Selasa, 23 Juni 2015

Sembilan



Aku adalah mahasiswa semester tua.
Bulan ini aku ulang tahun. Tanggal 21 September tahun ini aku genap berusia 21 tahun. Membuka mata menatap indahnya pesona pagi yang penuh dengan rahasia-rahasia kehidupan dan kejutan di hari ini menjelang hilang. Burung-burung diventilasi jendela berkicau seperti tetangga kos sebelah ketika mas-mas sayur datang setiap pagi. Jam dinding dikamarku terus berdetak bersamaan dengan detak jantungku setiap 0,5 persecond. Memompa semangat untuk menatap keluar jendela. Pertanda aku harus cepat-cepat pergi dan kabur meninggalkan tempat yang membawaku kealam bawah sadar, selama tujuh jam yang membuat sedikit air kental amis keluar dari dalam celanaku. Semalam tidurku nyenyak.
Kampus adalah tempat pencarian jodohku kelak.
Terbilang aku yang paling muda dibanding teman satu angkatanku. Ibuku memang menyekolahkanku terlalu cepat masuk ke SD. Padahal aku tidak bisa membaca dan menulis huruf dengan baik. b ditulis d. C ditulis G. Yang ku tahu hanyalah permen yang berhadiah stiker berhurufkan Y,S,O,A dan Huruf N yang tak pernah kutemukan ketika aku membelinya. Entah kemana sampai sekarang masih belum ada yang bisa mendapatkannya. Apa N itu sudah hilang ? entahlah. Hanya pembuat produksi permen itu yang tahu dan para budak-budak berbayar yang tahu masalah dimana N itu berada. Atau mungkin sudah dicuri oleh budak-budak yang NAKAL. Yang jelas aku sungguh terlalu muda untuk mengetahui itu semua sampai aku bertemu pada lingkungan para pencari masa depan sekarang ini. Kampus yang sesak oleh ratusan bahkan ribuan kepala dengan peluh-peluh harapan yang menanti masa depan yang katanya pasti terang. Apakah itu fakta ? atau hanya mitos ?
Ya, memang teman-temanku semua mengatakan masa perkuliahan adalah masa depan yang cerah. Ilmu bisa diperdalam disini, teman menyebar dari seluruh antero jagad, dan jodohpun bisa dicari disini. Ya jodoh adalah sesuatu bahasa asing yang terdengar sangat krusial jika di bicarakan ketika kita sudah dewasa. Terkadang sesekali kita pasti selalu membayangkan: siapa jodoh kita ? dimana kita bisa menemukannya ?. Aku rasa disinilah tempat yang paling tepat menemukan dan mencari dimana jodoh kita sesungguhnya. Dikampus. Tempat menemukan masa depan. Katanya...
Aku adalah orang yang pandai membuat seni dan hobi hunting foto. Tapi aku sendiri justru masuk kuliah dengan jurusan yang sangat tidak sesuai dengan cita-citaku, keahlianku, bahkan hobiku sendiri. Aku selalu dipusingkan dengan angka-angka yang membingungkan. Belajar ilmu pasti yang jelas hasilnya entah itu didapat dengan cara mudah sekalipun sangat rumit dan panjang dicari, tapi tetap hanya satu jawabannya. Bertemu dengan dosen killer yang setiap pagi selalu membunuh setiap mahasiswanya sehingga membuat semua tegang, khawatir, was-was dengan mangsa selanjutnya. Teman-teman yang saling berlomba paling pintar. Lingkungan yang cupu dikelilingi bumbu-bumbu wanita lucu nan cantik. Orang jujur, pelit, medit, individual, dan murni semua hanya ada disini. Berbeda dengan fakultas sebelah yang berisi orang-orang kreatif mengolah rasa dan karya cipta.
Hari ini aku harus menyelesaikan kewajibanku dikampus. Wajib. Skripsi  harus segera ku selesaikan secepat mungkin atau harus ku putuskan untuk drop out dan menikah. Tidak ada waktu lagi untuk bermesraan dengan waktu, mau tidak mau sekarang berubah. Aku memang masih muda tapi semesterku sudah mulai habis masa kadaluarsanya. Mimpiku menjadi sarjana harus segera terwujudkan demi orang-orang yang sudah berjuang untuk menjadikan aku bisa berada dikampus sekarang ini. Susu harus dibalas dengan susu. Roti harus dibayar dengan harga pantas. Angka sembilan adalah bayaran terpantas untuk melunasi semua utang-utangku kepada mereka.
Aku melamun sepanjang malam disebuah cafe dekat kampus yang tidak jauh dari kos. tak terasa lamunanku membuat waktu berganti dengan cepat. Padahal aku sama sekali belum bergerak dan berganti untuk mengerjakan skripsiku. Semua masih tergambar dalam angan-angan, kesungguhan pun masih belum bisa terealisasikan. Jodoh ? apalagi, aku hanya sendiri sekarang beteman sepi. Kekasih sejatikupun hanya kesunyian. Jam sudah menunjukan pukul 21.00. sudah saatnya ku beranjak pergi meninggalkan tempat ini dan berhenti berangan-angan. Mimpi menjadi sarjana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar