Senin, 29 Juni 2015

Hujan dan Awan Saling Melupakan (Novel BAB 1)

Awal Perkenalan
Malam ini hujan pun kembali turun. Dibawah rintik-rintik indah kenangan delapan tahun silam. Dikota ini. Kota dimana aku dan dia merangkai bunga-bunga kertas menjadi harapan masa depan yang suci. Sebuah janji untuk selalu bersama. Duka, cita, dan asa kami akan lewati. Shit !!! itu sebuah ucapan-ucapan yang datang ketika aku merasa bahagia bersamannya. Tapi seperti yang selalu aku tahu tentang hati. Perasaan memang takkan pernah sama dan konsisten setiap waktunya. Aku sekarang bisa mengucap janji akan selalu bersama dan cinta walau ratusan bahkan ribuan rintangan tapi entah nanti dua menit kemudian, empat puluh hari kemudian, bahkan sepuluh tahun kemudian. Apakah akan sama ?
Kakiku perlahan bergerak mendekat ke tepi sungai didepanku. Dingin menyergap ujung kaki hingga kakiku terlalu kaku dan berat untuk berjalan, mengalir ketelapak tangan kanan yang menggenggam erat payung kecil berwarna merah muda bergambarkan anak panda, menerobos siku, bahu, kemudian tiba dihatiku.
Membekukan seluruh perasaan.
Mengalirkan perlahan potongan-potongan penyesalan.
Mengkristalkan semua harapan.
Sekarang juga, semua harus terlupakan.
***
Jalanan banjir kanal barat sepanjang pinggir kali hingga jembatan sepi oleh lalu-lalang kendaraan. Mungkin karena hujan atau juga karena malam ini adalah malam takbiran menjelang hari raya qurban. Semua orang sibuk dengan keluarga masing-masing. Menata rumah. Menyiapkan hewan-hewan qurban untuk disembelih, memastikan kondisi keadaan hewan baik-baik saja dan siap untuk dieksekusi massal dalam satu hari sakral. Sedangkan aku disini berdiri sendiri bersama daun-daun yang diterpa angin dan hujan yang sedikit membasahi kakiku hingga lutut. Terlihat kerlap-kerlip cahaya lampu yang mengelilingi jembatan dikedua sisi dengan bentuk ular melilit mangsanya. Ada lampu putih bundar memancarkan cahaya yang paling terang menghiasi sekeliling jalan sepanjang banjir kanal setiap 10 meter. Begitu indah dipandang dari kejauhan: dibawah rintikan hujan samping jembatan. Indahnya memancarkan suatu cahaya ketenangan hati dalam suara lirih hujan yang membasahi semua area Banjir kanal. Menata rapi semua kenangan dan ceritaku yang sudah terjadi. Mengembalikan semua ingatan perlahan-lahan. Perlahan-lahan aku ingat dengan jelas, sebuah tragedi di Bulan Mei itu. Bulan yang penuh dengan kenyamanan, keharuan, keindahan, dan kesedihan pernah dirasa di bulan Mei waktu itu.
Ketika mengingat semua yang sudah sangat lama terjadi, tiba-tiba terdengar suara yang membuyarkan lamunaku secara tiba-tiba.
“Mba.. mba.. mba Riris, darimana saja kamu mba? semua mencari mba kemana-mana. Ayo mba kita pulang?.” Dengan nada terengah-engah Ida memangil dari kejauhan mendekat ke Riris.
“Apa dia sudah menungguku daritadi? Apa dia sudah benar-benar siap?.”
“Ia mba, dia dan semuanya sudah siap. Tinggal menunggu mba.”
“Tunggu sebentar. Aku masih ingin menikmati udara disini.”
“Maksud, mba?”
“Ia sebentar lagi, aku masih ingin disini dulu, kalau kamu ingin pulang, pulanglah dahulu.”
“Tapi mba...”
“Sudahlah jangan ganggu aku dulu, aku sedang ingin menikmati hujan dan angin disini.”
Tanpa berkata-kata lagi Ida meninggalkan Riris, kembali untuk pulang.
***
Suara takbir menggema disetiap masjid-masijd dan musala. Kembang api yang selalu bunyi disetiap waktu dimalam ini. Anak-anak berlarian bersama dengan kegembiraan diluar sana. Semua orang hari ini merayakan dan menantikan hari kemenangan. Angin udara malam ini sangat dingin, tetapi hatiku merasa nyaman dan terasa hangat. Karena sekarang aku bisa merasakan berkumpul bersama keluargaku tercinta. Ayah, Ibu, Kaka’, Adik, Ponakan, Suami Kaka’ dan Simbah. Sambil memegang gadgetku dan mendengarkan musik. Musik faforitku, lagu-lagu melodic dan alunan akustik yang sangat membawa hati ke dalam kedamaian dan kenyamanan. Lagu ini. Lagu dari seorang yang sangat berarti dalam hidupku. Seseorang yang sangat aku cintai setelah keluargaku tercinta. Orang yang sangat khusus untuk hidupku. Tapi sekarang dia juga sedang bersama keluarganya sendiri. Berbeda kota. Berdekatan tapi kita tak mungkin bisa bertemu di malam ini. Karena pasti semua sibuk dengan keluarga kita masing-masing menunggu hari kemenangan. Sempat aku menghubunginya sore tadi menjelang berbuka untuk terakhir kalinya di bulan Ramadan. Tapi itu hanya sebentar karena sinyal disini sangat sulit dan susah juga untuk berkomunikasi lewat handphone. Suara yang putus-putus dan mengirim pesan selalu gagal. Memang kalau aku sudah berada di rumah alat komunikasi sangatlah sulit digunakan. Kadang membuatku jengkel sendiri.
Malam sudah menunjukan pukul 22.00. Suara anak-anak di luar sana pun sudah menghilang. Suara takbir kini tinggal terdengar suara orang-orangtua. Suara kembang api pun sudah terdengar jarang. Tapi malam ini tetap sangat dingin. Angin yang masih kencang ku rasakan di luar sana setelah sore tadi turun hujan. Kaca-kaca dikamarku masih mengembun basah. Suara jangkrik mulai terdengar berisik ditelingaku. Tapi hatiku tetap membuat semuanya merasa hangat. Kenyamanan hidup. Hidup yang sangat terasa bahagia. Mungkin aku adalah orang yang paling bahagia malam ini. Entah apa penyebab utamanya. Yang jelas hidupku terasa beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku dengan penuh kehangatan.
“Riris, tidurlah nak, nanti kesiangan berangkat ke masjidnya. Sudah malam ini. Matikan musikmu itu, nanti bapakmu marah lho...”
“Nggih bu, niki sampun mapan..”
“jangan lupa tutup pintu belakang ya, tadi belum ibu kunci.”
Sambil berjalan menuju ke belakang rumah untuk menutup pintu. Aku melihat sebuah kertas sobekan dilantai dekat kamar mandi. Tulisannya sudah tidak jelas terbaca karena basah. Mungkin ini sudah daritadi. Dasar Putra adik paling ceroboh. Membawa kertas ke kamar mandi. Tidak membuangnya dengan bersih. Setelah menutup pintu dan sambil membuang kertas itu ke tong sampah. Suara handphone ku berbunyi berkali-kali dari kamar. Mungkin itu pesan yang baru pada masuk daritadi. Pasti Khusnan daritadi sms berkali-kali mencari kabar dariku. Sambil tersenyum-senyum sendiri dan berlari ke kamar.
“Riris... cepat tidur, jangan main handphone terus.” Suara ibu dari kamar terbangun karena bunyi handphone ku.
“Nggih nggih bu niki mboten dolanan hp, tapi sms nembe pada mlebet.”
Aku membuka pesan di hp ku. 12 pesan diterima. Delapan dari Khusnan. Empat dari berbeda orang. Entah siapa saja aku tak hiraukan. Ku buka pesan dari Khusnan semuanya. Hampir semua isi sama. Mungkin karena dia jengkel mengirim pesan tak pernah terkirim. Jadi mengulang pesanya berkali-kali. Tapi yang membuat aku sangat senang pesan terakhir yang isinya. “Selamat malam adinda,,, moga mimpi indah ya sayang. Minal aidzin wal faizin. Mhn maaf lahir batin. Semoga harimu esok menyenangkan. Luv u cinta.”
Ku buka satu-persatu pesan darinya dan dari yang lain. Tiba-tiba aku terkejut melihat pesan paling bawah dan paling awal masuk. Tara. Lama tak terdengar kabar darinya dan lama tak berhubungan. Ia mengirim pesan apa ya.
Malam ade, gimana kabarmu? Mmaz minta maaf ya kalo punya slh pdmu, minal aidzin wal faizin. Mmaz rindu bgt sama ade, masihkan ada rindu ad utk mz? Hhe.”
Entah perasaan apa yang kurasakan secara pikir panjang aku langsung membalas pesan Tara terlebih dahulu.
Malam juga mz, kbr ad baik-baik saja,gimana kbrmu mz? Sehat kan? Hhe minal aidzin wal faizin juga mz.”
Baik de,, de mmaz rindu sma ad,km rindu g?hhe bisa ketemuan besok de?mmaz pgn gmg sama ad.”
“ia mz ad jg rindu, lma bgt g ketemu ya,,,hehe mf mz kyne g bsa bsk q psti sibuk dirumah.”
“Oh ia udah de,,q tunggu kedatanganmu de bsk2 klo sdh kosong.”
“Ia mz, insyaallah. Gimana mz sudah punya pcr lagi kah? Hehe.”
“Belum de.. aku msh setia menunggu ad kok kmbli,,hehe q msh sngt mencintaimu de,, q g bsa melupakanmu...,”
“Kenapa emange mz? Mf mz q sudah ada yg punya,,baiknya mz cpt cari penggantinya jg.”
“Sudah ku coba berkali-kali de tp q g bsa,, q msh sngt cnta sma km,,stiap saat q slalu memikirkanmu... mmaz akan slalu menantimu de,,”
Entah kenapa tiba-tiba sejenak ku terdiam dan melamun. Dan berhenti untuk membalasnya. Aku pun akhirnya membalas pesan Khusnan.
Met mlm jg sayang,,, smsnya baru pd msuk smua mz, jd baru bls.. mf ya.. luv u to cinta... muach :* :*.”
15 menit berlalu tak ada pesan lagi yang masuk. Aku menaruh hpku di meja dan segera bergegas memejamkan mata. Tapi masih saja mata ini belum bisa cepat terpejam, sesaat ku memikirkan pesan tadi. Tara. Ahh lupakan, kenapa aku tiba-tiba seperti ini lagi. Kembali memikirkan. Lupakan.
***
Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu akbar walillah ilham.”
Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu akbar walillah ilham.”
Allahu akbar, Allahu akbar. La illa ha ilallah huallah huakbar, Allahu akbar walillah ilham.”
Suara takbir menggema dimana-mana. Orang-orang sudah mulai berbondong menuju ke masjid. Waktu menunjukan pukul 05.00. Semua orang di rumah pada sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat. Aku yang baru saja terbangun, Putra yang masih berselimutkan sarung ditempat tidur, ibu yang sudah sibuk di dapur dari pagi sebelum shubuh bersama kaka’, suami kaka’ yang sedang memandikan keponakanku, ayah yang baru saja pulang dari masjid.
“Riris.... tolong bantu ibu nak, bangunin adikmu itu yang masih dikamar. Putra belum salat Shubuh.” Suara ibu keras dari dapur membangunkan aku dari tempat tidur.
“Nggih bu.”
Aku memang sedang tidak salat, dan mungkin tidak akan ikut ke masjid karena akan menjaga rumah dan mempersiapkan semuanya. Setelah aku membangunkan Putra, aku langsung bergegas ke dapur dan membantu ibu memasak. Air liur yang sudah kering masih membekas dipipiku, pertanda semalam tidurku sangat pulas sekali, tak biasanya juga aku ngiler. Mata yang masih ada cilohnya. Rambut yang masih acak-acakan. Langsung segera masuk kamarmandi dan membangunkan adikku dikamar.
“Hehhhhh,, putra...... bangun bangun.... salat shubuh, udah jam berapa ini? Mau ikut salat id ga sih”
“Ah ia mba aku lupa belum salat, kenapa ga bangunin aku daritadi sih?”
“Hellah kamu itu udah gede masa tidur mesti dibangunin, kamu itu calon kepala keluarga harus bisa bangun duluan dong buat salat shubuh. Salat kok ditunda-tunda.”
“Iaiaia kakaku yang cantik tapi bau, brisik aja sana mandi kak, bau tau..”
***
Jalanan sudah mulai sepi, warga sudah menuju ke masjid semua yang jaraknya satu kilometer dari rumahku. Tinggal kesunyian angin yang berhembus dengan pelan menerbangkan daun-daun yang sudah mulai tua menuju ketempat yang tak tau arahnya. Aku pun sekarang tinggal sendiri di dalam rumah yang sederhana, dengan suara jendela kayu berdecit ketika angin lewat, atap-atap yang gaduh ketika tikus berlarian. Hp ku sekarang juga sepi, aku memutarkan sebuah lagu yang ada di dalam hpku. Ku buka satu persatu playlist runtutan lagu. Lagu-lagu populer, lagu sendu, lagu islami, lagu melodic, lagu luar, avril?.
Seketika aku teringat sebuah ingatan yang dahulu pernah menjadi kenangan terindah dan begitupun kenangan yang belum terlupakan sepenuhnya. Lagu ini mengantarkanku pada pesan semalam. Tara. Tara. Tara. Apa benar ya dia masih mencintaiku, apa dia masih menungguku, padahal kita kan sudah lama sekali berpisah dan lama juga tak terdengar kabar. “Ahh kenapa kau ini Riris.. kamu kan sudah melupakanya. Inget kamu masih punya Khusnan yang begitu sayangnya dan perhatian padamu.” Bayangan kaca seolah mengatakan apa yang ada di dalam hati dan melawan ingatan itu. tapi apa benar ya, kenapa aku masih penasaran dengan dia, apa kabar dia? Ingin sesekali aku berjumpa dengannya.
Lemari itu sudah lama sekali tidak aku buka. Semua berisi kenangan-kenanganku bersama Khusnan, hadiah-hadiah, kejutan-kejutan yang pernah dia kasihkan aku simpan dengan rapi dan jarang untuk melihat dan membukanya, bukan karena aku tidak tertarik dengan pemberiannya atau malas untuk melihatnya, tapi aku terlalu takut merusaknya atau jika ku gunakan terus menerus pasti jadi jelek. Jadi ku simpan rapi dan selalu merawatnya. Tapi aku ingat ada dua kado yang dulu pernah diberikan oleh Tara. Kotak Musik dan jam tangan abu-abu. Kotak musik ini sudah sangat usang. Sudah lama sekali dan dahulu aku sering memainkannya berulangkali. Indah dan sangat romantis jika ku teringat masalalu itu.
Bunyi kotak musik yang mengalun dengan indah dan damai, ku buka lagi sembari mengingat masalalu yang penuh dengan kenangan. Tapi kenangan ini bukan menghantarkan kepada kisahku dengan Tara dahulu, melainkan dengan pacarku yang sekarang. Khusnan. Awal ku mengenal Khusnan dan duduk di bangku SMA bersamaku. Sekarang kita sudah hampir setahun menjalani kisah bersama dengan suka dan cita. Dua tahun kita bersama satu kelas dari kelas sebelas sampai kelas dubelas. Tapi kisahku berawal pada kelas duabelas. Perkenalan yang tidak sengaja yang berawal dari ketidaksengajaan. Satu tahun di kelas dua kita tak saling mengenal bahkan saling tegur menegur sangat jarang. Dia tergolong anak yang superaktif dan siapa saja didekatinya. Tapi aku adalah orang yang pendiam dan tidak bergaul dengan semua teman sekelas. Hanya Cuma dengan gerombolanku saja.
Kelas dua belas ketika aku melihat Khusnan, anak yang paling periang, hyperaktif, suka bercanda, dan perusuh di kelas. Selalu menjadi sorotan teman sekelas. Orang yang penuh dengan tingkahnya yang selalu membuat heboh, menjadi anak laki-laki yang banyak di sukai oleh kaum hawa tapi juga banyak dimusuhi teman lelakinya. Aku suka melihat dia selalu perhatian dan mau bertukar cerita dengan siapapun. Apalagi ketika dia membuat heboh seluruh SMA dengan mengatakan cinta kepada banyak wanita sekaligus dalam satu hari. Itu sungguh menjadi hari yang sangat menghebohkan. Aku pun salah satu dari korban dia, dan kebanyakan di antaranya adalah oarang tidak dia kenal dan tidak pernah dia sukai. Karena itu hanya untuk bermain-main saja dan untuk bahan taruhan dengan temannya.
Tersontak aku pun kaget dan terheran-heran. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan cinta kepadaku, padahal kita hampir tak pernah bicara dan bersama walaupun dua tahun sudah sekelas. Aku pun menolak cinta dia yang dia lontarkan melalui pesan singkat itu. Aku menolaknya karena aku tidak suka padanya dan kurang mengenal baik dia. Dan akupun juga masih punya kekasih. Setelah aku menolaknya tiba-tiba dia malah tertawa dan berterimakasih padaku. Aku pun menjadi semakin terheran dan penasaran dengan satu orang ini. Orang yang begitu aneh.
Selang seminggu dari tingkahnya yang membuat heboh satu SMA itu, aku pun melihat dia begitu tidak semangat dan sedih. Hilang semua raut muka kebahagiaan yang dulu selalu terlihat dan kenakalan-kenalakan yang dia lakukan. Hanya terlihat muka yang di lipat dan selalu tidur di dalam kelas. Awal aku mulai heran dan bertanya-tanya kepada teman, kenapa dengan dia, apa dia sudah kapok dengan tingkahnya minggu kemarin. Ahh entahlah kenapa pikiranku menjadi terpusat padanya. Siapa dia, apa gunanya mikirin dia, apa spesialnya dia.
***
Jam menunjukan pukul 13.30 bel sekolah berbunyi. Suara gaduh pun sudah mulai datang dimana-mana. Enam jam sudah pikiran terkuras dan semua badan menegan karena pelajaran yang luar biasa di hari ini. Hari ini aku piket. Jadi aku masih berada di dalam kelas dan masih duduk sambil bermain hp yang sedang aku pegang. Aku pun teringat. Sekarang itu adalah hari ultahku, pasti teman-teman sudah mempersiapkan untuk iseng denganku di depan sana. Aku sudah mulai waspada dan khawatir. Tapi aku melihat Khusnan yang masih tidur dan baru tersadar ketika bangkunya ku sapu.

“Hey minggir, mau aku sapu?”
“Ehmmmmm...huaa...”
“Eeee bau tau sembarangan, itu ilermu netes.” Sambil tersenyum dan menggeser tubuhnya untuk menyingkirkannya
“ayo awas, mau tak sapu ini, kamu ga pulang? Udah pada pulang semua tuh?”
“masih malas, masih ingin tidur ahh, kamu lewati aja, nanti aku sapu sendiri bangkuku.”
“beneran lo ya, awas lo kalo egak.. aku jitak kepalamu” Dengan nada yang mulai malas dengan dia.

Aku rasa dia tidak tahu kalau sekarang aku ulangtahun. ah kalau tahu pasti aku juga kena disembur airliurnya tadi. Tapi sekarang di kelas hanya tinggal kita berdua. Sekolah sudah mulai kosong. Aku mulai panik kalau terjadi gosip yang tidak-tidak nantinya. Aku pun bersegera menyelesaikan piketku sendirian. Langsung keluar meninggalkan Khusnan begitu saja. Dan firasatku benar. Ternyata teman-temanku sudah siap diluar sana dengan ember dan gayung yang berisikan air kotor. Aku lupa tidak membawa ganti pula. Semua teman-teman langsung menghampiriku dan memegangi tanganku dan menyerangku dengan semua air kotor itu di depan kelas yang dekat dengan WC siswa juga. Aku pun berlari-lari mengejar mereka untuk membalas dendam. Aku masuk kekamar mandi dengan gayung yang sudah ku isi air. Ku lemparkan saja ke depan. Ternyata disaat bersamaan Khusnan lewat dan terkena air yang ku lemparkan tadi. Tanpa disengaja dan tanpa pikir panjang pun aku justru tidak meminta maaf karena dia tidak tahu apa-apa aku guyur dengan air, ku tambahi saja untuk melampiaskan dendam dengan teman-temanku. Dan dia terheran-heran dan bingung.
“Hey, kenapa aku disiram tiba-tiba. Aku kan melakuka apa-apa?”
“Hahaha makanya salah sendiri lewat disitu, daritadi aku suruh pulang gak mau.”
“Ia tapi aku kan tidak ikut ngerjain kamu, aku ga salah apa-apa tiba-tiba aku yang kena.”
Tiba-tiba teman sekelas pun menertawakan aku dan Khusnan yang justru adu mulut ditengah keasyikan basah-basahan.
“ya maaf,, sekarang kan tanggung ini aku tambahin lagi ya biar seru...” sambil tertawa dan melemparkan air lagi ke tubuh Khusnan yang sudah basah kuyup itu.
“Ya sudahlah aku ikhlas kok, sini lagi kalau mau biar kamu puas itung-itung ikut merayakan kebahagiaan teman yang sedang ulangtahun.” Sambil tersenyum dan bernada pasrah
“Hahahaha.. terimakasih Khusnan maaf.”
“Ia tapi habis ini aku balas dendam ya, kamu aku cegurin ke dalam sumur depan sekolah, habis itu kita makan-makan.” Sambil berlari mengejarku dan ekspresi yang berubah seperti pemangsa.

Aku pun berlari sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresinya yang tidak tahu apa-apa tapi diguyur. Akhirnya kita kejar-kejaran di sekolah sampai pukul 15.00.

***
Pintu depan rumah berbunyi secara tiba-tiba. Assalamualaikum. Aku sontak kaget karena sedang melamun tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang membuat jantung sontak berdetak kencang dan menutup kotak musik dengan terburu-buru memasukan ke dalam lemari lagi. Semua orang sudah pulang dari masjid, berarti pertanda salat id sudah selesai. Adikku yang pertama kali masuk rumah dan langsung bergegas mencari makanan yang ada ditoples. Dalam hati ku dasar manusia penuh nafsu, nafsu makanan. Liat makanan sedikit saja sudah dimakan saja. Seperti layaknya manusia lainya. Manusia punya insting untuk makan, nafsu seks, nafsu cinta, dan nafsu untuk tidur. Semua itu lumrah terjadi pada manusia. Soal makan aku tidak begitu nafsu, tidurpun aku tidak begitu berlebihan, seks entahlah aku belum begitu mengenalnya, tapi soal cinta, aku akui aku sangat haus akan cinta dan kasih sayang dari seseorang. Ingatan yang tiba-tiba datang dari semalam dan tadi pagi pun aku tidak bisa menghindarinya. Semuanya masih jelas tergambar dalam ingatanku, karena kebutuhan cinta dan kasih sayang. Aku sekarang nyaman dengan hubunganku dengan Khusnan. Orang yang paling membuatku bahagia dan beruntung karena perhatian dan kasih sayang dia yang luar biasa kepadaku. Aku sangat menyintai dia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar