Melangkah
perlahan aku ke sebuah jembatan besar yang sepi dipinggiran kota, Semarang, malam
ini bulan purnama menjelang jam 21.00. Kunang-kunang di pinggiran jembatan
mulai muncul dari sebuah tidur lelapnya sepanjang pagi, mereka menari-nari
merayakan malam mereka, trotoar yang banyak berlubang dan rusak ditambah
kendaraan lalu-lalang melewati jembatan membuat jalan semakin ramai berdengung
meskipun hanya sedikit yang lewat karena jembatan itu sudah mulai sepi di jam
yang sudah larut malam. Suara jangkring berbunyi lirih membayangi.
Di balik jembatan sepanjang jalan seperti taman yang dikelilingi lampu malam yang indah, setiap 10 meter kerumunan manusia telanjang sepasang, aku berjalan mendekati sendirian dengan mata sayu seperti habis menangis tiga hari tiga malam, sejenak meninggalkan pemandangan taman yang menguji kesabaran mental. Seketika aku bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Banyak hal yang membuat kita terjatuh pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terbayangkan dan tercatat jika kita dipikirkan dengan penalaran yang kuat mengapa kita harus bahagia terlebih dahulu baru termenung menyesal, seolah hidup ini berujung menyedihkan. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia yang kejam dan penuh dengan teka-teki. Apa sebaiknya mati ?
Di balik jembatan sepanjang jalan seperti taman yang dikelilingi lampu malam yang indah, setiap 10 meter kerumunan manusia telanjang sepasang, aku berjalan mendekati sendirian dengan mata sayu seperti habis menangis tiga hari tiga malam, sejenak meninggalkan pemandangan taman yang menguji kesabaran mental. Seketika aku bersua dengan sebuah rasa tak bernama. Kemurnian, barangkali deskripsi paling mendekati. Banyak hal yang membuat kita terjatuh pada hidup. Berkali-kali. Tak akan terbayangkan dan tercatat jika kita dipikirkan dengan penalaran yang kuat mengapa kita harus bahagia terlebih dahulu baru termenung menyesal, seolah hidup ini berujung menyedihkan. Sesuatu dalam mortalitas ini mengundang kita untuk kembali, dan kembali lagi. Sesuatu dalam dunia yang kejam dan penuh dengan teka-teki. Apa sebaiknya mati ?
***
Suara
berisik mengganggu pikiranku serta membuncarkan hatiku. Alunan
terompet-terompet dan pukulan drum-drum dalam acara festival arak ulangtahun
kota. Tiba-tiba serombongan itu melewati depan jalan yang aku singgahi dan
duduk di sebuah rumah makan lesehan dipinggir jalan. Aku bersama kekasihku Rudi
dan sepasang temanku juga Umi dengan kekasihnya Andi. Kami berempat sedang
mengistirahatkan diri sejenak setelah perjalanan jauh kami dari rumah menuju
tempat rekreasi liburan kami serta mengunjungi tempat yang ingin aku teliti
dikota sebelah.
Rudi
memang orang yang paling bisa membuatku tersenyum ceria dan merasakan nyaman
dalam pelukannya, setiap waktu yang ku lewati dengannya tak pernah terasa,
begitu sebentarnya walaupun aku sudah hampir seharian dengannya dari pagi
sampai sore, ditemani terik matahari sampai hujan yang menerpa kami
diperjalanan. Semua ini begitu menyenangkan kurasakan menikmati panas dingin
cuaca dengannya, karena kita pun juga LDR dipisahkan jarak dan waktu setiap
saat, inilah momen satu-satunya untuk mengabadikan kenangan yang begitu indah
jauh dari kenangan masalalu yang sudah kubuang jauh-jauh dan kulupakan begitu
saja. Dinar ? bagaimana dengan Dinar ?. Ahh entahlah mungkin dia juga sudah
melupakannku dan sudah bersama dengan oranglain juga. Ku pikir ucapan dia
semalam lewat pesan singkat yang sering aku abaikan mungkin hanyalah bualan dan
gombalan dia ketika berbicara sulit untuk move
on dan masih mencintaiku untuk terus mengharapkanku.
Dinar
memang orang yang sangat aku sayangi melebihi orang yang pernah bersamaku
daridulu dan orang yang paling lama berlabuh didalam hatiku tapi dia juga orang
yang paling aku benci karena sifatnya yang sangat kekanak-kanakan, pembohong
besar, lemah, dan yang jelas sangat menyiksa disaat-saat terakhirku bersamanya.
Aku putuskan untuk meninggalkan dia dengan luka di hatinya untuk berlabuh dan
kembali kepada orang yang selalu dekat denganku daridulu, orang yang selalu ada
disaatku sedang mempunyai masalah dengan Dinar, orang yang selalu
mengejar-ngejar aku setelah dahulu pernah bersamaku juga, orang yang pernah
buatku tergila-gila olehnya setiap saat dan pernah hampir menyelingkuhi Dinar
waktu aku masih dengannya. Berkali-kali memang aku selalu dekat dengan mantanku
Rudi ketika aku bersamanya.
Tetapi
sekarang aku resmi kembali dengannya dan meninggalkan orang yang benar-benar
tulus menyayangiku katanya. Ia kata Dinar, dia mencintai dengan tulus, tapi
beberapa kejadian ketika aku resmi kembali dengan Rudi, banyak hal-hal bodoh
yang Dinar lakukan padaku dan semua kena imbasnya, segala cara dia luapkan,
lakukan dengan sembrono. Aku benar-benar menjadi sangat benci dengan dia,
tetapi disisi lain aku merasakan sangat bersalah dengannya karena apa yang aku
sudah ucapkan dahulu menjadi kenyataan yang terbalik dan keadaan sekarang.
Nyatanya beberapa kejadian yang sudah terjadi, beberapa hal memisahkan aku dan
Rudi ujungnya kembali dan sekarang menyatu kembali. Memang itulah cinta,
walaupun mengorbankan beberapa perasaan, mengorbankan semuanya yang sudah
terjadi, tidak peduli dengan perasaan oranglain, mengabaikan semua yang akan
terjadi nantinya, tapi itu semua masa bodo buatku, yang penting semua itu
nantinya akan menjadi pilihanku yang terbaik bukan terbalik.
Keputusanku
saat ini adalah sebuah keegoisan hatiku yang benar-benar ingin meresmikan
dengan orang yang selalu buatku nyaman, memang tak bisa dibandingkan antara
Rudi dan Dinar, tetapi setidaknya Rudi lebih dewasa darinya, simple, supel,
jauh lebih tampan dan putih juga darpada Dinar yang memang parasnya yang
pas-pasan dan hitam. Wajah memang bukan nomor satu untuk satu alasan perasaan
yang ku pilih ini. Tapi setidaknya itupun sedikit mendukung alasan kenapa aku
harus cepat melupakan dan lebih menjaga perasaan orang yang aku pilih sekarang
karena jika dibandingkan kekasihku sekarang jauh lebih ketimbang Dinar dari
segala hal dan mampu menjadi tulangpunggung keluargaku kelak yang lebih cerah.
***
Tak
bisa dipungkiri saat ini keadaan bagiku masih belum bisa melupakan Dinar
walaupun aku sudah memutuskan untuk los kontak dengannya dan mengikuti segala
aturan kekasihku yang sekarang demi menghargai perasaannya kepadaku dan menjaga
perasaan orang yang sudah aku pilih, dia sudah menjadi milikku sekarang, dia
menjaga perasaanku jauh disana dari wanita-wanita yang menggodanya, entah itu
benar atau tidak aku hanya bisa mempercayainya saja. Hubungan yang baik adalah
sebuah kepercayaan, jika kepercayaan itu sudah ternodai sedikit saja semua
sudah sia-sia jika dilanjutkan kembali.
Rudi
adalah orang yang dulu pernah meninggalkanku dan membohongiku demi oranglain.
Rasa sakit itu memang sudah kumaafkan sekarang dan mencoba menjalani kembali
kepercayaan itu. Dibanding dengan Dinar yang daridulu selalu aku kecewakan dan
menyakiti dia berkali-kali tetapi dia masih setia denganku dan masih
menyintaiku tanpa bisa berpaling dariku. Orang yang paling setia dan paling
menyintaiku yang pernah aku kenal, tetapi aku lebih memilih Rudi yang pernah
menyakitiku dan memaafkan segala kesalahannya, ketimbang aku harus bertahan
dengan orang yang selalu aku sakiti dan buatku tertekan akan keegoisan hatinya
yang sangat mengekangku. Namun aku tak pernah bisa memaafkan dirinya dan tak
akan pernah bisa kembali dengannya. Entah apa semua ini adil buat semua atau
hanya buatku saja yang penting aku sendiri nyaman dan senang untuk melanjutkan
hari-hariku.
Dinar
masih selalu menghubungiku dengan segala caranya mencari perhatianku agar aku
bisa selalu menemaninya, tetapi aku sendiri sudah memutuskan untuk
melupakannya, terus berhubungan dengannya tidak akan bisa membuatku
melupakannya, Rudi pun selalu menyuruhku untuk bisa menjaga perasaannya. Ia
memintaku juga untuk menghapus pertemannya dan menjauh darinya sampai
benar-benar Dinar bisa lepas dari hidupku dan menjauh dari hubunganku sekarang
agar tidak menjadi benalu dan merusak hubunganku sekarang. Walaupun hati ini
tak bisa dipungkiri yang terkadang merindukannya.
Apa
yang Rudi suruh sekarang aku turuti. Aku seperti selir raja yang mengikuti
segala permintaan sang raja dan hanya demi sang raja bahagia serta tidak
melukai perasaannya, walaupun rakyat harus menderita dan menanggung semuanya
yang raja perintahkan. Aku bagaikan wanita yang terhipnosis oleh rayuan dan
permohonan sang Arjuna sehingga aku menaati segala perintahnya demi memberikan
yang terbaik untuknya. Semua yang ada pada otakku, pikiranku, dan perasaanku
seutuhnya adalah dia. Sampai-sampai aku melupakan tentang etika hidup untuk
berdampingan dan tidak memutuskan hubungan dengan orang-orang yang menyayangiku
dan ada buatku saat aku membutuhkannya. Lupa tentang merasakan apa yang orang
rasakan dengan semua keputusanku. Ahh semua sudah tak aku hiraukan yang penting
aku menikmati ini dan bisa menjaga perasaan kekasihku, belajar dari pengalaman
yang suda-sudah. Aku ingin lebih bisa menjaganya walaupun ini mungkin tidak
adil bagi satu pihak. Tapi ini keputusan yang harus kita terima sama-sama dan
setidaknya bisa saling menerima.
***
Dinginnya
malam menyergap malam ini dengan penuh penghayatan menuju relung hati yang
sedang buncar memikirkan hidup yang tak adil ini. Dinar sudah berputus asa
dengan hidupnya. Lelaki yang terlihat lemah dan tak tegar ini mulai menyesali
keadaan. Sambil mengumpat Tuhan, menyumpahi hidup yang penuh dengan
ketidakadilan. Ingin bunuh diri. Semua tidak akan menyelesaikan masalah. Ingin kembali
ke kehidupan. Buat apa? Semuanya pahit jika terus jalani. Angin semakin kencang
menggetarkan hati untuk mengakhiri semuanya sekarang. Tak usah kembali ke
ruangan serba putih itu ditemani wanita-wanita cantik yang juga memakai pakaian
putih dan semua serba putih tidak seperti hatiku yang sudah menghitam semua.
Tak ada gunanya juga kembali, semua itu hanya menunda kematiannya.
Ditempat
ini setidaknya bisa membuatnya tenang dan menikmati kenangan-kenangan indah
masalalunya. Meluapkan segala keluh-kesah yang sudah terjadi dan harus kunikmati
mau tak mau walaupun ini pahit kurasakan. Udara yang dingin tapi tak terasa
dingin karena badannya yang sangat panas. Badan sudah mulai gemetar dan kaku,
lidah sudah kelu untuk mengucap kata-kata cinta. Menikmati saat-saat terakhir
di malam ini sangatlah membahagiakan baginya. Hari ini adalah hari cuci darah
Dinar kembali untuk menyambung hidup dan menunda kematian untuk sejenak. Ia
memang masih mempunyai uang untuk melakukan itu, tetapi ia benar-benar sudah
lelah untuk diinfus kembali. Bosan dengan perawat itu-itu saja. Bosan dengan
dokter yang selalu bilang aku pasti sembuh. Selalu berkata semangat, banyak
orang yang menunggumu dan menyayangimu diluar sana. Itu semua hanya kata-kata
bulshit dokter untuk memotivasiku saja.
Tuhan
memang sudah menakdirkan Dinar untuk sakit, tapi Tuhan juga yang tahu kapan ia
harus menyudahi menghirup nafas didunia ini dan hanya Tuhan yang berhak
menghabiskan masa aktif nyawanya. Kini tinggal Dinar rasakan semua itu dan mencoba
memasrahkan seluruh hidup Dinar kepada Tuhan.
Badannya
sudah mulai melemah dan malam ini juga ia menghirup nafas terakhirnya di sebuah
taman dengan sungai yang mengalir disampingnya. Sendirian. Tanpa ada yang
mengetahuinya. Ia meninggalkan dunia ini dengan penuh kedamaian dan ketenangan.
Hanya temanku yang mengetahui semua itu yang tak sengaja melewati sungai itu
dibawah rintik hujan yang mulai mengguyur. Badannya sudah ditemukan kaku.
Menemukannya terbaring dengan damai menggenggam sebuah kain kecil berwarna
kuning. Warna yang pas untuk penanda kematiannya dan burung-burung mengitari
jasadnya diatas.
***
Cuaca
di kota ini mulai terasa dingin dan menyergap rangsanganku untuk semakin hangat
dengan Rudi. Aku mulai memeluknya dan menggandeng tangannya dengan erat, terasa
hangat dan menentramkan. Tak ingin kulepaskan genggamannya dan semakin
kurapatkan badanku ke tubuhnya, melelehkan segala rasa dan melupakan pikiran
masalaluku yang sedari tadi buatku melamun.
“De
kita pindah yuk ? udah begitu reda hujannya, udah mulai sore juga.”
Rudi
mengajakku pergi meninggalkan posisi yang sudah begitu nyaman berada
dipelukkannya dan nyaman bersandar dibahunya. Umi dan Andi pun mengajak untuk
pulang. Akhirnya kamipun menuju tempat rekreasi terdekat hanya sekadar
mengabadikan momen kenangan kita berdua. Setelah asyik bersenang-senang kamipun
memutuskan untuk pulang dan melepaskan rindu ini kembali untuk berpisah dan
kembali berjauhan terpisah oleh jarak dan waktu. Sebelum meninggalkan semuanya
aku memeluk erat tubuh Rudi dengan erat dan semua pikiran buyar dan melupakan
segalanya. Akupun mulai menikmati pelukan erat yang dia balas kepadaku. Andi
dan Umi sudah meninggalkan kami berdua dan pulang menuju rumah, sedangkan kami
masih menuai rindu dan tak ingin melepaskan semuanya sampai semua terlewatkan.
Semua itu akhirnya terjadi kembali. Dengan seseorang yang berbeda lagi.
Badanku
basah kuyup sampai dirumah, pengorbanan yang dia lakukan hari ini untuk
meluangkan waktunya untukku sudah begitu besar dan cukup buatku bahagia dan
semakin menyintai dia. Hari ini adalah kenangan terindah yang aku nikmati
bersamanya, walaupun lelah tapi semua itu sungguh sangat berkesan dan
terbayarkan. Tetapi ada satu yang buatku kembali teringat dan menyesal. Kenapa
aku harus kembali terbuai oleh seorang lelaki dan kembali melakukannya, bahkan
melebihi kenikmatan dengan sebelumnya. Aku mulai takut dengan apa yang akan
terjadi nantinya, semoga tidak terjadi apa-apa dan baik-baik saja. Hatiku mulai
gelisah dan mulai tak tenang.
Aku
kembali teringat dengan Dinar, tiba-tiba Dinar lagi. Ada apa dengan Dinar,
bagaimana kabarnya?, apa Dinar tahu tentang semuanya. Dengan perasaan yang
mulai gelisah dan tak tenang aku mulai menghubunginya. Tetapi tak pernah bisa
dihubungi, sinyal yang sangat sulit ku dapatkan. Aku mulai cemas dan gelisah,
bukan karena mengkhawatirkannya dan memikirkannya, melainkan mengingat
ucapan-ucapan terakhirnya yang ia katakan padaku dan aku abaikan. Aku takut
dengan karma, takut dengan apa yang telah aku sakiti kepada seseorang.
Akhirnya
semua yang aku khawatirkan terjadi juga, satu bulan kemudian setelah
pertemuanku dengan Rudi yang terakhir di kota itu. Hubungan kami mulai renggang
dan ia mulai terasa jauh dari hidupku. Entah itu karena kesibukan kita
masing-masing ataukah memang ia sudah mulai menjauh dariku. Dan disaat
hubunganku mulai renggang aku mendengar kabar dari temanku bahwa Dinar telah
tiada, dia sudah dikuburkan satu bulan yang lalu.
Aku
sangat menyesal dan menyadari semua kesalahanku atas semua keputusanku yang
terbilang terlalu singkat untuk berpikir tanpa pernah mendengarkan nasehat
teman-temanku. Tapi semuanya sudah terjadi dan aku hanya bisa menyesalinya dan
menangis dibawah kekecewaan yang sangat mendalam. Hampir aku ingin melukai
diriku sendiri untuk melampiaskan semua penyesalanku yang aku buat
berulangkali. Dalam hati aku ingin berkata “Maafkan aku, aku tlah
mengecewakanmu dan tak mendengarkan nasehatmu”.
Dunia
ini tak pernah kita ketahui jika kita melihat hanya dari satu sisi, mungkin
kita merasakan bahagia dengan pilihan kita, tapi kita tak menyadari dengan
tindakan dan pilihan kita membuat orang menderita. Satu kesenangan seseorang
perlu mengorbankan seseorang untuk menderita. Aku membuat bahagia orang yang
pernah menyakitiku dan akhirnya kembali menyakitiku setelah apa yang sudah kita
lakukan sejauh ini untuknya, tetapi aku menyakiti dan meninggalkan orang yang
sudah banyak berkorban untukku, mati-matian mempertahankan kesetiaannya
kepadaku dan akhirnya meninggalkanku juga selamanya.
***
Kemurnian
malam ini disebuah sungai dekat jembatan pukul 21.30 sudah mulai menampakkan rembulan
yang mulai tenggelam diwajahku. Memupuskan segala kesenangan dan kemurnian
hati. Di tempat ini juga satu bulan sebelumnya Dinar menghembuskan nafasnya
yang terakhir kalinya karena sakitnya yang enggan untuk cuci darah. Teringat
dengan kata temanku yang menemukan Dinar terbaring disini. Ia meninggalkan
sebuah pesan singkat dalam kertas yang dibentuk hati tergenggam ditangannya
sebelum ia membuangnya. Bertuliskan :
“Semua
yang terjadi memang takkan pernah bisa kembali, kesedihan, kesenangan,
keresahan, dan kenikmatan adalah cara kita untuk mengekspresikan rasa untuk
mengikhlaskan sesuatu yang sudah terjadi. Angin yang takkan pernah kembali
sudah pergi meninggalkan muasanya menuju tempat yang baru. Kembali ke asal sebuah
kemurnian untuk mengolah angin kembali. Ketika hujan dan awan saling melupakan,
takkan pernah terjadi lagi air yang meneteskan jatuh ke bumi. Namun kita perlu
memohon untuk kembali rujuk, agar bumi yang kering kembali basah dengan hujan
yang indah. Jangan menyesali apa yang sudah dilupakan, tetapi jalani lah dengan
mencoba memperbaiki apa yang sudah dilupakan. Percayalah semua itu akan kembali
indah. Teruslah berjuang dan lanjutkan mimpimu dengan sisa-sisa semangatmu atas
pilihan hidup yang sudah dipilih. (: .“
Malam
kembali malam, pagi pun menunggu pagi. Aku melangkah kembali keluar dari tempat
ini dengan tetesan airmata kelegaan dan segera melupakan semua. Maafkan aku.
Bahagialah disana,
23 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar