahan hati seperti hujan yang tiba-tiba membasahi bumi dan awan yang
tadinya cerah dan kering itu. Airmata satu-satu jalan untuk menumpahkan
segalanya dipagi hari ini.
-)
Kerinduan,
penyesalan, pesakitan, sakit jiwa, dan keindahan. Semua itu sudah menjelaskan
segalanya bahwa hari ini, pagi ini, detik ini ku harus memulai percakapan yang
mengawali senyuman dari sebuah telepon genggamku yang sedari tadi di meja.
“Hay...Adinda,
apa kabarmu kamu ?”
12 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar