Awal
Perkenalan
Malam
ini hujan pun kembali turun. Dibawah rintik-rintik indah kenangan delapan tahun
silam. Dikota ini. Kota dimana aku dan dia merangkai bunga-bunga kertas menjadi
harapan masa depan yang suci. Sebuah janji untuk selalu bersama. Duka, cita,
dan asa kami akan lewati. Shit !!! itu
sebuah ucapan-ucapan yang datang ketika aku merasa bahagia bersamannya. Tapi
seperti yang selalu aku tahu tentang hati. Perasaan memang takkan pernah sama
dan konsisten setiap waktunya. Aku sekarang bisa mengucap janji akan selalu
bersama dan cinta walau ratusan bahkan ribuan rintangan tapi entah nanti dua
menit kemudian, empat puluh hari kemudian, bahkan sepuluh tahun kemudian.
Apakah akan sama ?
Kakiku
perlahan bergerak mendekat ke tepi sungai didepanku. Dingin menyergap ujung kaki
hingga kakiku terlalu kaku dan berat untuk berjalan, mengalir ketelapak tangan
kanan yang menggenggam erat payung kecil berwarna merah muda bergambarkan anak
panda, menerobos siku, bahu, kemudian tiba dihatiku.
Membekukan seluruh
perasaan.
Mengalirkan perlahan
potongan-potongan penyesalan.
Mengkristalkan semua
harapan.
Sekarang juga, semua
harus terlupakan.
***
Jalanan
banjir kanal barat sepanjang pinggir kali hingga jembatan sepi oleh lalu-lalang
kendaraan. Mungkin karena hujan atau juga karena malam ini adalah malam takbiran
menjelang hari raya qurban. Semua orang sibuk dengan keluarga masing-masing.
Menata rumah. Menyiapkan hewan-hewan qurban untuk disembelih, memastikan
kondisi keadaan hewan baik-baik saja dan siap untuk dieksekusi massal dalam
satu hari sakral. Sedangkan aku disini berdiri sendiri bersama daun-daun yang
diterpa angin dan hujan yang sedikit membasahi kakiku hingga lutut. Terlihat
kerlap-kerlip cahaya lampu yang mengelilingi jembatan dikedua sisi dengan
bentuk ular melilit mangsanya. Ada lampu putih bundar memancarkan cahaya yang
paling terang menghiasi sekeliling jalan sepanjang banjir kanal setiap 10
meter. Begitu indah dipandang dari kejauhan: dibawah rintikan hujan samping
jembatan. Indahnya memancarkan suatu cahaya ketenangan hati dalam suara lirih
hujan yang membasahi semua area Banjir kanal. Menata rapi semua kenangan dan
ceritaku yang sudah terjadi. Mengembalikan semua ingatan perlahan-lahan. Perlahan-lahan
aku ingat dengan jelas, sebuah tragedi di Bulan Mei itu. Bulan yang penuh
dengan kenyamanan, keharuan, keindahan, dan kesedihan pernah dirasa di bulan
Mei waktu itu.
Ketika
mengingat semua yang sudah sangat lama terjadi, tiba-tiba terdengar suara yang
membuyarkan lamunaku secara tiba-tiba.
“Mba.. mba.. mba Riris, darimana saja kamu
mba? semua mencari mba kemana-mana. Ayo mba kita pulang?.” Dengan nada
terengah-engah Ida memangil dari kejauhan mendekat ke Riris.
“Apa dia sudah menungguku daritadi? Apa
dia sudah benar-benar siap?.”
“Ia mba, dia dan semuanya sudah siap.
Tinggal menunggu mba.”
“Tunggu sebentar. Aku masih ingin
menikmati udara disini.”
“Maksud, mba?”
“Ia sebentar lagi, aku masih ingin disini
dulu, kalau kamu ingin pulang, pulanglah dahulu.”
“Tapi mba...”
“Sudahlah jangan ganggu aku dulu, aku
sedang ingin menikmati hujan dan angin disini.”
Tanpa berkata-kata lagi Ida meninggalkan
Riris, kembali untuk pulang.
***
Suara
takbir menggema disetiap masjid-masijd dan musala. Kembang api yang selalu
bunyi disetiap waktu dimalam ini. Anak-anak berlarian bersama dengan
kegembiraan diluar sana. Semua orang hari ini merayakan dan menantikan hari
kemenangan. Angin udara malam ini sangat dingin, tetapi hatiku merasa nyaman
dan terasa hangat. Karena sekarang aku bisa merasakan berkumpul bersama
keluargaku tercinta. Ayah, Ibu, Kaka’, Adik, Ponakan, Suami Kaka’ dan Simbah.
Sambil memegang gadgetku dan
mendengarkan musik. Musik faforitku, lagu-lagu melodic dan alunan akustik yang
sangat membawa hati ke dalam kedamaian dan kenyamanan. Lagu ini. Lagu dari
seorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang sangat aku cintai
setelah keluargaku tercinta. Orang yang sangat khusus untuk hidupku. Tapi
sekarang dia juga sedang bersama keluarganya sendiri. Berbeda kota. Berdekatan
tapi kita tak mungkin bisa bertemu di malam ini. Karena pasti semua sibuk
dengan keluarga kita masing-masing menunggu hari kemenangan. Sempat aku
menghubunginya sore tadi menjelang berbuka untuk terakhir kalinya di bulan
Ramadan. Tapi itu hanya sebentar karena sinyal disini sangat sulit dan susah
juga untuk berkomunikasi lewat handphone.
Suara yang putus-putus dan mengirim pesan selalu gagal. Memang kalau aku sudah
berada di rumah alat komunikasi sangatlah sulit digunakan. Kadang membuatku
jengkel sendiri.
Malam
sudah menunjukan pukul 22.00. Suara anak-anak di luar sana pun sudah
menghilang. Suara takbir kini tinggal terdengar suara orang-orangtua. Suara
kembang api pun sudah terdengar jarang. Tapi malam ini tetap sangat dingin.
Angin yang masih kencang ku rasakan di luar sana setelah sore tadi turun hujan.
Kaca-kaca dikamarku masih mengembun basah. Suara jangkrik mulai terdengar
berisik ditelingaku. Tapi hatiku tetap membuat semuanya merasa hangat.
Kenyamanan hidup. Hidup yang sangat terasa bahagia. Mungkin aku adalah orang
yang paling bahagia malam ini. Entah apa penyebab utamanya. Yang jelas hidupku
terasa beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku dengan penuh
kehangatan.
“Riris, tidurlah nak, nanti kesiangan
berangkat ke masjidnya. Sudah malam ini. Matikan musikmu itu, nanti bapakmu
marah lho...”
“Nggih bu, niki sampun mapan..”
“jangan lupa tutup pintu belakang ya, tadi
belum ibu kunci.”
Sambil
berjalan menuju ke belakang rumah untuk menutup pintu. Aku melihat sebuah
kertas sobekan dilantai dekat kamar mandi. Tulisannya sudah tidak jelas terbaca
karena basah. Mungkin ini sudah daritadi. Dasar Putra adik paling ceroboh.
Membawa kertas ke kamar mandi. Tidak membuangnya dengan bersih. Setelah menutup
pintu dan sambil membuang kertas itu ke tong sampah. Suara handphone ku berbunyi berkali-kali dari kamar. Mungkin itu pesan
yang baru pada masuk daritadi. Pasti Khusnan daritadi sms berkali-kali mencari
kabar dariku. Sambil tersenyum-senyum sendiri dan berlari ke kamar.
“Riris... cepat tidur, jangan main handphone terus.” Suara ibu dari kamar terbangun
karena bunyi handphone ku.
“Nggih nggih bu niki mboten dolanan hp,
tapi sms nembe pada mlebet.”
Aku
membuka pesan di hp ku. 12 pesan diterima. Delapan dari Khusnan. Empat dari
berbeda orang. Entah siapa saja aku tak hiraukan. Ku buka pesan dari Khusnan
semuanya. Hampir semua isi sama. Mungkin karena dia jengkel mengirim pesan tak
pernah terkirim. Jadi mengulang pesanya berkali-kali. Tapi yang membuat aku
sangat senang pesan terakhir yang isinya. “Selamat
malam adinda,,, moga mimpi indah ya sayang. Minal aidzin wal faizin. Mhn maaf
lahir batin. Semoga harimu esok menyenangkan. Luv u cinta.”
Ku
buka satu-persatu pesan darinya dan dari yang lain. Tiba-tiba aku terkejut
melihat pesan paling bawah dan paling awal masuk. Tara. Lama tak terdengar
kabar darinya dan lama tak berhubungan. Ia mengirim pesan apa ya.
“Malam ade, gimana kabarmu? Mmaz minta maaf
ya kalo punya slh pdmu, minal aidzin wal faizin. Mmaz rindu bgt sama ade,
masihkan ada rindu ad utk mz? Hhe.”
Entah
perasaan apa yang kurasakan secara pikir panjang aku langsung membalas pesan
Tara terlebih dahulu.
“Malam juga mz, kbr ad baik-baik saja,gimana
kbrmu mz? Sehat kan? Hhe minal aidzin wal faizin juga mz.”
“Baik de,, de mmaz rindu sma ad,km rindu
g?hhe bisa ketemuan besok de?mmaz pgn gmg sama ad.”
“ia mz ad jg rindu, lma bgt g ketemu
ya,,,hehe mf mz kyne g bsa bsk q psti sibuk dirumah.”
“Oh ia udah de,,q tunggu kedatanganmu
de bsk2 klo sdh kosong.”
“Ia mz, insyaallah. Gimana mz sudah
punya pcr lagi kah? Hehe.”
“Belum de.. aku msh setia menunggu ad
kok kmbli,,hehe q msh sngt mencintaimu de,, q g bsa melupakanmu...,”
“Kenapa emange mz? Mf mz q sudah ada
yg punya,,baiknya mz cpt cari penggantinya jg.”
“Sudah ku coba berkali-kali de tp q g
bsa,, q msh sngt cnta sma km,,stiap saat q slalu memikirkanmu... mmaz akan
slalu menantimu de,,”
Entah
kenapa tiba-tiba sejenak ku terdiam dan melamun. Dan berhenti untuk
membalasnya. Aku pun akhirnya membalas pesan Khusnan.
“Met mlm jg sayang,,, smsnya baru pd msuk
smua mz, jd baru bls.. mf ya.. luv u to cinta... muach :* :*.”
15
menit berlalu tak ada pesan lagi yang masuk. Aku menaruh hpku di meja dan
segera bergegas memejamkan mata. Tapi masih saja mata ini belum bisa cepat
terpejam, sesaat ku memikirkan pesan tadi. Tara. Ahh lupakan, kenapa aku
tiba-tiba seperti ini lagi. Kembali memikirkan. Lupakan.
***
“Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu
akbar walillah ilham.”
“Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu
akbar walillah ilham.”
“Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu
akbar walillah ilham.”
Suara
takbir menggema dimana-mana. Orang-orang sudah mulai berbondong menuju ke
masjid. Waktu menunjukan pukul 05.00. Semua orang di rumah pada sibuk
mempersiapkan diri untuk berangkat. Aku yang baru saja terbangun, Putra yang
masih berselimutkan sarung ditempat tidur, ibu yang sudah sibuk di dapur dari
pagi sebelum shubuh bersama kaka’, suami kaka’ yang sedang memandikan
keponakanku, ayah yang baru saja pulang dari masjid.
“Riris.... tolong bantu ibu nak, bangunin
adikmu itu yang masih dikamar. Putra belum salat Shubuh.” Suara ibu keras dari
dapur membangunkan aku dari tempat tidur.
“Nggih bu.”
Aku
memang sedang tidak salat, dan mungkin tidak akan ikut ke masjid karena akan
menjaga rumah dan mempersiapkan semuanya. Setelah aku membangunkan Putra, aku
langsung bergegas ke dapur dan membantu ibu memasak. Air liur yang sudah kering
masih membekas dipipiku, pertanda semalam tidurku sangat pulas sekali, tak
biasanya juga aku ngiler. Mata yang masih ada cilohnya. Rambut yang masih
acak-acakan. Langsung segera masuk kamarmandi dan membangunkan adikku dikamar.
“Hehhhhh,, putra...... bangun bangun....
salat shubuh, udah jam berapa ini? Mau ikut salat id ga sih”
“Ah ia mba aku lupa belum salat, kenapa ga
bangunin aku daritadi sih?”
“Hellah kamu itu udah gede masa tidur
mesti dibangunin, kamu itu calon kepala keluarga harus bisa bangun duluan dong
buat salat shubuh. Salat kok ditunda-tunda.”
“Iaiaia kakaku yang cantik tapi bau,
brisik aja sana mandi kak, bau tau..”
***
Jalanan
sudah mulai sepi, warga sudah menuju ke masjid semua yang jaraknya satu
kilometer dari rumahku. Tinggal kesunyian angin yang berhembus dengan pelan
menerbangkan daun-daun yang sudah mulai tua menuju ketempat yang tak tau
arahnya. Aku pun sekarang tinggal sendiri di dalam rumah yang sederhana, dengan
suara jendela kayu berdecit ketika angin lewat, atap-atap yang gaduh ketika
tikus berlarian. Hp ku sekarang juga sepi, aku memutarkan sebuah lagu yang ada
di dalam hpku. Ku buka satu persatu playlist
runtutan lagu. Lagu-lagu populer, lagu sendu, lagu islami, lagu melodic,
lagu luar, avril?.
Seketika
aku teringat sebuah ingatan yang dahulu pernah menjadi kenangan terindah dan
begitupun kenangan yang belum terlupakan sepenuhnya. Lagu ini mengantarkanku
pada pesan semalam. Tara. Tara. Tara. Apa benar ya dia masih mencintaiku, apa
dia masih menungguku, padahal kita kan sudah lama sekali berpisah dan lama juga
tak terdengar kabar. “Ahh kenapa kau ini Riris.. kamu kan sudah melupakanya.
Inget kamu masih punya Khusnan yang begitu sayangnya dan perhatian padamu.”
Bayangan kaca seolah mengatakan apa yang ada di dalam hati dan melawan ingatan
itu. tapi apa benar ya, kenapa aku masih penasaran dengan dia, apa kabar dia?
Ingin sesekali aku berjumpa dengannya.
Lemari
itu sudah lama sekali tidak aku buka. Semua berisi kenangan-kenanganku bersama
Khusnan, hadiah-hadiah, kejutan-kejutan yang pernah dia kasihkan aku simpan
dengan rapi dan jarang untuk melihat dan membukanya, bukan karena aku tidak
tertarik dengan pemberiannya atau malas untuk melihatnya, tapi aku terlalu
takut merusaknya atau jika ku gunakan terus menerus pasti jadi jelek. Jadi ku
simpan rapi dan selalu merawatnya. Tapi aku ingat ada dua kado yang dulu pernah
diberikan oleh Tara. Kotak Musik dan jam tangan abu-abu. Kotak musik ini sudah
sangat usang. Sudah lama sekali dan dahulu aku sering memainkannya
berulangkali. Indah dan sangat romantis jika ku teringat masalalu itu.
Bunyi
kotak musik yang mengalun dengan indah dan damai, ku buka lagi sembari
mengingat masalalu yang penuh dengan kenangan. Tapi kenangan ini bukan
menghantarkan kepada kisahku dengan Tara dahulu, melainkan dengan pacarku yang
sekarang. Khusnan. Awal ku mengenal Khusnan dan duduk di bangku SMA bersamaku.
Sekarang kita sudah hampir setahun menjalani kisah bersama dengan suka dan
cita. Dua tahun kita bersama satu kelas dari kelas sebelas sampai kelas
dubelas. Tapi kisahku berawal pada kelas duabelas. Perkenalan yang tidak
sengaja yang berawal dari ketidaksengajaan. Satu tahun di kelas dua kita tak
saling mengenal bahkan saling tegur menegur sangat jarang. Dia tergolong anak
yang superaktif dan siapa saja didekatinya. Tapi aku adalah orang yang pendiam
dan tidak bergaul dengan semua teman sekelas. Hanya Cuma dengan gerombolanku
saja.
Kelas
dua belas ketika aku melihat Khusnan, anak yang paling periang, hyperaktif,
suka bercanda, dan perusuh di kelas. Selalu menjadi sorotan teman sekelas. Orang
yang penuh dengan tingkahnya yang selalu membuat heboh, menjadi anak laki-laki
yang banyak di sukai oleh kaum hawa tapi juga banyak dimusuhi teman lelakinya. Aku
suka melihat dia selalu perhatian dan mau bertukar cerita dengan siapapun.
Apalagi ketika dia membuat heboh seluruh SMA dengan mengatakan cinta kepada
banyak wanita sekaligus dalam satu hari. Itu sungguh menjadi hari yang sangat
menghebohkan. Aku pun salah satu dari korban dia, dan kebanyakan di antaranya
adalah oarang tidak dia kenal dan tidak pernah dia sukai. Karena itu hanya
untuk bermain-main saja dan untuk bahan taruhan dengan temannya.
Tersontak
aku pun kaget dan terheran-heran. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan cinta
kepadaku, padahal kita hampir tak pernah bicara dan bersama walaupun dua tahun
sudah sekelas. Aku pun menolak cinta dia yang dia lontarkan melalui pesan
singkat itu. Aku menolaknya karena aku tidak suka padanya dan kurang mengenal
baik dia. Dan akupun juga masih punya kekasih. Setelah aku menolaknya tiba-tiba
dia malah tertawa dan berterimakasih padaku. Aku pun menjadi semakin terheran
dan penasaran dengan satu orang ini. Orang yang begitu aneh.
Selang
seminggu dari tingkahnya yang membuat heboh satu SMA itu, aku pun melihat dia
begitu tidak semangat dan sedih. Hilang semua raut muka kebahagiaan yang dulu
selalu terlihat dan kenakalan-kenalakan yang dia lakukan. Hanya terlihat muka
yang di lipat dan selalu tidur di dalam kelas. Awal aku mulai heran dan
bertanya-tanya kepada teman, kenapa dengan dia, apa dia sudah kapok dengan
tingkahnya minggu kemarin. Ahh entahlah kenapa pikiranku menjadi terpusat
padanya. Siapa dia, apa gunanya mikirin dia, apa spesialnya dia.
***
Jam menunjukan pukul 13.30 bel
sekolah berbunyi. Suara gaduh pun sudah mulai datang dimana-mana. Enam jam
sudah pikiran terkuras dan semua badan menegan karena pelajaran yang luar biasa
di hari ini. Hari ini aku piket. Jadi aku masih berada di dalam kelas dan masih
duduk sambil bermain hp yang sedang aku pegang. Aku pun teringat. Sekarang itu
adalah hari ultahku, pasti teman-teman sudah mempersiapkan untuk iseng denganku
di depan sana. Aku sudah mulai waspada dan khawatir. Tapi aku melihat Khusnan
yang masih tidur dan baru tersadar ketika bangkunya ku sapu.
“Hey
minggir, mau aku sapu?”
“Ehmmmmm...huaa...”
“Eeee
bau tau sembarangan, itu ilermu netes.” Sambil tersenyum dan menggeser tubuhnya
untuk menyingkirkannya
“ayo
awas, mau tak sapu ini, kamu ga pulang? Udah pada pulang semua tuh?”
“masih
malas, masih ingin tidur ahh, kamu lewati aja, nanti aku sapu sendiri bangkuku.”
“beneran
lo ya, awas lo kalo egak.. aku jitak kepalamu” Dengan nada yang mulai malas
dengan dia.
Aku rasa dia tidak tahu kalau
sekarang aku ulangtahun. ah kalau tahu pasti aku juga kena disembur airliurnya
tadi. Tapi sekarang di kelas hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah mulai
kosong. Aku mulai panik kalau terjadi gosip yang tidak-tidak nantinya. Aku pun
bersegera menyelesaikan piketku sendirian. Langsung keluar meninggalkan Khusnan
begitu saja. Dan firasatku benar. Ternyata teman-temanku sudah siap diluar sana
dengan ember dan gayung yang berisikan air kotor. Aku lupa tidak membawa ganti
pula. Semua teman-teman langsung menghampiriku dan memegangi tanganku dan
menyerangku dengan semua air kotor itu di depan kelas yang dekat dengan WC
siswa juga. Aku pun berlari-lari mengejar mereka untuk membalas dendam. Aku
masuk kekamar mandi dengan gayung yang sudah ku isi air. Ku lemparkan saja ke
depan. Ternyata disaat bersamaan Khusnan lewat dan terkena air yang ku
lemparkan tadi. Tanpa disengaja dan tanpa pikir panjang pun aku justru tidak
meminta maaf karena dia tidak tahu apa-apa aku guyur dengan air, ku tambahi
saja untuk melampiaskan dendam dengan teman-temanku. Dan dia terheran-heran dan
bingung.
“Hey,
kenapa aku disiram tiba-tiba. Aku kan melakuka apa-apa?”
“Hahaha
makanya salah sendiri lewat disitu, daritadi aku suruh pulang gak mau.”
“Ia
tapi aku kan tidak ikut ngerjain kamu, aku ga salah apa-apa tiba-tiba aku yang
kena.”
Tiba-tiba teman sekelas pun
menertawakan aku dan Khusnan yang justru adu mulut ditengah keasyikan
basah-basahan.
“ya
maaf,, sekarang kan tanggung ini aku tambahin lagi ya biar seru...” sambil
tertawa dan melemparkan air lagi ke tubuh Khusnan yang sudah basah kuyup itu.
“Ya
sudahlah aku ikhlas kok, sini lagi kalau mau biar kamu puas itung-itung ikut
merayakan kebahagiaan teman yang sedang ulangtahun.” Sambil tersenyum dan
bernada pasrah
“Hahahaha..
terimakasih Khusnan maaf.”
“Ia
tapi habis ini aku balas dendam ya, kamu aku cegurin ke dalam sumur depan
sekolah, habis itu kita makan-makan.” Sambil berlari mengejarku dan ekspresi
yang berubah seperti pemangsa.
Aku pun berlari sambil
tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresinya yang tidak tahu apa-apa tapi
diguyur. Akhirnya kita kejar-kejaran di sekolah sampai pukul 15.00.
***
Pintu
depan rumah berbunyi secara tiba-tiba. Assalamualaikum. Aku sontak kaget karena
sedang melamun tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang membuat jantung sontak
berdetak kencang dan menutup kotak musik dengan terburu-buru memasukan ke dalam
lemari lagi. Semua orang sudah pulang dari masjid, berarti pertanda salat id
sudah selesai. Adikku yang pertama kali masuk rumah dan langsung bergegas
mencari makanan yang ada ditoples. Dalam hati ku dasar manusia penuh nafsu,
nafsu makanan. Liat makanan sedikit saja sudah dimakan saja. Seperti layaknya
manusia lainya. Manusia punya insting untuk makan, nafsu seks, nafsu cinta, dan
nafsu untuk tidur. Semua itu lumrah terjadi pada manusia. Soal makan aku tidak
begitu nafsu, tidurpun aku tidak begitu berlebihan, seks entahlah aku belum
begitu mengenalnya, tapi soal cinta, aku akui aku sangat haus akan cinta dan
kasih sayang dari seseorang. Ingatan yang tiba-tiba datang dari semalam dan
tadi pagi pun aku tidak bisa menghindarinya. Semuanya masih jelas tergambar
dalam ingatanku, karena kebutuhan cinta dan kasih sayang. Aku sekarang nyaman
dengan hubunganku dengan Khusnan. Orang yang paling membuatku bahagia dan
beruntung karena perhatian dan kasih sayang dia yang luar biasa kepadaku. Aku
sangat menyintai dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar