Selasa, 23 Juni 2015

Terbalik karya Tefan Randika Putra



Melangkah perlahan aku ke sebuah jembatan besar yang sepi dipinggiran kota, Semarang, malam ini bulan purnama menjelang jam 21.00. Kunang-kunang di pinggiran jembatan mulai muncul dari sebuah tidur lelapnya sepanjang pagi, mereka menari-nari merayakan malam mereka, trotoar yang banyak berlubang dan rusak ditambah kendaraan lalu-lalang melewati jembatan membuat jalan semakin ramai berdengung meskipun hanya sedikit yang lewat karena jembatan itu sudah mulai sepi di jam yang sudah larut malam. Suara jangkring berbunyi lirih membayangi.

Di balik jembatan sepanjang jalan seperti taman yang dikelilingi lampu malam yang indah, setiap 10 meter kerumunan manusia telanjang sepasang, aku berjalan mendekati sendirian dengan mata sayu seperti habis menangis tiga hari tiga malam, sejenak meninggalkan pemandangan taman yang menguji kesabaran mental. Seketika aku bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Banyak hal yang membuat kita terjatuh pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terbayangkan dan tercatat jika kita dipikirkan dengan penalaran yang kuat mengapa kita harus bahagia terlebih dahulu baru termenung menyesal, seolah hidup ini berujung menyedihkan. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia yang kejam dan penuh dengan teka-teki. Apa sebaiknya mati ?
***
Suara berisik mengganggu pikiranku serta membuncarkan hatiku. Alunan terompet-terompet dan pukulan drum-drum dalam acara festival arak ulangtahun kota. Tiba-tiba serombongan itu melewati depan jalan yang aku singgahi dan duduk di sebuah rumah makan lesehan dipinggir jalan. Aku bersama kekasihku Rudi dan sepasang temanku juga Umi dengan kekasihnya Andi. Kami berempat sedang mengistirahatkan diri sejenak setelah perjalanan jauh kami dari rumah menuju tempat rekreasi liburan kami serta mengunjungi tempat yang ingin aku teliti dikota sebelah.
Rudi memang orang yang paling bisa membuatku tersenyum ceria dan merasakan nyaman dalam pelukannya, setiap waktu yang ku lewati dengannya tak pernah terasa, begitu sebentarnya walaupun aku sudah hampir seharian dengannya dari pagi sampai sore, ditemani terik matahari sampai hujan yang menerpa kami diperjalanan. Semua ini begitu menyenangkan kurasakan menikmati panas dingin cuaca dengannya, karena kita pun juga LDR dipisahkan jarak dan waktu setiap saat, inilah momen satu-satunya untuk mengabadikan kenangan yang begitu indah jauh dari kenangan masalalu yang sudah kubuang jauh-jauh dan kulupakan begitu saja. Dinar ? bagaimana dengan Dinar ?. Ahh entahlah mungkin dia juga sudah melupakannku dan sudah bersama dengan oranglain juga. Ku pikir ucapan dia semalam lewat pesan singkat yang sering aku abaikan mungkin hanyalah bualan dan gombalan dia ketika berbicara sulit untuk move on dan masih mencintaiku untuk terus mengharapkanku.
Dinar memang orang yang sangat aku sayangi melebihi orang yang pernah bersamaku daridulu dan orang yang paling lama berlabuh didalam hatiku tapi dia juga orang yang paling aku benci karena sifatnya yang sangat kekanak-kanakan, pembohong besar, lemah, dan yang jelas sangat menyiksa disaat-saat terakhirku bersamanya. Aku putuskan untuk meninggalkan dia dengan luka di hatinya untuk berlabuh dan kembali kepada orang yang selalu dekat denganku daridulu, orang yang selalu ada disaatku sedang mempunyai masalah dengan Dinar, orang yang selalu mengejar-ngejar aku setelah dahulu pernah bersamaku juga, orang yang pernah buatku tergila-gila olehnya setiap saat dan pernah hampir menyelingkuhi Dinar waktu aku masih dengannya. Berkali-kali memang aku selalu dekat dengan mantanku Rudi ketika aku bersamanya.
Tetapi sekarang aku resmi kembali dengannya dan meninggalkan orang yang benar-benar tulus menyayangiku katanya. Ia kata Dinar, dia mencintai dengan tulus, tapi beberapa kejadian ketika aku resmi kembali dengan Rudi, banyak hal-hal bodoh yang Dinar lakukan padaku dan semua kena imbasnya, segala cara dia luapkan, lakukan dengan sembrono. Aku benar-benar menjadi sangat benci dengan dia, tetapi disisi lain aku merasakan sangat bersalah dengannya karena apa yang aku sudah ucapkan dahulu menjadi kenyataan yang terbalik dan keadaan sekarang. Nyatanya beberapa kejadian yang sudah terjadi, beberapa hal memisahkan aku dan Rudi ujungnya kembali dan sekarang menyatu kembali. Memang itulah cinta, walaupun mengorbankan beberapa perasaan, mengorbankan semuanya yang sudah terjadi, tidak peduli dengan perasaan oranglain, mengabaikan semua yang akan terjadi nantinya, tapi itu semua masa bodo buatku, yang penting semua itu nantinya akan menjadi pilihanku yang terbaik bukan terbalik.
Keputusanku saat ini adalah sebuah keegoisan hatiku yang benar-benar ingin meresmikan dengan orang yang selalu buatku nyaman, memang tak bisa dibandingkan antara Rudi dan Dinar, tetapi setidaknya Rudi lebih dewasa darinya, simple, supel, jauh lebih tampan dan putih juga darpada Dinar yang memang parasnya yang pas-pasan dan hitam. Wajah memang bukan nomor satu untuk satu alasan perasaan yang ku pilih ini. Tapi setidaknya itupun sedikit mendukung alasan kenapa aku harus cepat melupakan dan lebih menjaga perasaan orang yang aku pilih sekarang karena jika dibandingkan kekasihku sekarang jauh lebih ketimbang Dinar dari segala hal dan mampu menjadi tulangpunggung keluargaku kelak yang lebih cerah.
***
Tak bisa dipungkiri saat ini keadaan bagiku masih belum bisa melupakan Dinar walaupun aku sudah memutuskan untuk los kontak dengannya dan mengikuti segala aturan kekasihku yang sekarang demi menghargai perasaannya kepadaku dan menjaga perasaan orang yang sudah aku pilih, dia sudah menjadi milikku sekarang, dia menjaga perasaanku jauh disana dari wanita-wanita yang menggodanya, entah itu benar atau tidak aku hanya bisa mempercayainya saja. Hubungan yang baik adalah sebuah kepercayaan, jika kepercayaan itu sudah ternodai sedikit saja semua sudah sia-sia jika dilanjutkan kembali.
Rudi adalah orang yang dulu pernah meninggalkanku dan membohongiku demi oranglain. Rasa sakit itu memang sudah kumaafkan sekarang dan mencoba menjalani kembali kepercayaan itu. Dibanding dengan Dinar yang daridulu selalu aku kecewakan dan menyakiti dia berkali-kali tetapi dia masih setia denganku dan masih menyintaiku tanpa bisa berpaling dariku. Orang yang paling setia dan paling menyintaiku yang pernah aku kenal, tetapi aku lebih memilih Rudi yang pernah menyakitiku dan memaafkan segala kesalahannya, ketimbang aku harus bertahan dengan orang yang selalu aku sakiti dan buatku tertekan akan keegoisan hatinya yang sangat mengekangku. Namun aku tak pernah bisa memaafkan dirinya dan tak akan pernah bisa kembali dengannya. Entah apa semua ini adil buat semua atau hanya buatku saja yang penting aku sendiri nyaman dan senang untuk melanjutkan hari-hariku.
Dinar masih selalu menghubungiku dengan segala caranya mencari perhatianku agar aku bisa selalu menemaninya, tetapi aku sendiri sudah memutuskan untuk melupakannya, terus berhubungan dengannya tidak akan bisa membuatku melupakannya, Rudi pun selalu menyuruhku untuk bisa menjaga perasaannya. Ia memintaku juga untuk menghapus pertemannya dan menjauh darinya sampai benar-benar Dinar bisa lepas dari hidupku dan menjauh dari hubunganku sekarang agar tidak menjadi benalu dan merusak hubunganku sekarang. Walaupun hati ini tak bisa dipungkiri yang terkadang merindukannya.
Apa yang Rudi suruh sekarang aku turuti. Aku seperti selir raja yang mengikuti segala permintaan sang raja dan hanya demi sang raja bahagia serta tidak melukai perasaannya, walaupun rakyat harus menderita dan menanggung semuanya yang raja perintahkan. Aku bagaikan wanita yang terhipnosis oleh rayuan dan permohonan sang Arjuna sehingga aku menaati segala perintahnya demi memberikan yang terbaik untuknya. Semua yang ada pada otakku, pikiranku, dan perasaanku seutuhnya adalah dia. Sampai-sampai aku melupakan tentang etika hidup untuk berdampingan dan tidak memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menyayangiku dan ada buatku saat aku membutuhkannya. Lupa tentang merasakan apa yang orang rasakan dengan semua keputusanku. Ahh semua sudah tak aku hiraukan yang penting aku menikmati ini dan bisa menjaga perasaan kekasihku, belajar dari pengalaman yang suda-sudah. Aku ingin lebih bisa menjaganya walaupun ini mungkin tidak adil bagi satu pihak. Tapi ini keputusan yang harus kita terima sama-sama dan setidaknya bisa saling menerima.
***
Dinginnya malam menyergap malam ini dengan penuh penghayatan menuju relung hati yang sedang buncar memikirkan hidup yang tak adil ini. Dinar sudah berputus asa dengan hidupnya. Lelaki yang terlihat lemah dan tak tegar ini mulai menyesali keadaan. Sambil mengumpat Tuhan, menyumpahi hidup yang penuh dengan ketidakadilan. Ingin bunuh diri. Semua tidak akan menyelesaikan masalah. Ingin kembali ke kehidupan. Buat apa? Semuanya pahit jika terus jalani. Angin semakin kencang menggetarkan hati untuk mengakhiri semuanya sekarang. Tak usah kembali ke ruangan serba putih itu ditemani wanita-wanita cantik yang juga memakai pakaian putih dan semua serba putih tidak seperti hatiku yang sudah menghitam semua. Tak ada gunanya juga kembali, semua itu hanya menunda kematiannya.
Ditempat ini setidaknya bisa membuatnya tenang dan menikmati kenangan-kenangan indah masalalunya. Meluapkan segala keluh-kesah yang sudah terjadi dan harus kunikmati mau tak mau walaupun ini pahit kurasakan. Udara yang dingin tapi tak terasa dingin karena badannya yang sangat panas. Badan sudah mulai gemetar dan kaku, lidah sudah kelu untuk mengucap kata-kata cinta. Menikmati saat-saat terakhir di malam ini sangatlah membahagiakan baginya. Hari ini adalah hari cuci darah Dinar kembali untuk menyambung hidup dan menunda kematian untuk sejenak. Ia memang masih mempunyai uang untuk melakukan itu, tetapi ia benar-benar sudah lelah untuk diinfus kembali. Bosan dengan perawat itu-itu saja. Bosan dengan dokter yang selalu bilang aku pasti sembuh. Selalu berkata semangat, banyak orang yang menunggumu dan menyayangimu diluar sana. Itu semua hanya kata-kata bulshit dokter untuk memotivasiku saja.
Tuhan memang sudah menakdirkan Dinar untuk sakit, tapi Tuhan juga yang tahu kapan ia harus menyudahi menghirup nafas didunia ini dan hanya Tuhan yang berhak menghabiskan masa aktif nyawanya. Kini tinggal Dinar rasakan semua itu dan mencoba memasrahkan seluruh hidup Dinar kepada Tuhan.
Badannya sudah mulai melemah dan malam ini juga ia menghirup nafas terakhirnya di sebuah taman dengan sungai yang mengalir disampingnya. Sendirian. Tanpa ada yang mengetahuinya. Ia meninggalkan dunia ini dengan penuh kedamaian dan ketenangan. Hanya temanku yang mengetahui semua itu yang tak sengaja melewati sungai itu dibawah rintik hujan yang mulai mengguyur. Badannya sudah ditemukan kaku. Menemukannya terbaring dengan damai menggenggam sebuah kain kecil berwarna kuning. Warna yang pas untuk penanda kematiannya dan burung-burung mengitari jasadnya diatas.
***
Cuaca di kota ini mulai terasa dingin dan menyergap rangsanganku untuk semakin hangat dengan Rudi. Aku mulai memeluknya dan menggandeng tangannya dengan erat, terasa hangat dan menentramkan. Tak ingin kulepaskan genggamannya dan semakin kurapatkan badanku ke tubuhnya, melelehkan segala rasa dan melupakan pikiran masalaluku yang sedari tadi buatku melamun.
“De kita pindah yuk ? udah begitu reda hujannya, udah mulai sore juga.”
Rudi mengajakku pergi meninggalkan posisi yang sudah begitu nyaman berada dipelukkannya dan nyaman bersandar dibahunya. Umi dan Andi pun mengajak untuk pulang. Akhirnya kamipun menuju tempat rekreasi terdekat hanya sekadar mengabadikan momen kenangan kita berdua. Setelah asyik bersenang-senang kamipun memutuskan untuk pulang dan melepaskan rindu ini kembali untuk berpisah dan kembali berjauhan terpisah oleh jarak dan waktu. Sebelum meninggalkan semuanya aku memeluk erat tubuh Rudi dengan erat dan semua pikiran buyar dan melupakan segalanya. Akupun mulai menikmati pelukan erat yang dia balas kepadaku. Andi dan Umi sudah meninggalkan kami berdua dan pulang menuju rumah, sedangkan kami masih menuai rindu dan tak ingin melepaskan semuanya sampai semua terlewatkan. Semua itu akhirnya terjadi kembali. Dengan seseorang yang berbeda lagi.
Badanku basah kuyup sampai dirumah, pengorbanan yang dia lakukan hari ini untuk meluangkan waktunya untukku sudah begitu besar dan cukup buatku bahagia dan semakin menyintai dia. Hari ini adalah kenangan terindah yang aku nikmati bersamanya, walaupun lelah tapi semua itu sungguh sangat berkesan dan terbayarkan. Tetapi ada satu yang buatku kembali teringat dan menyesal. Kenapa aku harus kembali terbuai oleh seorang lelaki dan kembali melakukannya, bahkan melebihi kenikmatan dengan sebelumnya. Aku mulai takut dengan apa yang akan terjadi nantinya, semoga tidak terjadi apa-apa dan baik-baik saja. Hatiku mulai gelisah dan mulai tak tenang.
Aku kembali teringat dengan Dinar, tiba-tiba Dinar lagi. Ada apa dengan Dinar, bagaimana kabarnya?, apa Dinar tahu tentang semuanya. Dengan perasaan yang mulai gelisah dan tak tenang aku mulai menghubunginya. Tetapi tak pernah bisa dihubungi, sinyal yang sangat sulit ku dapatkan. Aku mulai cemas dan gelisah, bukan karena mengkhawatirkannya dan memikirkannya, melainkan mengingat ucapan-ucapan terakhirnya yang ia katakan padaku dan aku abaikan. Aku takut dengan karma, takut dengan apa yang telah aku sakiti kepada seseorang.
Akhirnya semua yang aku khawatirkan terjadi juga, satu bulan kemudian setelah pertemuanku dengan Rudi yang terakhir di kota itu. Hubungan kami mulai renggang dan ia mulai terasa jauh dari hidupku. Entah itu karena kesibukan kita masing-masing ataukah memang ia sudah mulai menjauh dariku. Dan disaat hubunganku mulai renggang aku mendengar kabar dari temanku bahwa Dinar telah tiada, dia sudah dikuburkan satu bulan yang lalu.
Aku sangat menyesal dan menyadari semua kesalahanku atas semua keputusanku yang terbilang terlalu singkat untuk berpikir tanpa pernah mendengarkan nasehat teman-temanku. Tapi semuanya sudah terjadi dan aku hanya bisa menyesalinya dan menangis dibawah kekecewaan yang sangat mendalam. Hampir aku ingin melukai diriku sendiri untuk melampiaskan semua penyesalanku yang aku buat berulangkali. Dalam hati aku ingin berkata “Maafkan aku, aku tlah mengecewakanmu dan tak mendengarkan nasehatmu”.
Dunia ini tak pernah kita ketahui jika kita melihat hanya dari satu sisi, mungkin kita merasakan bahagia dengan pilihan kita, tapi kita tak menyadari dengan tindakan dan pilihan kita membuat orang menderita. Satu kesenangan seseorang perlu mengorbankan seseorang untuk menderita. Aku membuat bahagia orang yang pernah menyakitiku dan akhirnya kembali menyakitiku setelah apa yang sudah kita lakukan sejauh ini untuknya, tetapi aku menyakiti dan meninggalkan orang yang sudah banyak berkorban untukku, mati-matian mempertahankan kesetiaannya kepadaku dan akhirnya meninggalkanku juga selamanya.
***
Kemurnian malam ini disebuah sungai dekat jembatan pukul 21.30 sudah mulai menampakkan rembulan yang mulai tenggelam diwajahku. Memupuskan segala kesenangan dan kemurnian hati. Di tempat ini juga satu bulan sebelumnya Dinar menghembuskan nafasnya yang terakhir kalinya karena sakitnya yang enggan untuk cuci darah. Teringat dengan kata temanku yang menemukan Dinar terbaring disini. Ia meninggalkan sebuah pesan singkat dalam kertas yang dibentuk hati tergenggam ditangannya sebelum ia membuangnya. Bertuliskan :
“Semua yang terjadi memang takkan pernah bisa kembali, kesedihan, kesenangan, keresahan, dan kenikmatan adalah cara kita untuk mengekspresikan rasa untuk mengikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi. Angin yang takkan pernah kembali sudah pergi meninggalkan muasanya menuju tempat yang baru. Kembali ke asal sebuah kemurnian untuk mengolah angin kembali. Ketika hujan dan awan saling melupakan, takkan pernah terjadi lagi air yang meneteskan jatuh ke bumi. Namun kita perlu memohon untuk kembali rujuk, agar bumi yang kering kembali basah dengan hujan yang indah. Jangan menyesali apa yang sudah dilupakan, tetapi jalani lah dengan mencoba memperbaiki apa yang sudah dilupakan. Percayalah semua itu akan kembali indah. Teruslah berjuang dan lanjutkan mimpimu dengan sisa-sisa semangatmu atas pilihan hidup yang sudah dipilih. (: .“
Malam kembali malam, pagi pun menunggu pagi. Aku melangkah kembali keluar dari tempat ini dengan tetesan airmata kelegaan dan segera melupakan semua. Maafkan aku. Bahagialah disana, 

23 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar