Aku
adalah mahasiswa semester tua.
Bulan
ini aku ulang tahun. Tanggal 21 September tahun ini aku genap berusia 21 tahun.
Membuka mata menatap indahnya pesona pagi yang penuh dengan rahasia-rahasia
kehidupan dan kejutan di hari ini menjelang hilang. Burung-burung diventilasi
jendela berkicau seperti tetangga kos sebelah ketika mas-mas sayur datang
setiap pagi. Jam dinding dikamarku terus berdetak bersamaan dengan detak
jantungku setiap 0,5 persecond.
Memompa semangat untuk menatap keluar jendela. Pertanda aku harus cepat-cepat
pergi dan kabur meninggalkan tempat yang membawaku kealam bawah sadar, selama
tujuh jam yang membuat sedikit air kental amis keluar dari dalam celanaku.
Semalam tidurku nyenyak.
Kampus
adalah tempat pencarian jodohku kelak.
Terbilang
aku yang paling muda dibanding teman satu angkatanku. Ibuku memang
menyekolahkanku terlalu cepat masuk ke SD. Padahal aku tidak bisa membaca dan
menulis huruf dengan baik. b ditulis d. C ditulis G. Yang ku tahu hanyalah
permen yang berhadiah stiker berhurufkan Y,S,O,A dan Huruf N yang tak pernah
kutemukan ketika aku membelinya. Entah kemana sampai sekarang masih belum ada
yang bisa mendapatkannya. Apa N itu sudah hilang ? entahlah. Hanya pembuat
produksi permen itu yang tahu dan para budak-budak berbayar yang tahu masalah
dimana N itu berada. Atau mungkin sudah dicuri oleh budak-budak yang NAKAL.
Yang jelas aku sungguh terlalu muda untuk mengetahui itu semua sampai aku
bertemu pada lingkungan para pencari masa depan sekarang ini. Kampus yang sesak
oleh ratusan bahkan ribuan kepala dengan peluh-peluh harapan yang menanti masa
depan yang katanya pasti terang. Apakah itu fakta ? atau hanya mitos ?
Ya,
memang teman-temanku semua mengatakan masa perkuliahan adalah masa depan yang
cerah. Ilmu bisa diperdalam disini, teman menyebar dari seluruh antero jagad,
dan jodohpun bisa dicari disini. Ya jodoh adalah sesuatu bahasa asing yang
terdengar sangat krusial jika di bicarakan ketika kita sudah dewasa. Terkadang
sesekali kita pasti selalu membayangkan: siapa jodoh kita ? dimana kita bisa
menemukannya ?. Aku rasa disinilah tempat yang paling tepat menemukan dan
mencari dimana jodoh kita sesungguhnya. Dikampus. Tempat menemukan masa depan.
Katanya...
Aku
adalah orang yang pandai membuat seni dan hobi hunting foto. Tapi aku sendiri justru masuk kuliah dengan jurusan
yang sangat tidak sesuai dengan cita-citaku, keahlianku, bahkan hobiku sendiri.
Aku selalu dipusingkan dengan angka-angka yang membingungkan. Belajar ilmu
pasti yang jelas hasilnya entah itu didapat dengan cara mudah sekalipun sangat
rumit dan panjang dicari, tapi tetap hanya satu jawabannya. Bertemu dengan
dosen killer yang setiap pagi selalu
membunuh setiap mahasiswanya sehingga membuat semua tegang, khawatir, was-was
dengan mangsa selanjutnya. Teman-teman yang saling berlomba paling pintar.
Lingkungan yang cupu dikelilingi bumbu-bumbu wanita lucu nan cantik. Orang
jujur, pelit, medit, individual, dan murni semua hanya ada disini. Berbeda
dengan fakultas sebelah yang berisi orang-orang kreatif mengolah rasa dan karya
cipta.
Hari
ini aku harus menyelesaikan kewajibanku dikampus. Wajib. Skripsi harus segera ku selesaikan secepat mungkin
atau harus ku putuskan untuk drop out dan menikah. Tidak ada waktu lagi untuk
bermesraan dengan waktu, mau tidak mau sekarang berubah. Aku memang masih muda
tapi semesterku sudah mulai habis masa kadaluarsanya. Mimpiku menjadi sarjana
harus segera terwujudkan demi orang-orang yang sudah berjuang untuk menjadikan
aku bisa berada dikampus sekarang ini. Susu harus dibalas dengan susu. Roti
harus dibayar dengan harga pantas. Angka sembilan adalah bayaran terpantas
untuk melunasi semua utang-utangku kepada mereka.
Aku
melamun sepanjang malam disebuah cafe
dekat kampus yang tidak jauh dari kos. tak terasa lamunanku membuat waktu
berganti dengan cepat. Padahal aku sama sekali belum bergerak dan berganti
untuk mengerjakan skripsiku. Semua masih tergambar dalam angan-angan,
kesungguhan pun masih belum bisa terealisasikan. Jodoh ? apalagi, aku hanya sendiri
sekarang beteman sepi. Kekasih sejatikupun hanya kesunyian. Jam sudah
menunjukan pukul 21.00. sudah saatnya ku beranjak pergi meninggalkan tempat ini
dan berhenti berangan-angan. Mimpi menjadi sarjana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar